Ayo Berkebun Nak!

Umur berapa anak sudah bisa mulai diajak berkebun? Hampir tidak ada batasan minimalnya. Untuk batita, berkebun menjadi kesempatan untuk mengembangkan inderanya.

Indera penglihatan dengan memperhatikan dan melihat berbagai warna dan bentuk tanaman, indera penciuman untuk membedakan aroma beragam bunga, indera peraba dengan merasakan berbagai tekstur daun, tanah, hingga biji, indera pendengaran dengan mendengar suara serangga, desir angin dan dedaunan, dan jika kebetulan Anda menanam tanaman buah atau sayuran maka anak juga bisa belajar tentang berbagai rasa.

Untuk anak yang lebih besar, berkebun bisa menjadi sarana belajar yang lebih menyenangkan tentang tumbuhan dan alam, dibandingkan belajar teori semata. Dengan melakukan dan melihat langsung tentang cara menanam dan proses pertumbuhan tanaman, teori-teori abstrak yang ada di buku pun menjadi hidup dan nyata sehingga lebih mudah dimengerti.

Bagaimana membuat anak-anak tertarik untuk berkebun? Cara yang terbukti jitu dan paling cepat menarik perhatian anak adalah dengan melibatkannya dalam mendesain bentuk dan merencanakan tanaman apa yang akan ditanam. Agar lebih menarik bebaskan mereka memilih ‘tema’ untuk kebunnya. Misalnya ‘kebun pelangi’ dengan tanaman bunga warna-warni, atau ‘kebun pizza’ yang diisi tanaman bumbu yang digunakan dalam pizza. Memilih tanaman yang berbunga dan berbuah juga dapat menjadi trik untuk menarik perhatian anak. Mereka biasanya lebih antusias jika apa yang mereka tanam menghasilkan’ sesuatu, misalnya buah atau bunga.


Berikut beberapa hal yang perlu jadi pertimbangan saat mulai mengajak si kecil berkebun:
Mulai dengan sesuatu yang sederhana saja. Tak harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli peralatan berkebun yang mahal atau area yang luas untuk memulai. Untuk bibit tanaman coba cari di sekitar lingkungan Anda, atau minta pada tetangga, lalu gunakan gelas plastik sebagai pot. Sederhana dan tidak mahal.

Mulailah dengan tanaman yang rumbuh relatif cepat. Anak kerap tak sabar untuk menunggu hasil yang lama, karena itu untuk langkah awal pilih tanaman yang cepat tumbuhnya atau cepat berbunga dan berbuah. Setelah beberapa saat, baru perkenalkan anak pada jenis tanaman yang waktu pertumbuhannya lebih lama. 
Kotor? Wajar dan menyenangkan. Jika mengajak anak berkebun, salah satu risiko yang dihadapi adalah anak menjadi kotor karena bermain tanah juga air. Namun justru itulah unsur menyenangkan bagi anak, dan bisa menjadi daya tarik untuk berkebun. Kalau terlalu banyak ‘peraturan’, anak pun malas melakukannya.
Beri masukan, bukan perintah. Beri saran pada anak saat berkebun, tapi jangan memaksanya mengikuti kemauan Anda. Ubah cara berpikir dan jadikan berkebun sebagai kid-based activities. Bebaskan ia memilih tanaman dan mengatur letaknya.
Gagal itu biasa. Tekankan pada mereka bahwa tidak semua benih tanaman akan tumbuh dan tidak semua tanaman akan sukses menghasilkan bunga. Bila gagal, mereka bisa belajar proses mana yang kurang tepat sehingga hasilnya bisa lebih baik.
Jadikan berkebun sebagai proses belajar. Jangan jadikan berkebun sebagai aktivitas fisik belaka, sebab ini merupakan kesempatan amat baik untuk mengajarkan pada anak berbagai hal yang terdapat di alam. Kupu-kupu yang menghisap madu dari bunga, cacing yang justru berguna bagi kesuburan tanah, proses penyerbukan oleh lebah, dan banyak lagi.
Ternyata, berkebun tak hanya menambah pengetahuan, tapi juga mendorong anak untuk mencintai lingkungan sejak dini. Ayo, ajarkan anak Anda untuk berkebun!

Share artikel ini:

Artikel Terkait