Authoritative Parenting

Para ahli menilai bahwa authoritative parenting (otoritatif) sebagai cara yang paling sesuai. Namun kerap menjadi pertanyaan "Bisakah itu diterapkan di dunia nyata?"

Inti dari otoritatif parenting adalah, orangtua memberi kebebasan anak untuk menjadi dirinya sendiri, dengan segala potensinya, dan memberi pegangan nilai-nilai atau panduan supaya proses yang dijalani anak dalam mengembangkan dirinya itu tidak membahayakan, merugikan, atau menyimpang.

Hasil yang bisa digambarkan dengan otoritatif parenting ini antara lain: anak menjadi kuat karakternya, kreatif, punya pijakan hidup yang kuat, tidak sombong juga tidak minder, dan punya kontrol-diri yang kuat.

Kembali lagi ke pertanyaan di atas, apa bisa kita jalankan? Sejujurnya perlu diakui bahwa jawaban yang paling benar adalah: tidak mudah menjalankan itu.

Karenanya, konsep otoritatif parenting itu perlu dipahami sebagai acuan dari proses mengasuh anak, yang tentu saja ada dinamika yang bermacam-macam sehari-harinya, ada tawa, tangisan, pujian, teguran, paksaan, pilihan, dan seterusnya.

Jadi, otoritatif parenting itu bukan hasil final, tetapi proses menuju. Supaya proses yang kita jalani itu menuju ke otoritatif, diperlukan hal-hal yang mendasar,  antara lain:

  • Evaluasi konstruktif. Intinya perlu mengevaluasi pola asuh yang kita terapkan secara berkala, hasilnya dipakai untuk perbaikan, supaya tidak kebablasan otoriter (terlalu menguasai) atau permisif (terlalu lunak)
  • Perbandingan positif. Kita melihat keluarga lain, bandingkan; lalu hasilnya digunakan untuk memperbaiki diri, bukan untuk merendahkan diri, menyombongkan atau membicarakan keluarga itu. 
  • Kreatif dalam pendekatan. Ambil yang baik dari orangtua kita, perbaiki dulu jika menemukan yang belum baik. Intinya, tidak fanatik buta atau mencari lawannya, misalnya, karena kita dulu dikerasin lalu sekarang kita terlalu membebaskan. Atau karena saya dulu di disiplin keras sekarang harus dilakukan hal yag sama.
  • Learning. Bisa dalam bentuk menambah pengetahuan, pengalaman, informasi, wawasan, melalui bacaan, seminar, kursus atau apa saja, yang bisa membuat kita tidak merasa paling benar sehingga tidak perlu berubah.

Untuk menyempurnakan kekurangan, perlu juga kita tambah dengan suri tauladan untuk menerapkan nilai ajaran, seperti agama, etika keluarga dan bermasyarakat. Keteladanan itulah yang nanti akan mengajarkan sesuatu kepada anak kita tentang hal-hal yang tidak bisa, tidak sempat, atau tidak secara sempurna kita ajarkan. Mari kita menjadi tauladan anak kita.

Semoga bisa kita jalankan.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait