Bayi Perlu Variasi Rasa

Bagaimana cita rasa lidah anak dibentuk agar suka segala jenis menu? Itu pertanyaan klasik banyak ibu ketika menghadapi begitu banyak anak susah makan. Hal yang sama ditekuni terus oleh produsen makanan anak, bagaimana menciptakan produk makanan yang sesuai dengan cita rasa lidah anak.

BETUL. Anak perlu menguasai seluruh cita rasa menu yang ada. Mengapa? Oleh karena hanya dengan cara demikian kecukupan semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh setiap hari akan terpenuhi.

Masalah gizi rata-rata orang modern yaitu menu harian yang tidak lengkap memenuhi kecukupan seluruh zat gizi yang tubuh butuhkan. Sebagian besar disebabkan variasi menu yang terbatas, ketika menunya sendiri tidak sepenuhnya tergolong menu seimbang.

Menu seimbang tak cuma kecukupan porsi, melainkan juga memenuhi kecukupan seluruh jenis zat gizi, terlebih yang bersifat esensial bagi tubuh. Sesuai dengan ASI sebagai menu awal makhluk hidup, ia juga mengandung karbohidrat, lemak, dan protein. Demikian pula hendaknya sifat menu yang tersaji pada makanan padatnya.

Kesalahan paling sering mengapa anak menjadi banyak tidak sukanya terhadap pelbagai jenis menu, lataran kesan pertama anak terhadap makanan kurang begitu elok. Rasa amis ikan, misalnya, tidak dikemas sedemikian rupa sehingga nantinya anak tidak jadi membenci makan ikan.

Pada awalnya lidah anak membangun jonjot rasa (taste buds) di permukaan lidahnya. Dari jonjot di lidah ini saraf di lidah mengirimkan pesan ke otak akan cita rasa makanan. Struktur ini sudah terbentuk sejak bayi dalam kandungan berumur 8 bulan, dan menjadi lengkap menjelang bayi lahir.

Maka membentuk cita rasa anak sesungguhnya sudah dimulai sejak anak masih dalam kandungan ibu, dan terus berkembang di meja makan ibu sebagai sebuah bakat. Apakah anak berbakat untuk menjadi pemakan segala, atau terbatas hanya menyukai satu-dua jenis menu belaka, dan menolak jenis menu lainnya.

Awalnya cita rasa lidah bayi belum begitu berkembang sampai berumur 4 bulan. Kemudian rasa manis merupakan cita rasa lidah paling favorit semua bayi mulai umur 4 bulan. Cita rasa lidah terus berkembang setelah bayi diperkenalkan jenis makanan padat, manakala yang dirasakan lidahnya bukan hanya rasa ASI semata.

Maka sesungguhnya perkenalan anak terhadap makanan ditentukan bagaimana cita rasa lidah bayi dibangun ketika mulai berkenalan dengan makanan padatnya. Bukan saja struktur menu yang lebih kasar dari air ASI, melainkan juga seperti apa (saja) cita rasanya di lidah anak.

Setelah bayi berumur 8 bulan, anak mulai memilih rasa yang cenderung menjadi preferensinya. Ada semacam sifat bawaan sesuai dengan yang diberikan oleh cita rasa lidah ibu, maka tak sehat memaksakan kalau anak hanya menyukai beberapa jenis menu saja, dan menolak jenis menu lainnya.

Namun cita rasa lidah anak seyogianya bisa dibangun. Caranya dengan memperkenalkan sebanyak mungkin jenis menu pada anak semenjak awal. Semakin banyak jenis menu yang pernah lidah anak kenal, semakin besar kemungkinan anak akan menyukai keberagaman menu yang ada. Maka sikap ibu untuk membentuk lidah anak yang menjadi "pemakan segala" selalu dipandang bijak.

Mengapa harus menjadi anak yang "pemakan segala"? Oleh karena selain kodratnya, kita melihatnya dari susunan gigi-geligi manusia yang dikodratkan memakan daging (taring, gigi pengoyak), buah dan sayur (gigi seri, pengerat), dan karbohidrat (geraham, pengunyah). Maka perkenalan makan terhadap anak perlu mencakup ketiga unsur sumber makanan sesuai dengan gigi-geligi yang kita miliki. Itu berarti perkembangan cita rasa lidah anak juga ditentukan oeh isi meja makan ibu di rumah pada awal-awalnya.

Diperlukan ketekunan dan kesabaran ibu untuk menyusun menu yang beragam di meja makan, termasuk kiat bagaimana meramu, meracik, dan mengolah, agar setiap menu baru yang dihidangkan buat anak memberi kesan indah pada lidah anak. Sekali lagi, kesan buruk terhadap menu baru, menumbuhkan kebencian mengonsumsinya di kemudian hari. Atau anak malah menjadi tak menyukai jenis menu tertentu sama sekali.

Ibu yang bijak akan membiarkan anak lebih banyak belajar dari cita rasa meja makan di rumahnya, dan bukan dari meja makan restoran. Bahaya bukan menu meja makan rumah, karena selain jenis menunya tidak selalu menu seimbang (cenderung lebih banyak lemak, gula, garam dapur), umumnya juga berpenyedap, pengawet, pewarna, dan dari bahan yang belum tentu semunya segar.

Lidah restoran terbentuk jika cita rasa gurih menu menjadi preferensi cita rasa lidah anak. Bukan aneh kalau cita rasa lidah anak zaman sekarang dibentuk oleh rasa gorengan, dan gurihnya menu berlemak, sehingga selain badan rata-rata anak umumnya melebihi berat badan yang dianjurkan, tumpukan lemak sejak kecil berisiko memunculkan risiko penyakit jantung dan otak, selain penyakit gula.

Maka sekali lagi, cita rasa lidah anak memang perlu dibangun secara lebih arif di meja makan rumah. Kesehatan dibangun dari dapur ibu, bukan dari restoran. Maka tinggal bagaimana kesungguhan setiap ibu sudi bertekun dan telaten melayani untuk menyusun menu meja makan rumah yang lebih beragam. Dengan demikian selain anak tidak memikul risiko berpenyakit kelak di hari tuanya, bahaya "kekurangan gizi" rata-rata orang modern yang cita rasa lidahnya dibangun oleh dapur restoran, tidak perlu terjadi.

Share artikel ini:

Artikel Terkait