Asyiknya Belajar Cerdas dan Pentingnya Pola Makan Sehat Bagi Si Kecil

alt-1b.jpg

Bermain dan belajar adalah suatu paket yang menjadi kebutuhan bagi setiap anak. Setiap anak dapat mengetahui dunia sekitarnya melalui kedua kegiatan tersebut. Kegiatan bermain dan belajar, yang juga ditunjang oleh pola makan yang sehat dapat membuat tumbuh kembang anak menjadi optimal.

Dra. Mayke S Tedjasaputra,Msi, seorang Psikolog dalam acara talkshow yang diadakan oleh Dancow Parenting Center dan Delta Radio 99.1 FM pada hari Kamis, 7 Mei 2009, mengatakan bahwa didalam memberikan stimulasi kepada sang buah hati haruslah menyenangkan.

Contoh kegiatan belajar sambil bermain yang dapat diterapkan pada sang buah hati adalah melukis, bercerita, bermain peran, bermain boneka, dll. Dengan melukis  misalnya, kita dapat menggunakan beberapa warna yang digabung, yang dapat menghasilkan warna baru. Pada saat inilah, kita bisa mengajarkan konsep warna pada si kecil.

Menurut Mayke, dengan menerapkan bermain dan belajar cerdas, diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan sang buah hati. Kecerdasan yang dapat distimulasi melalui kegiatan tersebut adalah kecerdasan kognitif, komunikasi, moral, sosial, emosi dan fisik. Kecerdasan-kecerdasan inilah yang disebut sebagai multiple intelligence. Dan kecerdasan ini tidaklah timbul secara instan, sehingga orang tua harus membantu menstimulasinya.

Yang dimaksud dengan kecerdasan kognitif adalah kemampuan berpikir sang anak.  Kemampuan ini dapat berkembang bila anak distimulasi untuk menyelesaikan suatu masalah dan mencari jalan keluarnya. Contoh permainannya adalah bermain puzzle, teka teki, dll.

Kecerdasan komunikasi, biasanya dikaitkan dengan kecerdasan berbahasa. Kegiatan bercerita dapat merangsang anak untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya, sehingga anak yang berkembang bahasa lisannya, akan mempermudah mereka untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Kecerdasan moral, yakni menyangkut nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, yakni anak belajar tentang hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan, hal-hal yang baik atau  buruk bila dilakukan, dll. Kecerdasan moral ini dapat dipelajari melalui kegiatan sehari-hari, misalnya pada saat anak menceritakan mengenai kejadian kekerasan yang dialami oleh orang lain, maka kita dapat mengatakan pada sang buah hati bahwa hal yang dapat menyakitkan orang lain bukanlah hal yang baik atau hal yang  boleh ditiru.

Kecerdasan sosial, biasanya berkaitan dengan kecerdasan moral. Contoh dari kecerdasan sosial ini adalah bagaimana kita mengajarkan pendidikan makan yang baik dan tepat, dan juga kemandirian pada sang buah hati agar mereka dapat diterima di lingkungannya.

Kecerdasan emosi juga harus dikembangkan agar anak dapat mengekspresikan emosinya. Contoh permainan yang dapat menstimulasi kecerdasan emosi ini adalah kegiatan bermain peran.

Yang tidak kalah pentingnya, kita harus menstimulasi kecerdasan fisik sang buah hati. Karena dengan fisik yang terlatih dengan baik, maka akan mempermudah anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Jadi, jangan terlalu khawatir bila anak berlari atau melompat ya Bunda, karena hal itu dapat menjadi wahana untuk melatih motorik kasar sang buah hati.

Menurut Mayke, yang terpenting adalah anak harus gembira dan menyenangi aktivitas yang mereka lakukan. Jadi, jangan pernah memaksa anak untuk melakukan sesuatu kegiatan bila anak tidak mau melakukannya. Dan bila anak sudah mulai bosan dengan kegiatan yang telah atau sedang dilakukan, maka kita sebagai orang tua harus mencari alternatif kegiatan lain, yang dapat menarik minat si kecil.

Belajar dan Pola Makan Sehat

Untuk mendukung segala aktivitas si kecil, dibutuhkan tubuh dan jiwa yang sehat. h Dan untuk mewujudkan tubuh dan jiwa yang sehat itulah, maka dibutuhkan pola makan sehat,h demikian ungkap Dra. Reinani Mahadi, seorang Nutrisionist dari PT. Nestle, pada acara yang sama.

Menurut Reinani, bila pola makan yang sehat sudah menjadi suatu kebiasaan, tentunya diolah dengan cara yang sehat pula, sehingga dapat mendukung proses tumbuh kembang sang buah hati. Anak dapat belajar dan menyerap informasi yang diberikan padanya dengan optimal.

Pola makan yang sehat adalah pola makan yang beragam dan seimbang, yang mengandung 5 unsur zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Makanan seperti ini dapat diperoleh dari susunan hidangan yang mencakup 4 sehat 5 sempurna, yaitu terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah, dan susu.

Pola makan yang sehat dan seimbang ini sangat erat kaitannya dengan kemampuan otak si kecil. Otak membutuhkan sekitar 20% dari total kebutuhan energi setiap harinya. Sehingga, apabila asupan makan sang buah hati kurang dari kebutuhannya, maka otak juga dikhawatirkan kekurangan energi yang dibutuhkannya, sehingga akan membuat otak tidak dapat bekerja dengan optimal.

Menurut Reinani, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua, khususnya Ibu pada saat mengedukasi pola makan sehat bagi buah hatinya, yakni:

1. Hal-hal yang dianjurkan, yakni :

  • Niat ¨ Ibu harus mempunyai niat, yakni niat untuk bisa (bisa sabar, bisa ikhlas, bisa tekun, dan bisa gembira)
  • Mencari dan selalu mengikuti perkembangan ilmu, dan menerapkannya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mendengarkan seminar atau talkshow yang berhubungan dengan kesehatan anak, dan juga dari membaca atau melihat dari sumber informasi yang lain
  • Selalu memberi makanan yang aman, segar dan menarik bagi sang buah hatinya
  • Membiasakan agar makan secara terjadwal
  • Membiarkan anak makan dengan caranya sendiri. Jadi, bila anak makan  masih berantakan, biarkanlah, karena melalui proses demikianlah anak dapat belajar cara makan yang benar

2. Hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan, yakni:

  • Memaksa, karena hal ini dapat menimbulkan pengalaman buruk bagi sang anak.
  • Tidak ikut menikmati makanan anak. Jadi, bila kita ikut menikmati makanan anak, diharapkan anak akan berpikir bahwa yang mereka makan adalah makanan yang sama dengan yang dikonsumsi orang dewasa lainnya, sehingga akan mendorong anak untuk menyukai makanan tersebut.
  • Memberikan susu yang sudah diminum sebelumnya. Hal ini dapat membahayakan si kecil, karena pada saat anak minum, maka ada beberapa mahkluk hidup lainnya yang dapat masuk ke dalam susu tersebut, dan bila dibiarkan selama waktu tertentu, dapat menyebabkan mikroorganisme tersebut menjadi berkembang.
  • Marah dan jengkel. Hal ini dapat membuat anak menjadi trauma atau frustasi.
  • Menghentikan memberikan susu setelah balita. Hal ini tidak boleh dilakukan karena susu tetap diperlukan sang buah hati, apalagi pada masa pertumbuhannya, jadi tetap berikan susu sampai mereka dewasa.