Baikkah Menggunakan Popok Sekali Pakai?

Kehadiran popok sekali pakai, telah menggeser pengunaan popok kain. Alasan utamanya ialah lebih praktis digunakan. Namun keduanya masih sah-sah saja digunakan. Jika ditilik dari segi kesehatan keduanya tak bermasalah. Yang penting jangan sampai terlambat mengganti popok. Untuk popok kain tentu harus segera diganti bila terlihat basah. Sedangkan untuk popok sekali pakai frekuensi penggantiannya berdasarkan kemampuan daya tampung.

Sementara itu, berikut beberapa anggapan yang keliru tentang penggunaan popok sekali pakai, diantaranya yaitu:

  1. Penyebab impoten. Yang benar adalah bila terlalu lama dipakai, popok sekali pakai bisa menyebabkan suhu panas di sekitar alat kelamin. Namun tidak ada hubungannya dengan menyebabkan impoten atau gangguan fungsi ereksi, karena bayi belum memproduksi sperma.
  2. Anak kebiasaan mengompol. Dikarenakan anak merasa aman jika buang air tidak ke toilet. Padahal kemandirian membuang air (toilet training) tergantung pola pengajaran orangtua.
  3. Mengganggu pertumbuhan tulang pinggul. Kenyataannya, bayi bisa lebih leluasa bergerak. Apalagi desainnya yang dipilih yaitu desain yang elastis. Dengan demikian kegiatan berjalan dan pertumbuhan tulang pinggul pada anak tidak terganggu.
  4. Dapat menyebabkan ruam popok yang merupakan iritasi yang disebabkan dekomposisi air seni. Faktanya pemakaian di atas 12 jam memang dapat menyebabkan ruam popok, namun tidak selalu. Karena sekarang popok umumnya didesain agar tetap kering walau telah penuh. Dengan catatan, bila bayi pup popok harus langsung diganti.
  5. Menyebabkan anak jalan mengangkang. Anggapan ini mungkin timbul akibat melihat tepi popok sekali pakai yang sangat kaku, apalagi jika dipakai secara terus-menerus. Hanya saja hal ini belum pernah dibuktikan secara ilmiah. Selain itu, kalaupun terdapat kasus yang demikian, tak perlu khawatir karena biasanya akan segera pulih dalam waktu yang cukup cepat. Selain itu, cara jalan bayi dengan orang dewasa memang berbeda. Bayi masih dalam tahap pertumbuhan tulang sehingga tak jarang cara berjalannya masih kurang sempurna. Baru saat menginjak umur 2 tahun, yaitu saat bayi bisa berjalan dengan sempurna.

Terlepas dari anggapan diatas, Anda dapat memakai popok sekali pakai untuk bayi Anda jika memang merasa perlu. Jika lebih suka menggunakan popok kain pun tak masalah. Yang penting adalah kenyamanan untuk si kecil. Berbagai gangguan kulit pada bayi dan balita seperti biang keringat atau ruam popok sebenarnya bisa diatasi bila orang tua rajin menjaga kesehatan kulit.

Berbeda dengan kulit dewasa yang tebal dan mantap, kulit bayi dan balita relatif tipis dengan ikatan antarsel yang longgar. Karena itu kulit anak lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi. Secara struktural kulit bayi dan balita belum berkembang dan berfungsi optimal sehingga diperlukan perawatan khusus.

Yang penting, menjaga kebersihan popok bayi. Anda harus tertib mengganti popok dan memperhatikan kebersihan area genitalnya. Pada bayi perempuan, bersihkan dari bagian atas ke arah anus, dengan menggunakan kapas basah. Sedangkan pada bayi laki-laki, dengan menarik kulup perlahan-lahan sehingga lubang kencingnya tampak, baru kemudian dibersihkan dengan kapas basah.

Setiap kali mengganti popok, bagian pantat bayi dan sekitarnya harus dibasahi. Kemudian dikeringkan, dan diberi bedak. Sebaiknya balurkan baby oil pada bagian ini, untuk menjaga air seni agar tidak mudah meresap ke dalam kulit. Sesekali, biarkan bayi Anda bebas dari popok sekali pakai selama 1 hari penuh agar kulit dapat "bernafas".

Waspada terhadap Eksim popok
Eksim popok, yaitu kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup popok. Penyakit ini umumnya timbul pada lipatan-lipatan kulit paha, di antara kedua pantat, dan dapat menyebar ke bagian kulit lain. Bagian tertutup popok mudah mengalami peradangan karena kulitnya hangat dan lembap serta peka terhadap bakteri yang dapat menimbulkan iritasi.

Cara mencegahnya dengan mengganti popok sesering mungkin setiap kali popok basah. Sebaiknya kain popok terbuat dari bahan lembut dan cara pemakaiannya jangan terlalu ketat agar kulit tidak tergesek. Penggunaan celana plastik sedapat mungkin dihindari.

Eksim popok juga bisa timbul karena zat zat kimia dalam popok berbaur dengan feses bayi yang menghasilkan ammonia. Sehingga merangsang peradangan di sekitar anus. Bercak seperti ini umumnya terjadi bila si bayi diare. Penanggulangannya bisa dilakukan dengan mengganti popok setiap kali terasa basah. Bersihkan kotoran dari kulitnya, lalu balur dengan krim pelindung. Periksakan ke dokter untuk menghindari hal-hal yang lebih buruk.

(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Inspired Kids)

Share artikel ini:

Artikel Terkait