Bahaya di Balik Kesempurnaan

Nilai ulangan anak selalu mendekati sempurna dan deretan piagam serta piala menjadi pertanda prestasinya yang mengagumkan. Sebagai orang tua, Anda pasti bangga. Namun, Anda sering melihat. Anak Anda menyalahkan diri sendiri jika tak mendapat peringkat pertama karena ia selalu memasang standard tinggi yang harus dicapai. Apakah salah jika anak Anda tampaknya seorang perfeksionis?

Mirna, 11 tahun, tak pernah mengeluh jika diberi PR atau tugas perorangan dari gurunya. Dia selalu mengerjakan semua dengan penuh semangat. Tapi ada satu hal yang dibencinya. Tugas kelompok! Begitu mendapat tugas kelompok, Mirna pulang ke rumah dengan wajah cemberut. Bibir mungilnya menuturkan kecemasan jika tugas tersebut tidak akan bisa berakhir sesuai dengan keinginannya. “Teman-teman kan pelupa,” katanya bersungut-sungut. “Pasti ada saja yang tidak dibawa. Kalau begitu, nanti nilaiku jelek. Nilai tugas kelompok kan nilai semua anggota.”

Walhasil, Mirna merepotkan diri dengan mengerjakan sendiri kewajiban teman-temannya. Semua itu dilakukan gadis kecil ini untuk menghindari nilai buruk. Lain lagi dengan Thomas, 10 tahun. Jika sudah mendekati ulangan umum, bocah penggemar olahraga basket ini mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari. Dia akan belajar tekun di kamar. Mulanya, Yuli, sang ibu, merasa senang dengan perilaku anaknya yang tampak rajin di matanya. Belakangan, dia mulai mencium gelagat yang membuatnya khawatir.

Thomas selalu menangis jika mendapatkan nilai di bawah angka 8. Menurut Thomas, nilai 7 sudah termasuk nilai jelek. Tak peduli berapa kali ibunya menaburkan kata-kata penghibur. Thomas akan selalu berkata, “Seharusnya aku bisa lebih baik.” Apakah Anda tidak asing dengan hal semacam ini?

Siapa Perfeksionis
Dalam buku berjudul Perfectionism: Theory, Research, and Treatment, Dr. Paul L.Hewitt PhD dan G.L. Flett mendefinisikan perfeksionisme sebagai kepribadian yang selalu berusaha keras agar menjadi sempurna dan memasang standar yang kelewat tinggi.

Seorang perfeksionis biasanya menjadikan kemampuannya melakukan sesuatu sebagai landasan utama dalam menghargai diri sendiri. Begitu standar yang dibuat berhasil dipenuhi, maka kepercayaan dirinya meningkat. Sementara jika yang terjadi adalah sebaliknya, mereka akan menilai rendah diri sendiri.

Perfeksionisme bisa muncul sebagai hasil dari kombinasi antara kecenderungan yang dibawa sejak lahir dan faktor lingkungan. “Faktor utama yang berhubungan dengan kepribadian atau pembentukan karakter adalah faktor pola asuh,” kata Dr. Reni Akbar-Hawadi, MPsi. “Anak-anak seperti ini biasanya memiliki orang tua yang otoriter. Orang tua tidak mau tahu, pokoknya anak harus begini, harus begitu.” Selain itu ada faktor penguat lain yang bisa memicu seorang anak menjadi perfeksionis, yakni faktor pujian. Pada dasarnya, pujian bisa bersifat fisik, misalnya iming-iming hadiah atau pelukan dan ciuman hangat. Sementara yang psikologis bisa berupa kata-kata.

Bagi anak, tidak mendapat penghargaan, baik itu pujian atau apa saja, adalah sesuatu yang menyakitkan. Anak akan berusaha untuk mempertahankan perbuatan-perbuatan baik demi mendapat penghargaan. “Memang hal ini sangat individual dan tidak bisa disamaratakan. Tapi, pujian baik fisik atau psikologis, akan secara signifikan mempengaruhi cara kerja seseorang.” kata psikolog yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Keberbakatan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Anak-anak yang mengidap perfeksionisme dapat diidentifikasi melalui kecenderungan-kecenderungan berikut ini:

