Bebas Tapi Bertanggungjawab

Inti dari pengasuhan sebetulnya adalah bagaimana caranya agar anak-anak kelak dapat menjadi dirinya sendiri, dengan mengeluarkan segenap potensi yang dimiliki, dapat menjadi orang yang berguna, bagi dirinya, keluarga, masyarakat, dan seterusnya.

Agar anak terlatih menjadi dirinya sendiri, diperlukan kebebasan untuk berkembang, melalui berbagai inisiatif yang muncul dari dirinya. Tanpa kebebasan, potensinya akan tertahan, seperti mobil yang keberatan muatan, atau bisa juga jatidirinya akan menjadi terpendam oleh menonjolnya jatidiri orangtua.

Meski kebebasan sangat diperlukan, tetapi tidak berarti itu tanpa resiko. Ketika anak diberi kebebasan full, mungkin malah akan membahayakan. Di samping itu, anak-anak juga belum tahu bagaimana menggunakan kebebasan untuk kebaikannya. Di sinilah bimbingan orangtua diperlukan.

Fungsi bimbingan orangtua sebetulnya adalah memahamkan anak mengenai bagaimana supaya anak terus bebas berkembang tetapi juga tahu batas-batasnya. Dalam prakteknya, hal ini memang tidak mudah. Kerap kita terjebak dalam praktek yang kabur antara membimbing dan menghapus inisiatif atau kebebasannya.

Nah, supaya tidak kabur, kita membutuhkan patokan. Di bawah ini ada sejumlah patokan yang bisa kita pedomani dalam membimbing anak:

  • Menonjolkan nilai-nilai, dari ajaran apa saja, bisa agama, kultur atau leluhur. Kita mendorong anak untuk menaati nilai-nilai itu, bukan menaati kita. Pada saat “kitanya” yang menonjol, kita  akan mudah terjebak pada pemaksaan ego untuk mengalahkan anak.
  • Mendorong anak untuk menjadi yang lebih bagus / yang lebih besar dari kita, bukan semata-mata hanya menyuruh untuk mengikuti jejak kita.  “Even the best can be improved”
  • Memberi disiplin berdasarkan prioritas dan perkembangannya untuk melatih tanggung jawab, kekuatan mental, dan mengeluarkan potensinya, seperti belajar atau latihan.
  • Memberi kebebasan dalam menjalankan disiplin dan menghormati usahanya.
  • Kalau pun harus ada yang perlu dikoreksi, tunjukkan perbaikannya, hindari menyalahkan dengan menyerang atau mengalahkan sehingga membuat anak takut melakukan.   
  • Sering memberi pilihan untuk hal-hal yang memang di luar disiplin dan melatih anak untuk merasakan akibat dari keputusannya, misalnya katakanlah saat memilih baju atau makanan.
  • Memberi ruang yang bebas berinisiatif, tanpa pilihan dan disiplin, supaya dia bisa free from us, seperti saat bermain.
  • Mendorong dan memfasilitasi inisiatif kemajuan si anak, seperti ikut kursus atau kegiatan ekstra kulikuler.
  • Melatih kekuatan anak dalam melawan godaan atau hambatan, melalui pelarangan yang mendidik.
  • Melatih mental anak untuk menghadapi dunia, dengan tantangan, kesulitan, dan problemanya, bukan malah melindungi anak dari dunia.

Semoga bermanfaat dan kita bisa menjalaninya dengan baik.

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait