Akhir Pekan Tanpa Mall, Bisakah Itu Kita Upayakan?

Mall boleh dibilang sudah menjadi gaya hidup sebagian masyarakat kota. Terkadang mall sudah dijadikan tujuan rekreasi keluarga di akhir pekan. Belum tentu ada yang memang perlu dibeli di mall, janya sekedar jalan-jalan atau makan di mall saja.

Dampak dari gaya hidup ini sudah bisa kita saksikan dan rasakan langsung. Yang paling nyata adalah kemacetan. Kemacetan terjadi dimana-mana dalam skala yang sudah tak bisa dipahami seperti biasa. Bayangkan ada orang yang terjebak kemacetan sampai 2 jam hanya untuk melewati jarak 5-10 kilo. Jalan tol pun sudah kita maklumi adanya kemacetan sehingga kita merasa tidak perlu protes lagi.

Mall memang sudah sangat berhasil menawarkan berbagai pemuas kebutuhan, keinginan, bahkan khayalan, terutama pada food, fashion, dan entertainment. Semua mall mendorong-dorong kita untuk mengubah gaya hidup agar lebih hedonis, konsumeris dan modis. Kalau ada mall yang menawarkan kesederhanaan, pengetatan anggaran, pengekangan selera, ini aneh malah.  

Di samping itu, semua mall pasti berada di konstruksi dan lokasi yang tertutup sehingga secara kesegaran udara dan keleluasaan bergerak kurang mendukung, terutama bagi anak-anak. Dengan karakteristik mall-mall yang seperti itu, tentu ada baiknya kalau kita juga memperkenalkan kepada anak-anak dunia lain yang bukan melulu mall.

Kita bisa mencari tujuan yang lebih terbuka sehingga anak-anak bebas bergerak dan menghirup udara segar. Selain itu, kita juga bisa mengajarkan gaya hidup lain untuk mengimbangi apa yang ditawarkan mall yang menggoda menjadi hedonis, modis, dan konsumeris.

Alternatif itu bisa kita pilih dari berbagai opsi-opsi wisata di bawah ini:

§  Wisata Kreativitas dan Ekonomi, misalnya mengunjungi pembuatan barang kerajinan seni atau produk-produk kreatif sehingga dapat menginspirasi anak

§  Wisata Alam, misalnya melihat, menikmati dan mensyukuri keindahan alam yang lokasinya bisa kita pilih dari posisi kita

§  Wisata Bahari, mengunjungi laut sambil belajar beberapa keterampilan kelautan atau minimalnya melihat-lihat di sana

§  Wisata Sejarah, mengunjungi peninggalan sejarah, dari mulai museum, candi, prasasti, dan lain-lain.

§  Wisata Religi, mengunjungi tempat-tempat khusus yang terkait dengan kegiatan keagamaan

§  Wisata Budaya, mengunjungi pusat adat dan budaya masyarakat tertentu untuk memperkenalkan keragaman dan pemahaman

§  Wisata Pendidikan, mengunjungi tempat-tempat yang memperkenalkan temuan-temuan pengetahuan yang jumlahnya sangat banyak di ibu kota atau di kota-kota besar.

Dengan mengunjungi beberapa tempat tujuan di atas akan membuat pikiran kita lebih bisa diarahkan untuk memikirkan kita sendiri, pasangan, dan anak-anak secara lebih mendalam atau lebih reflektif (pemahaman terhadap diri internal).

Tentunya terkadang anak-anak tidak tertarik dengan tujuan jalan-jalan yang semacam ini, apalagi jika mereka sudah begitu terbiasa menghabiskan akhir pekan di mall. Karena itu kita perlu mengemasnya agar tetap menarik bagi anak.

Misalnya, ajak anak-anak mengunjungi museum-museum di lingkungan Kota Tua Jakarta, yang bisa disebut sebagai segitiga emas museum di kota Jakarta. Parkir mobil anda di dekat halte Transjakarta, lalu ajak anak naik Transjakarta menuju Kota Tua. Disana anak-anak bisa berjalan kaki dari satu museum ke museum yang lainnya. Selain mengunjungi museum, anak-anak bisa berlarian dan main sepeda sewaan di lapangan besar di depan Museum Sejarah Jakarta.

Kunjungan ke kebun binatang juga sangat menyenangkan bagi anak. Atau piknik di taman kota. Banyak taman kota yang ‘tersembunyi’ yang sebenarnya bisa jadi lokasi menyenangkan untuk mengajak anak piknik dan anak bisa bebas berlarian. Jika punya banyak waktu, anda bisa mengajak anak ke Kebun Raya Bogor.

Selain itu, sudah banyak pula tujuan wisata yang menyenangkan dan menghibur bagi anak, tetapi juga unik dan mendidik. Misalnya naik kuda langsung di stable dimana anak bisa mendapat berbagai penjelasan mengenai kuda dan bagaimana berkuda dengan aman. Atau berkunjung ke peternakan sapid an tempat-tempat semacam ini.

Ini agak beda dengan sifat mall. Pikiran kita memang sudah diarahkan untuk mengagumi apa yang di sana, mulai dari suara pengunjung, hiruk pikuk pertunjukan, dan lain-lain sehingga sisi refleksivitasnya agak kurang. Terkadang memang bukan anaknya yang tidak suka, tetapi orangtua yang sudah malas membayangkan panas atau letih mengajak anak jalan-jalan ke tempat semacam ini, apalagi yang lokasinya outdoor. Orangtua yang perlu lebih dulu berinisiatif mengajak anak berkenalan dengan tempat-tempat lain yang tentunya lebih bermanfaat dibandingkan sekedar jalan-jalan ke mall.

Share artikel ini:

Artikel Terkait