Bagaimana Cara Menumbuhkan Jiwa Penyayang dalam Diri Anak?

Satu temuan yang terungkap dari anak-anak yang suka melakukan bullying di sekolah, ternyata pola asuh ikut berperan. Anak yang kurang kasih sayang atau kurang diajari menyayangi di rumah, akan sangat berpotensi menjadi pelaku bullying.

Kekerasan ini definisinya luas. Pengabaian kebutuhan anak terhadap kasih sayang juga termasuk kekerasan. Ini semua memberi arti bahwa kita punya urusan untuk menumbuhkan jiwa penyayang dalam diri anak.

Sebetulnya, istilah ”menumbuhkan” di sini, kalau merujuk ke bukunya Dr. Charles L. Whitefield (1989), tidaklah tepat. Kenapa? Pada diri anak-anak itu sudah tumbuh jiwa penyayang. Bahkan kasih sayang yang dimiliki mereka itu jauh lebih lebih tulus dibanding orang dewasa. Katanya, sayangnya orang dewasa seringkali pakai syarat dan kepentingan (under-condition). Tapi anak-anak, kasih sayangnya unconditionally.

Peniru Super Canggih
Mukjizat Tuhan yang diberikan pada anak-anak adalah kemampuannya dalam meniru orang dewasa. Jadi, anak kita belajar dengan cara duplikasi dan meniru. Kita bisa saja menyuruh mereka untuk menyayangi adik, kakak, keluarga lain atau siapa saja. Tapi, bila mereka tidak memiliki modal untuk menduplikasi orang dewasa di sekitarnya, yang juga penyayang, maka proses belajarnya akan terganggu.

Karena itu, kita perlu mendemonstrasikan praktek atau simbol kasih sayang kepada mereka lalu menjelaskannya dengan kata-kata. Misalnya mengajak mengunjungi keluarga yang sakit, mengadakan acara syukuran di rumah, menunjukkan suasana keakraban, menyantuni lingkungan atau anak yatim.

Share artikel ini:

Artikel Terkait