Bagaimana Menyikapi Kelemahan Anak?

Dalam prakteknya, anak-anak itu sama seperti orang dewasa. Selain punya kelebihan yang beragam, mereka juga punya kelemahan. Kalau melihat teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence), pada diri anak ada yang bisa disebut kelebihan dan kelemahan dominan. Ada anak yang bagus dalam kemampuan akademik tapi kemampuan sosialnya lemah. Ada juga yang sebaliknya. Bahkan ada juga yang bagus di keduanya. Banyak faktor yang menyebabkan kenapa itu bisa terjadi. Bisa dari keturunan, bawaan personal, pengasuhan, pendidikan, konsentrasi pengembangan, lingkungan, dan lain-lain.

Karena ini sudah merupakan fakta yang tidak bisa diingkari, maka tugas orangtua adalah bagaimana menyikapi hal ini secara objektif. Penyikapan di sini adalah bagaimana kita melihat dan memahami si anak dengan minus-plusnya itu. Penyikapan obyektif adalah bentuk penyikapan yang didasarkan pada perkembangan si anak, bukan pada “egoisme” orangtua.

Penyikapan semacam ini penting agar orangtua bisa menemukan perlakuan dan pendekatan yang pas dalam membimbing, mengembangangkan kapasitasnya dan agar bisa berperan lebih optimal. Orangtua yang baik, menurut versi anak, adalah orangtua yang bisa berperan seoptimal mungkin bagi perkembangan anak dan berdasarkan keadaan anak.

Inilah rahasia kenapa tidak semua orangtua yang bagus itu bisa mencetak anaknya menjadi lebih bagus atau sebagus orangtuanya. Atau juga tidak semua orangtua yang (menurut standar umum minus) bisa mencetak anaknya menjadi lebih bagus. Terbukti, banyak janda dengan ekonomi dan pendidikan pas-pasan yang bisa mencetak anaknya menjadi orang bagus.

Bagaimana penyikapan positif ini bisa kita raih? Penyikapan bukanlah sebuah hasil, melainkan proses yang butuh pengembangan secara terus menerus. Proses yang penting untuk dilakukan adalah:

Pertama, menerima dengan kesadaran untuk memperbaiki. Belajarlah untuk tidak mengingkari atau menutup-nutupi (denial) atau mengabaikan begitu saja. Menerima adalah syarat paling penting agar kita bisa memperbaiki. Kalau kita menolak, ini malah berpotensi memunculkan sikap yang kurang obyektif terhadap anak.

Kedua, menyeleksi bentuk kelemahan itu untuk menemukan penyikapan yang obyektif. Ada kelemahan yang bisa diubah dengan mudah, ada yang sulit (misalnya kelemahan fisik), ada yang menyebabkan kefatalan, kemunduran, dan lain-lain. Karena bentuknya berbeda, maka penyikapannya juga berbeda. Intinya, hindari men-generalisasi dan labelisasi.

Ketiga, sensitif terhadap perkembangan anak. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak itu perkembangannya jauh lebih dinamis dan setiap perkembangan itu akan menunjukkan ciri-ciri plus-minus tertentu. Orangtua yang kurang sensitif biasanya hanya membaca minusnya saja, jeleknya saja atau negatifnya saja. Anak yang ingin menunjukkan “siapa dirinya” bisa jadi akan dipahami sebagai anak yang keras kepala atau nakal.

Keempat, memfasilitasi berbagai rangsangan untuk memunculkan kelebihan. Rangsangan bisa berbentuk: permainan, pergaulan, bacaan, contoh, lingkungan, dan lain-lain. Biasanya, semakin banyak kelebihan yang terungkap, semakin banyak pula kelemahan yang ketahuan. Sebaliknya, anak-anak yang kelemahannya tidak diketahui, biasanya tidak diketahui pula apa kelebihannya yang dominan. Plus-minus itu bukanlah “hitam-putih”, tetapi menyatu dan ada gunanya. Munculnya plus-minus itulah yang menjadi penggerak dinamika perkembangan anak.

Kelima, memiliki harapan positif. Syarat prinsipil untuk membimbing, mendidik, mengarahkan dan mengajarkan orang lain (terutama anak-anak) adalah memiliki harapan yang baik atau keyakinan akan munculnya perubahan positif pada diri anak. Tidak ada kata-kata “kesabaran saya telah habis” karena kesabaran itu tidak ada batasnya. Kita sendiri yang membatasi kesabaran itu sehinga muncul pesimisme atau kekurang-yakinan.

Perlukah kita mengkomunikasikan kelemahan itu pada anak? Ada yang menyarankan tidak disampaikan agar mereka tidak menciptakan label-diri, pengadilan-diri (self-judgement) atau konsep-diri yang negatif dan diabadikan. Tetapi, bila harus memberitahukannya juga, syaratnya ada dua, yakni:

  1. Semangatnya adalah memunculkan perbaikan, bukan pengadilan.
  2. Jangan lupa mengungkapkan kelebihannya juga.

Share artikel ini:

Artikel Terkait