Bagaimana Mengajarkan Anak Berinteraksi dengan Orang Asing?

Antara Mengancam Atau Melindungi
Sebagai orangtua, kita perlu menyadari kebutuhan anak saat sudah mulai lancar berjalan, berlari, atau sudah bisa naik sepeda. Pada periode ini, anak-anak sudah memiliki kebutuhan sosial. Dia ingin mengenal dunia di luar rumah, ingin menjalin pertemanan dengan anak tetangga, bahkan juga ingin berinteraksi dengan orang dewasa di luar keluarga inti.

Sayangnya, tidak semua orang dewasa di luar sana berperan melindungi. Dari sejumlah kasus, orang dewasa juga menjadi ancaman kenyamanan dan keselamatan anak, dari mulai gangguan, bujukan, sampai ke arah kriminalitas. Sementara, pada usia itu si anak belum bisa membedakan model orang secara kritis. Jadi bagaimana?

Model Pola Asuh
Dari riset yang dilakukan Phillip Rice (1990), pola asuh yang diterapkan orangtua di rumah akan membentuk model interaksi anak dengan orang di luar sana. Pertanyaannya adalah, pola asuh seperti apa yang bisa membekali anak untuk berinteraksi dengan orang di luar? Yang paling mendasar adalah kebaikan (kindness). Anak perlu diajari menjadi orang baik, dalam bertutur kata, bersikap, dan memperlakukan orang. Karena si anak adalah peniru yang paling canggih, maka cara mengajar yang paling efektif adalah menunjukkan keteladanan dan menjelaskannya. Saat kita terlibat kegiatan sosial atau berbagi kebaikan dengan tetangga, akan lebih bagus kalau dia dilibatkan.

Anak juga perlu dibekali mental yang kuat (personal power). Jangan sampai si anak menjadi orang terlalu baik karena takut atau lemah. Ini malah membuat dia mudah dijadikan korban oleh teman atau orang dewasa. Kekuatan mental bisa diajarkan dengan menerapkan asas fairness, kebebasan berinisiatif dan kebebasan mengungkapkan perasaan dalam pola asuh. Ini supaya anak dapat mengembangkan kekuatan.

Terakhir adalah membekali kewaspadaan. Tidak semua orang dewasa di luar sana itu baik atau sebaliknya. Yang perlu kita jauhi adalah mengeneralisasi keadaan sehingga membuat dia terlalu pede atau terlalu takut. Cara yang bisa kita pilih adalah menjelaskan keadaan berdasarkan kasus dirinya, kasus sosial atau perkembangannya lalu kita jelaskan solusi yang bisa dilakukan si anak.

Perlindungan Eksternal
Kita tahu bahwa orang dewasa yang berniat jahat itu selalu punya seribu cara yang mungkin tidak terantisipasi dan terdeteksi oleh pemikiran si anak. Karena itu, tetap dibutuhkan perlindungan eksternal, antara lain:

  1. Memastikan bahwa anak berada di lingungan yang aman, misalnya dengan tetap menelpon dari kantor.
  2. Memperbanyak orang dewasa yang aman bagi anak, misalnya orangtua, mertua, atau keluarga lain
  3. Memberikan pendampingan bertahap agar tetap bisa mengembangkan kreativitasnya dan juga tetap berada di bawah pengawasan kita. Tidak terlalu dikekang pun juga tidak terlalu dibebaskan
  4. Membangun dukungan dari orang sekitar dengan memperbanyak sedekah (kebaikan)
  5. Lebih mengutamakan penjelasan yang mendorong anak untuk menjaga diri ketimbang mengembangkan ketakutan.

Intinya, seperti kata Adler, jangan sampai kita terlalu melindungi dengan ketakutan atau terlalu membebaskan karena tidak mau pusing. Ini agar anak mengembangkan kewaspadaan dan keberanian. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait