Bau Keringat Anak

Normalnya bau keringat anak berbeda dengan pada saat mereka menginjak usia remaja. Kita tahu efek keringat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain, faktor apa yang anak konsumsi, jenis bahan pakaian yang dikenakan, adanya kuman tertentu di permukaan kulit, seberapa tinggi kelembaban udara, serta aktivitas fisik keseharian anak sendiri.

SETIAP anak memiliki aroma bau badannya sendiri. Sebagian diwariskan oleh faktor bawaan orang-tuanya. Bau badan sendiri memang spesifik untuk setiap orang. Begitu juga bagi anak-anak. Tidak semua sama jenis baunya. Keringat bagian dari komponen bau badan.

Mekanisme normal tubuh
Berkeringat merupakan bagian dari mekanisme penguapan cairan tubuh (atau perspirasi) agar mampu mempertahankan suhu tubuh, selain keseimbangan cairan tubuh.

Perspirasi ini juga dipengaruhi oleh seberapa lembab udara di tempat anak berada. Makin tinggi tingkat kelembaban udara, makin sukar keringat keluar. Menjelang hari hujan, misalnya, badan terasa gerah karena keringat tidak keluar secara lancar.

Sebaliknya, apabila kelembaban udara rendah, maka keringat lancar keluar. Aktivitas fisik, termasuk ketika sedang makan, terlebih bila mengonsumsi menu yang panas dan pedas, kelenjar keringat aktif memeras peluh keluar dari kulit.

Banyak tidaknya peluh yang keluar juga dipengaruhi oleh kondisi cairan tubuh sesaat. Anak yang sedang mengalami kehilangan banyak cairan oleh diare, muntah-muntah, atau kekurangan asupan minum, sehingga menjadi dehidrasi, misalnya, tentu tidak berkeringat. Gejala tidak berkeringat di sini dapat menjadi petunjuk terancam dehidrasi.

Berkeringat sebagai mekanisme pengatur suhu badan, selain penyeimbang cairan tubuh, tentu saja hal yang normal. Sebaliknya tidak (pernah) berkeringat, yang seharusnya berkeringat, harus diwaspadai. Mungkin ada mengidap suatu penyakit. Misalnya, kelenjar gondok yang lemah fungsinya ditandai dengan kulit kering tak mudah berkeringat.

Keringat berbau
Keringat sendiri belum tentu berbau. Bau keringat muncul akibat bercampurnya kuman di permukaan kulit, berbaur dengan kelenjar lemak kulit (sebum), dan bereaksi dengan jenis bahan pakaian yang dikenakan, dan adanya kuman tertentu pada permukaan kulit. Campuran semua itu yang membentuk keringat jadi berbau.

Maka agar berkeringat tidak sampai memunculkan bau tak sedap yang perlu diperhatikan, pertama-tama, jenis bahan pakaian hendaknya yang mudah menyerap keringat. Bahan pakaian terbuat dari katun lebih cocok untuk iklim tropis, termasuk untuk pakaian anak. Sebaliknya bahan sintetis (nylon, polyester), tak cocok buat pakaian di iklim panas (tropis), karena tidak mampu menyerap keringat.


Menanggulangi efek buruk berkeringat
Sudah disebut kalau keringat menjadi berbau tak sedap, juga dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi sehari-hari. Jenis bawang-bawangan, dan semua yang mengandung minyak atsiri, menimbulkan bau tak sedap pada keringat. Bila tak mau keringat berbau, perhatikan jenis menu anak yang banyak berkeringat, apalagi bila baunya amat mengganggu.

Selain itu berkeringat melebihi normal dapat juga ditekan dengan membuat ruangan lebih sejuk. Pemakaian pendingin ruangan membantu menurunkan berlimpahnya keringat keluar. Bila berkeringat berlebihan, juga membutuhkan asupan minum yang lebih banyak.

Bermain dan beraktivitas fisik di udara terbuka jauh lebih menyehatkan dibanding aktivitas fisik yang berlebih dilakukan di rungan tertutup. Kita tahu penguapan panas tubuh lewat berkeringat dipengaruhi pula oleh seberapa deras udara yang mengalir.

Bagi yang berbakat banyak berkeringat, kendati tidak sedang melakukan aktivitas fisik, pemakaian bedak dapat membantu. Ada jenis bedak yang mengandung bahan penekan perspirasi (anti-perspirant). Pemakaian bedak hendaklah segera setelah mandi dan bersabun serta dikeringkan dengan handuk baru bedak ditaburkan. 

Lebih sering mandi dengan handuk penyeka (wash-lap) yang dibalur sabun, amat membantu meluruhkan sel-mati sekaligus kuman yang menempel di permukaan kulit. Hal ini bisa menolong menekan efek buruk berkeringat, baik dalam hal baunya, maupun dalam hal kemungkinan komplikasi yang bisa ditimbulkan, munculnya penyakit biang keringat, misalnya.

Share artikel ini:

Artikel Terkait