  • Memasang standar tinggi, baik untuk diri sendiri maupun orang lain
  • Suka mengkritik diri sendiri dan orang lain
  • Sensitif dalam menanggapi kritik dari luar
  • Memiliki kepercayaan diri yang rendah
  • Selalu khawatir akan berbuat kesalahan
  • Lebih memilih pekerjaan mudah agar bisa mendapatkan hasil sempurna dan menghindari pekerjaan yang sulit
  • Mengalami kesulitan dalam membuat prioritas kerja karena ingin semua sempurna

Selama tidak berlebihan, perfeksionisme sebenarnya bisa membawa dampak positif. Anak akan termotivasi untuk menjadi yang terbaik. Dia juga akan belajar bahwa kerja keras adalah cara yang harus ditempuh untuk berhasil. Namun jika sudah berlebihan, perfeksionisme akan mengarah kepada hal-hal yang bersifat destruktif bisa mengakibatkan kecemasan berlebihan yang bisa mengarah ke gangguan psikosomatik (misalnya sakit kepala, sakit perut, tekanan darah tinggi, dan lain-lain), depresi, gangguan obsesif-kompulsif (obsessive compulsive disorder) sampai keinginan bunuh diri.

“Jelas ada kerugian jika seorang anak menjadi perfeksionis,” begitu kata Prof. Dr. H. Ayub Sani Ibrahim SpKJ (K). “Anak akan capek karena harus memenuhi standar diri sendiri yang kelewat tinggi.” Dan sebenarnya, bukan hanya diri sendiri yang akan terganggu, melainkan juga teman-temannya. Ini disebabkan karena anak yang perfeksionis cenderung juga mengharapkan agar teman-temannya mampu memenuhi standar yang dibuatnya. “Hal ini akan mengganggu hubungan sosial si anak. Dia melihat orang lain juga harus sempurna seperti dia. Istilahnya, mengapa saya harus begini sementara orang lain tidak?” ujar psikiater yang yang juga guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ini.

 

Ubah Pola Pikirnya

Belajar dari kesalahan
Karena cenderung hanya menghargai hasil, anak perfeksionis bisa kehilangan momentum emas dalam proses pembelajaran karena selalu mengkhawatirkan kemungkinan membuat kesalahan. Alhasil, anak bisa menjadi sosok yang kelewat serius dan tidak bisa menertawakan diri sendiri. Untuk itu, Anda perlu meyakinkan si kecil, bahwa meskipun hasil akhir tetap menentukan, menikmati proses jauh lebih penting. Katakan, “Dengan membuat kesalahan, sebenarnya kamu telah belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.”

Pencapaian yang realistis
Anak perfeksionis biasanya memasang standar pencapaian yang tidak realistis dan tidak sesuai dengan kemampuannya. Karena itu, Anda harus membantunya untuk membuat tujuan yang seimbang dengan kemampuan yang dimiliki. Katakan, “Tidak mendapat nilai 10 bukan berarti kamu bodoh. Dan kamu tak perlu selalu mendapat nilai 10 hanya karena ingin menyenangkan Mama.”

Tak ada yang sempurna
Beri dia pengertian bahwa tak ada manusia yang sempurna. Sebutkan kelebihan dan kekurangan Anda, lalu minta dia melakukan hal yang sama. Katakan kepadanya untuk melakukan yang terbaik demi memperbaiki kekurangan namun fokuskan diri untuk menggali kelebihan yang dimiliki lebih dalam lagi. Yakinkan dia bahwa itu lebih baik daripada menguras energi untuk menjadi nomor satu di segala bidang.

Kesuksesan yang tertunda
Ceritakan kepadanya bahwa tokoh terkenal dalam sejarah seperti Thomas Alva Edison, Wright Bersaudara, Walt Disney, para musisi yang lalu lalang di layar TV, bahkan bintang film kondang Hollywood sekalipun harus berkali-kali menemui kegagalan sebelum bisa sampai di tangga kesuksesan. Belikan dia buku-buku biografi orang sukses -kini banyak dijual dalam bentuk komik dan tidak terlalu tebal- untuk menyadarkannya bahwa kegagalan hanyalah sebuah kesuksesan yang tertunda.

(PT.Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Parents Indonesia)

<

Share artikel ini:

Artikel Terkait