Bagaimana Menumbuhkan Kemandirian pada Anak-anak?

Siapa yang tidak ingin melihat anak-anaknya itu tumbuh mandiri? Pasti tidak ada dong. Kita semua ingin anak-anak kita tumbuh mandiri. Namun kemandirian itu harus kita tanamkan dari sejak dini.

Sebelum ia menjadi anak yang mandiri, hal pertama yang perlu dimandirikan adalah kemandiriannya dalam mengambil keputusan. Apa kemudian kita membiarkan anak-anak mengambil keputusan sendiri? Bukan-kah dia belum tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dirinya? Benar, memang.

Melatih kemandirian anak itu tidak sama dengan “membiarkan” mereka mengambil keputusan sendiri. Lalu bagaimana? Melatih kemandirian itu artinya adalah memfasilitasi anak untuk menggunakan akal sehatnya dalam menentukan pilihan untuk beberapa hal saja (sesuai perkembangannya).

Dengan fasilitas itu lalu kita mendampingi mereka mengukur bobot pilihan yang dipilihnya. Bobot di sini terkait dengan: apakah pilihannya itu bermanfaat atau merugikan, salah atau benar, baik atau buruk, dan seterusnya. Ini bisa dilakukan dari hal-hal kecil. Misalnya saja si anak ingin menggunakan uang sangu dari neneknya untuk membeli mainan yang menurut kita itu kurang ada gunanya.

Kalau dilarang langsung dan hitam-putih, biasanya dia ngambek. Tapi kalau dibiarkan, itu mubazir menurut kita. Jadi bagaimana? Untuk kepentingan mendidik mereka, jangan dibiarkan seratus persen tetapi juga jangan dilarang seratus persen. Usahakan untuk membuka ruang pembicaraan dulu, lalu menawarkan pilihan, baru kemudian membahas bobot pilihannya. Jika tidak bergeming juga, kita perlu memberi kesempatan untuk menguji pilihannya.

Jurus yang terakhir itu hanya bisa diberlakukan untuk hal-hal yang sifatnya pilihan dan itu kita niati sebagai eksperimentasi (latihan menghargai pilihan dan tanggung jawab). Adapun untuk hal-hal yang sudah jelas-jelas salah-benarnya, kita perlu menunjukkan dan mencontohkan ketegasan (bukan kekerasan). Jangan sampai kita punya sikap yang abu-abu untuk hal-hal yang sudah jelas. Kenapa?

Mencontohkan ketegasan untuk hal-hal yang tidak bisa diterima oleh kita karena alasan yang sangat fundamental itu juga sama artinya dengan melatih kemandirian. Anak-anak yang tidak pernah merasakan ketegasan dari orangtua biasanya tidak punya referensi batin untuk menjadi orang yang tegas dengan pendiriannya juga nanti. Ini tentu kurang baik bagi dirinya.

Selain memberikan pilihan, yang penting juga adalah pendisiplinan dan penilaian. Anak-anak tentu belum dapat membedakan mana yang nafsu dan mana yang suara hati; mana yang ”Id” dan mana yang ”Super Ego”. Karena itu perlu bantuan orang dewasa di sekitarnya dalam hal bagaimana mengalahkan nafsu atau Id.

Caranya adalah dengan mendisiplinkan mereka. Jika memungkinkan, kita bisa beri jadwal yang lunak dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Disiplin ini adalah alat untuk membiasakan diri. Misalnya dia telah menyepakati perjanjian untuk merapikan tempat tidurnya sendiri tetapi ternyata dilanggar.

Pada saat pelanggaran terjadi, tugas kita adalah mendisiplinkan. Cukupkah kita hanya menyuruh mereka merapikan tempat tidurnya dengan nada marah? Tidak cukup. Pada kondisi tertentu, kita perlu mengecek atau menilai: apakah itu dikerjakan asal-asalan atau tidak. Setelah itu barulah kita memberi penjelasan yang bisa diterima sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut.

Terakhir, tetap menjadi pendidik. Pendidik itu terkadang harus di depan untuk mengarahkan. Jika harus di tengah, pendidik itu mendamaikan atau memberikan pemahaman yang positif. Dan jika harus di belakang, pendidik itu memberi motivasi atau inspirasi.

Yang perlu kita hindari adalah ikut campur terlalu dalam sampai menghilangkan jati diri si anak. Misalnya anak diberi PR oleh guru A di sekolah. Karena kita ingin nilainya bagus, kita ambil-alih tugasnya itu atau menyuruh si Om atau pembantu untuk mengerjakannya. Praktek demikian ini biasanya hanya bagus buat kita tetapi tidak bagus buat perkembangan mereka. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait