Balita dan Puasa

Satu dari sekian rahmat Tuhan yang diberikan kepada anak kecil adalah kuriositasnya yang tinggi. Konon, menurut penelitian, terhadap hal-hal yang tidak diketahui, mereka memunculkan pertanyaan jauh lebih banyak ketimbang orang dewasa. Itulah sebabnya mereka lebih kreatif dan inovatif.

Bulan Ramadhan ini sangat tepat kita gunakan sebagai momen untuk menjawab pertanyaan mereka tentang nilai dan ajaran yang dianut keluarga. Dengan melihat orangtuanya makan pada dini hari (sahur), berbuka puasa, dan tidak makan dari pagi sampai Maghrib, pasti mereka bertanya. Lebih-lebih jika mereka melihat kakaknya atau saudaranya menjalankan Shalat Tarawih. Tidak sedikit yang merengek ingin ikut.

Penjelasan seperti apa yang sangat penting untuk kita berikan kepada mereka? Dalam agama, mereka memang belum berkewajiban menjalankan puasa. Tetapi orangtuanya sangat dianjurkan untuk melatihnya sesuai dengan keadaan dan kemampuan. Kalau pun belum mampu, setidak-tidaknya mereka punya pengetahuan kognitif tentang ibadah yang dijalankan orangtuanya.

Berdasarkan teori umum pendidikan dan keagamaan, yang terbaik untuk dilakukan orangtua adalah:

Pertama, memberikan penjelasan teoritis, misalnya puasa itu wajib dan wajib itu adalah perbuatan yang harus dijalankan dan tidak boleh boleh ditinggalkan. Termasuk juga menjelaskan caranya, misalnya tidak boleh makan dan minum. Sejauh bahasa yang kita pilih itu sesuai dengan jangkauan nalarnya, pasti bisa diterima olehnya.

Kedua, memberikan kesempatan untuk merasakan. Tentu ini ada berbagai macam teknik. Misalnya puasa dalam beberapa jam. Tentu ini perlu kita sesuaikan. Kalau tidak juga, yang perlu diajari adalah menghormati orang berpuasa. Misalnya dikasih tahu supaya tidak makan atau minum di depan orang yang berpuasa.

Ketiga, mengajarkan nilai atau makna di balik ibadah yang dijalankan keluarga. Ini yang paling mendasar tetapi sayangnya ini pula yang kerap kita lupakan. Nah, terkait dengan puasa ini, esensinya adalah menahan nafsu egoisme, amarah, atau berbagai energi negatif lainnya.

Esensi yang berdimensi ke orang lain (sosial) adalah peduli dan baik terhadap sesama manusia. Melalui momen puasa, kita bisa mengajari anak kita untuk peduli dan berbuat baik kepada sesama keluarga atau anak lain, namun dalam batas yang normal. Kita bisa mengajari bahwa berprilaku terlalu royal juga tidka baik.

Hal lain yang juga penting untuk diajarkan adalah memberikan pemahaman agama yang toleran terhadap agama lain. Ini akan menjadi sangat penting apabila kita hidup di tengah-tengah lingkungan yang agamanya hetrogen. Semua agama itu memiliki kesamaan dalam tujuan, tetapi memiliki perbedaan dalam hal tehnik atau cara mencapai tujuan itu.

Share artikel ini:

Artikel Terkait