Bagaimana Mengajarkan Anak Menjaga Diri dari Pelecehan?

Zaman sekarang kita harus mewaspadai adanya orang-orang yang memiliki niat kurang baik pada anak-anak. Mereka akan melakukan tindakan yang terlihat seperti ungkapan rasa sayang pada si Kecil, tapi sebenarnya memiliki maksud terselubung. Ini bisa dianggap sebagai pelecehan. Istilah ini punya dampak psikologis yang berbeda-beda. Kalau itu menimpa orang lain yang tak kita kenal lalu diberitakan di koran, mungkin dampak psikisnya tak seberapa. Tapi coba kalau itu terjadi pada orang dekat kita atau anak kita? Pasti dunia ini rasanya mendadak berubah seperti ada tsunami.

Menurut definisi umum, tindakan seperti ini mencakup berbagai bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran, mungkin berupa ucapan, sikap, atau tindakan.

Oleh karena itu, sangat penting jika anak kita diberi bekal untuk menjaga diri mereka dari kemungkinan terjadinya praktek pelecehan. Kenapa ini penting? Bagi korban, dampak psikologisnya banyak, antara lain rasa malu, takut, merasa rendah diri, atau bahkan bisa menjadi trauma, tergantung dari tingkatannya. Jika ini dibiarkan, bisa juga mempengaruhi prestasi akademiknya, misalnya karena tidak mau sekolah dan nilainya turun. Bagaimana mengajarkan si anak waspada terhadap bahaya seperti ini? Sebagai tambahan atau pengingat dari yang sudah kita ketahui, hal-hal yang penting untuk kita lakukan adalah:

  1. Mengajarkan aurat. Aurat adalah bagian tubuh yang sifatnya sangat privat sehingga tidak bisa disamakan dengan anggota tubuh lain. Ini akan memudahkan kita mengajarkan anak mengenali beberapa perilaku yang tergolong pelecehan dari orang lain.
  2. Sensitif terhadap pengaruh luar yang diterima anak. Hampir semua orang tua kesulitan menghindarkan anak dari ucapan yang menjurus ke hal-hal seksual dari tayangan yang di televisi sehingga memilih untuk membiarkan. Mestinya, kita perlu mengoreksi ucapan si anak dan memahamkan konteksnya, sekuat tenaga kita.
  3. Mengajarkan anak untuk selalu menjadi orang baik, namun jangan sampai menjadi anak yang terlalu baik, sehingga mudah dirayu atau takut mengatakan ”TIDAK” pada hal-hal negatif. Ini perlu kita ajarkan tidak hanya pada hal-hal yang konteksnya terkait pada pelecehan semata.
  4. Membangun kedekatan yang dialogis dengan anak. Ini memudahkan anak untuk membicarakan pengalamannya di sekolah atau di luar. Usahakan terjadinya dialog yang saling bertanya dan saling mendengarkan. Kalau kita hanya bertanya pelajarannya atau nilainya, mungkin dia bosan menjawab. Lebih baik kita mulai pembicaraan dari yang ringan-ringan.
  5. Bimbing anak untuk mencatat / mengingat ciri-ciri orang yang mencurigakan dan ciri-ciri keadaan atau situasi sehingga dapat membantu proses penyelidikan lebih lanjut.
      Semoga bermanfaat.

    Share artikel ini:

    Artikel Terkait