Anakku Gampang Bosan

Anda bingung menghadapi si kecil yang selalu ingin berganti mainan? Tidak tahan lama ketika mengerjakan sesuatu? Jangan terlalu cepat memberi label bahwa si Kecil bosanan ya bu……

Talkshow yang diadakan Dancow Parenting Centre dan Indonesia Siesta dari Delta Radio 99.1 FM pada hari Kamis, 06 Maret 2008 membahas problem yang sering dihadapi para orang tua, yakni anak yang cenderung mudah bosan.

Dra. Mayke S Tedjasaputra, Msi, seorang psikolog pada acara tersebut mengemukakan bahwa anak balita memang sosok yang mudah bosan. Hal ini adalah hal yang wajar. Dan kita jangan menyamakan bosan pada balita sama dengan bosan pada orang dewasa. Bosan harus dilihat secara negative dan juga secara positive.

Secara negative, artinya anak yang bosan itu berarti anak tidak dapat focus terhadap segala sesuatu, dan anak tersebut cenderung tidak berminat terhadap benda-benda yang ada di sekitarnya. Jadi, anak tidak akan mencari tahu atau tidak meng-explore benda-benda atau mainan baru yang ada di sekelilingnya.

Secara positive, anak cenderung cepat belajar, maksudnya apabila mereka sudah meng-eksplor sesuatu benda, mereka cenderung akan meninggalkan benda tersebut, karena sudah mendapatkan informasi dari benda itu dan apa yang mereka “cari”. Mereka telah mendapatkan informasi dari benda itu. Anak-anak yang bosan, secara positive dapat diasumsikan adalah anak yang cerdas.

Dra. Mayke menyampaikan tanda-tanda si kecil yang mudah bosan:

Bosan dalam arti negative:
Anak tidak tertarik meng-explore atau mencari tahu (penasaran) pada benda baru, bahkan langsung meninggalkannya.

  • Jika hal ini berlanjut, dapat menganggu anak pada saat usia sekolah.
  • Segera konsultasikan kepada ahlinya, misalnya psikolog.
  • Upayakan agar ia mau tertarik, walaupun hanya 1 sampai 5 menit.
  • Waktu untuk konsentrasi pada anak balita relatif masih pendek, akan bertambah seiring dengan pertambahan usia.

“Jadi, apabila balita hanya tahan konsentrasi dalam waktu 5 menit, itu sudah cukup untuk balita,” ujar Dra. Mayke

Bosan dalam arti positive:
Anak tertarik dan berusaha untuk meng-explore pada sesuatu yang baru. Jika anak sudah memperoleh apa yang ingin didapatkan, ia akan meninggalkannya. Anak yang termasuk ke dalam kelompok ini:

  • Harus terus dirangsang dengan cara memberikan mainan atau cara bermain yang baru agar “keingintahuan” mereka dapat terpenuhi.
  • Kurang rangsangan dapat membuat anak cenderung iseng atau jahil, dan anak tidak akan belajar banyak.
  • Orang tua dituntut agar kreatif dan dapat menjadi teman anak dalam bermain dan belajar.

Tips Cara Mengatasi Bila Si Kecil Bosan..
Dra. Mayke kembali menegaskan bahwa balita gampang bosan adalah wajar. “Yang perlu dikhawatirkan bila anak tidak mau mengeksplore benda-benda di sekelilingnya, sehingga kesempatan memperoleh informasi terkendala, dan akan mempengaruhi proses belajarnya,” ujarnya.

Berikut adalah tips agar anak tidak gampang bosan:

  • Ajak anak untuk focus pada apa yang kita tawarkan; bila anak menolak, cari cara agar mau tertarik, walaupun hanya 1 atau 5 menit
  • Variasi jenis permainan/kegiatan
    Jika anak mulai bosan misal kegiatan membaca buku atau mendongeng, ajak anak bermain dengan interaksi fisik
  • Variasi teknik permainan/kegiatan
    Bila anak bosan dengan sesuatu permainan, carilah teknik bermain yang lain, walaupun menggunakan alat permainan yang sama. Misalnya mainan balok yang semula disusun, diganti dengan balok yang berjejer.

Hubungannya Dengan Gizi
Dra. Rienani Mahadi, praktisi dari PT. Nestlé menjelaskan bahwa ada hubungan antara zat gizi dengan perilaku anak yang mudah bosan.

“Anak yang lapar pasti tidak akan tertarik dengan lingkungan atau benda-benda sekelilingnya. Mereka akan cenderung mencari makanan terlebih dahulu untuk "menyelesaikan" rasa laparnya. Atau anak kemungkinan mengalami kekurangan zat besi, sehingga daya tahan mereka akan menurun, dan mereka tidak akan tahan berlama-lama apabila mengerjakan sesuatu atau untuk meng-explore sekelilingnya” demikian papar Rienani.

Zat besi adalah salah satu mineral yang dibutuhkan tubuh. Kekurangan zat besi akan menyebabkan sel darah merah yang mengedarkan oksigen menjadi berkurang, sehingga sel-sel di dalam tubuh akan kekurangan oksigen, dan akan menimbulkan keluhan dan tanda-tanda seperti: lesu, lemah, lekas capai, anak menjadi cengeng, imunitas tubuh kurang sehingga anak mudah sakit, sulit berkonsentrasi dan yang paling buruk adalah akan mempengaruhi proses berpikir dan belajar anak yang berhubungan dengan kognisi anak.Orang tua hendaknya harus waspada apabila si Kecil menampakkan tanda-tanda seperti tersebut diatas. Ditambah lagi, apabila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin (Hb) yang kurang dari normal.

Makanan sumber zat besi antara lain :

  1. Heme (hewani): lebih mudah diserap, dan tahan terhadap pengolahan (misal : daging, hati, kuning telur, susu)
  2. Non heme (tumbuhan): sulit untuk diserap, dan tidak stabil pada saat pengolahan (misalnya : sayuran hijau dan kacang-kacangan)

Cara memasak akan mempengaruhi kadar zat besi dalam makanan. Rienani memberikan tips cara memasak yang benar agar zat besi tidak mudah rusak adalah dengan cara memperhatikan, apabila bahan makanan tersebut adalah sumber tumbuhan (non heme), sebaiknya dimasukkan ± 5 - 7 menit sebelum masakan tersebut matang. Sebaliknya, bila sumber makanan yang bersal dari hewan (heme) dapat dimasukkan sejak awal, karena sifatnya lebih stabil pada saat pengolahan.

Penyerapan zat besipun dipengaruhi oleh zat-zat gizi yang lain, diantaranya vitamin C dan protein. Zat-zat gizi tersebut dapat dipenuhi apabila kita memberikan makanan beragam yang bergizi seimbang atau sesuai kebutuhan kepada si Kecil. Berikanlah 5 jenis makanan yakni makanan yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, susu, sayur dan buah. Konsumsi susu yang diperkaya zat besi 2-3 gelas setiap hari misal DANCOW 1+ atau 3+ sudah dapat memenuhi 50-80% kebutuhan anak akan zat besi sehat

Share artikel ini:

Artikel Terkait