Ajak si Kecil Mencintai Lingkungan Sejak Dini

Secara spiritual, mencintai dan peduli lingkungan itu termasuk suara hati. Maksudnya bagaimana? Suara hati itu adalah dorongan positif yang ada di batin semua manusia. Jadi, pada hakekatnya, tidak ada manusia yang mampu untuk cuek / tidak peduli terhadap lingkungannya.

Pada dasarnya peduli bukan soal tahu atau tidak tahu. Peduli itu dasarnya adalah rasa tanggung jawab. Tanggung jawab itulah yang perlu ditanamkan sejak dini.

Kita ingat bahwa belajar di waktu kecil itu sama seperti orang mengukir di atas batu. Sedangkan belajar di waktu sudah besar itu ibaratnya seperti orang menulis di atas air. Nilai-nilai yang ditanamkan dari sejak kecil itu disebutnya sebagai trait: bawaan yang melekat pada sifat-sifat seseorang dan susah diubah.

Terkait dengan bahasan kita ini, lalu bentuknya seperti apa? Kita perlu sadar bahwa semua anak itu memiliki dua lingkungan. Pertama, lingkungan yang wujudnya manusia. Dan kedua, lingkungan yang bukan manusia: alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan seterusnya. Keduanya ini bisa ditanamkan melalui praktek-praktek kecil yang berbasiskan harian.

Yang paling dekat misalnya adalah mencintai keluarga, baik yang serumah dan yang tidak. Prakteknya bisa dalam bentuk peduli dalam soal makanan dengan kakek, nenek, atau anggota keluarga lain. Bisa juga dalam soal toleransi menonton tayangan tivi kesukaan. Ini yang serumah. Yang tidak serumah bisa dipraktekkan dalam bentuk saling mengunjungi. Jadi, sesibuk apapun kita, akan lebih baik kalau kita menyediakan waktu untuk mengunjungi atau mengundang keluarga yang tidak serumah. Anak-anak tidak cukup dikasih tahu bahwa si A itu keluarga kita. Karena yang dibutuhkan mereka adalah “experiencing” (mengalami).

Yang tak kalah pentingnya adalah menanamkan rasa peduli pada orang yang bukan keluarga namun tinggal satu rumah, misalnya kepada pembantu rumah tangga, supir dll. Prakteknya bisa dalam bentuk mengajari perlakuan yang bagus kepada mereka.

Sesuai perkembangan si anak, kita pun perlu menanamkan peduli dan cinta pada orang-orang yang bukan keluarga dan yang bukan serumah, misalnya saja pada tetangga. Tetangga ini bisa dibagi menjadi dua, yaitu: a) tetangga fisik atau orang yang rumahnya dekat kita, dan b) tetangga non-fisik: orang yang berbeda agama, berbeda suku, berbeda status sosial, dan seterusnya.

Adapun untuk kepedulian pada lingkungan yang bukan manusia itu bisa diajarkan dari mulai yang kecil dulu. Misalnya saja membuang tisu yang sudah dipakai atau membuang bungkus makanan. Membuang sampah itu tidak dilakukan orang karena tahu, tetapi karena rasa tanggung jawab.

Sebetulnya untuk siapakah cinta dan peduli yang kita tanamkan itu? Apakah itu hanya untuk orang lain? Ternyata tidak. Peduli dan cinta adalah dasar-dasar pengembangan kemampuan sosial (social skill). Kini, semua konsep pengembangan-diri yang kita kenal di tempat kerja tidak bisa dipisahkan dari kemampuan sosial ini. Sebut saja misalnya customer service, EQ, human relationship, leadership, dan lain-lain. Artinya, dengan menanamkan peduli dan cinta berarti kita telah mengembangkan kapasitas penting yang dibutuhkan anak untuk berprestasi di bidangnya nanti.

Share artikel ini:

Artikel Terkait