Bau Tangan Mitos atau Fakta

SECARA naluriah bayi yang lahir akan mengenali ibunya dari sentuhan dan bau kulit ibu. Maka sesuai dengan kondisi itu, program “Inisiasi Menyusui Dini” dilakukan untuk beberapa waktu lamanya sesaat setelah bayi dilahirkan.

Dalam kegiatan “Inisiasi Menyusui Dini” (IMD) bayi langsung dibaringkan di atas dada ibu segera setelah dilahirkan, saat masih benar-benar basah, dan belum dimandikan. Tujuannya agar mengenali ibunya, menyentuh langsung kulit ibu, menghidu aroma kulit ibu, dan mendengar debar jantung ibu, serta seluruh kehangatan ibu. Dengan cara demikian, bayi akan lebih mengenal ibu, dan kemudian melancarkan proses menyusu pada ibunya.

Menggendong sebagai ungkapan manja

Menggendong bayi dan anak bertujuan untuk menopang selama anak belum mampu berjalan sendiri. Dalam kondisi belum mampu begitu, mobilitas anak berada di tangan ibu dan pengasuhnya. Menggendong berarti bagian dari mobilisasi anak selagi belum mampu bergerak sendiri.

Itu berarti, setelah anak sudah mulai mampu berjalan sendiri, makna menggendong lebih sebagai kemanjaan. Anak merasakan lebih nyaman kalau digendong padahal sudah mampu berjalan sendiri. Maka bila anak dibiasakan selalu digendong padahal tidak perlu, itu yang kemudian menimbulkan sikap manja anak.

Menggendong juga pada kondisi-kondisi tertentu, bisa sebagai ungkapan perlindungan terhadap rasa aman anak, selain dalam bentuk dekapan. Namun bila anak tidak membutuhkan mobilisasi, dan merasa terlindung, menggendong sebaiknya tidak dibiasakan. Orang-orang dulu bilang “jadi bau tangan”. Menggendong bukan sesuatu yang menyehatkan bila tanpa ada alasan.

Sikap manja anak dibentukan oleh sikap ibu atau pengasuhnya memperlakukan anak. Bila setiap kali anak menangis, setiap kali rewel, atau kondisi apa pun dijawab dengan menggendong, anak akan membentuk kebiasaan menuntut, menagih digendong untuk hal yang paling tidak ia perlukan sekalipun. Dan itu bukan sikap pengasuhan yang menyehatkan jiwanya.

Artinya, hanya menggendong kalau memang ada alasan untuk menggendong. Anak yang bosan terus-menerus berbaring, sudah waktunya melakukan kegiatan mobilisasi, memasuki wilayah nyaman, anak perlu bantuan untuk menggendongnya. Juga apabila ada rasa takut, cemas, fobia terhadap lingkungan atau suasana baru, yang asing bagi anak. Menggendong menambah rasa aman pada anak.

 

Menangis tidak identik harus menggendong

Bayi yang dibiasakan selalu digendong setiap kali menangis menjadi manja, karena menangis bagi anak yang belum bisa berbicara, bisa berarti banyak, dan menggendong bukan selalu menjadi jawaban. Anak yang lapar, tak nyaman karena popok basah, sedang mulas, tidak enak badan, ungkapannya hanyalah menangis. Bahkan tidak ada apa pun yang membuatnya tak nyaman, anak yang kebiasaan selalu digendong akan menangis juga kalau tidak dikabulkan permintaan digendongnya.

Maka paling bijak kalau ibu dan pengasuh untuk tidak lekas menggendong. Menggendong hanya bila perlu saja. Anak menjadi “bau tangan” atau tidaknya terletak pada bagaimana ibu menyikapi ungkapan gendongan sebagai hanya untuk mobilisasi dan memberikan rasa aman pada anak, atau lebih dari hanya itu.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait