Anakku Ingin Jadi Pengusaha!

“Penanaman nilai kewirausahaan juga membentuk sikap mental disiplin, kerja keras, berpikir positif, ulet dan tak mudah menyerah”

Enterpreneurship bukan hanya milik orang dewasa. Bahkan dari pemahaman yang diperolehnya anak dapat memiliki jiwa optimis, berani mengambil resiko, tak takut gagal, kreatif, dan tahu kalau keberhasilan harus dilalui dengan kerja keras.

Psikolog dari lembaga Psikolog DR Sarlito dan rekan, Dra Ami Siamsidar Mpsi mendefinisikan kewirausahaan adalah kemampuan mengembangkan suatu usaha untuk meraih suatu keuntungan. Sedangkan bila diterapkan dalam pola pendidikan, yaitu menanamkan jiwa usaha pada anak. “Orangtua perlu menanamkan makna keuntungan lebih sekadar dari materi, tujuannya agar anak tidak pasif dan memiliki cita-cita” katanya.

Ami mengatakan, inti dari mengajar kewirausahaan pada anak adalah menanamkan upaya dan kerja keras untuk menghasilkan sesuatu yang diinginkan. “Hasil yang didapatkan sesuai dengan usaha yang diupayakan. Selain itu, semakin fokus dengan apa yang diinginkan maka semakin jelas usaha yang akan dijalankan” paparnya. Ini merupakan konsep dasar dari efektivitas dan efisiensi.

Namun, lanjut Ami, tentu saja jangan berikan pengertian yang konseptual pada anak, namun konkret. Tanamkan konsep penanaman usaha ini melalui pola kebiasaanya melalui contoh. Misalnya, ketika ingin mendapatkan hadiah anak harus mengikuti lomba adu lari terlebih dulu atau ketika anak berinisiatif membersihkan kamarnya, Anda bisa memberikan hadiah es krim.

Pandai melihat peluang

Sandiaga Uno, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mengatakan kewiraushaan dapat diajarkan. Pembelajaran ini tak hanya sekadar teori dan praktiknya, namun juga membentuk sikap mental disiplin, kerja keras, berpikir positif, ulet dan tidak mudah menyerah. “Selain itu mengajarkan bagaimana melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain dan membuatnya menjadi ada serta bermanfaat” katanya.

Ami sependapat jiwa kewirausahaan bisa timbul dari lingkungan yang berorientasi pada pola sama. Misalnya, anak melihat orangtua senang bekerja keras dan konsisten mengerjakan sesuatu. “Dengan melihat apa yang dilakukan orangtuanya, anak bisa terinspirasi untuk mencoba hal yang sama” jelasnya.

Sandiaga mengatakan, anak yang sejak kecil disosialisasikan dengan kewirausahaan akan terbiasa berpikir lateral (thinking out of the box). “Anak akan biasa melihat orang-orang di sekitarnya menemukan cara memecahkan masalah di luar kaidah yang ada. Selain itu, mampu memanfaatkan sebuah peluang, jangan hanya mengekor dari apa yang sudah ada” paparnya

Konsultan dan trainer LPPM, Ir. Yanto Sidik Pratiknyo MA mengatakan, selain mampu memanfaatkan peluang, seorang wirausaha juga menciptakan peluang. Hal ini bisa ditanamkan sedini mungkin, misalnya anak sangat menginginkan mobil mainan yang harganya selangit, Anda bisa mengajarkannya mencoba merakit sendiri mobil mainannya.

Sandiaga menganjurkan, agar orangtua memberikan pilihan-pilihan dan membiarkan anak memilih dan fokus mengeluti bidangnya sebagai wujud kerja keras anak. “Tanamkan konsep kegagalan adalah sukses yang tertunda apa pun bidang yang anak pilih” katanya. “Bentuk bingkai berpikir anak untuk menjadi sesorang yang tak sekadar bekerja untuk orang lain namun mampu membuat lapangan pekerjaan sendiri” sambungnya.

Ami mengatakan, jiwa kewirausahaan juga membentuk sikap mental anak kuat saat menghadapi kegagalan. Saat anak berusaha mendapatkan sesuatu, maka anak belajar memperhitungkan seberapa besar bentuk usahanya. “Dengan memberikan contoh sebab akibat dan konsekuensi dari tindakannya secara tak langsung anak juga belajar mengantisipasi kegagalan” terangnya.

Suka menabung dan hemat

Sandiaga menambahkan, menabung dan berhemat merupakan cermin jiwa kewiraushaan. Sedini mungkin, biasakan anak menyimpan uang untuk keperluan yang tidak terduga atau membeli sesuatu. Bantu anak membuat dua simpanan yang satu untuk ditabung, sedangkan lainnya utnuk keperluan sehari-harinya. Ajari anak juga, sambung Sandiaga, belajar selektif membeli sesuatu dengan mempertimbangkan manfaatnya. “Minta anak menyusun anggaran uang jajan sendiri, selain melatih kemampuan finansialnya juga membiasakan anak menjadi manajer untuk dirinya sendiri” katanya.

Ami mengatakan, inisiatif anak menjual sesuatu untuk mendapatkan materi merupakan satu bentuk wirausaha sederhana, ini menjadi modal kemandirian anak untuk membuat keputusan sendiri. Dalam transaksi jual beli anak juga mengalami proses belajar, seperti strategi mencari keuntungan.

Ami menyambung, wirausaha tak sekadar melakukan transaksi jual beli atau cara mendapatkan materi. Namun, anak juga belajar berbagi. Misalnya, ketika lukisan anak ingin dibeli temannya, anak bisa memberikannya secara gratis. “ Juga mengajarkan anak menghargai orang lain terutama berprofesi penjual”katanya. Saat anak belajar menawar harga yang diperhatikan adalah komunikasi interaksi antara anak–penjual. “Dari sini kepekaan sosial anak juga bisa diasah” ujarnya.

Ami mengatakan, sebagian orangtua masih menganggap penanaman jiwa kewirausahaan berkaitan cita-cita sebagai pengusaha. Penanaman hal ini sering juga digagalkan orangtua sendiri.”Karena orangtua masih membentuk sikap ketergantungan pada anak” ujarnya. Anak yang menjadi peserta bazaar di sekolah atau semacamnya bisa belajar secara praktis bagaimana mendapatkan uang seribu rupiah dengan usaha. Mereka sedang belajar bisa menghargai uang.

(src: PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Inspired Kids)

Share artikel ini:

Artikel Terkait