Belajar Makan yang Sehat

Masa depan gizi tubuh seorang anak ditentukan oleh seperti apa otobiografi makan anak sejak kecil. Bila menginginkan otobiografi gizi yang sehat sampai usia tua, pola makan dan sikap terhadap makanan perlu diajarkan. Lebih dari itu perlu dididik. Tak cukup mengandalkan naluri makan belaka. Pilihan menu, bagaimana nafsu makan ditata, dan menjaga keseimbangan menu, itulah kiat sehatnya.

TUBUH kita sekarang merupakan otobiografi apa yang kita makan sejak kecil. Apabila kebiasaan makan serba berlebih, dengan menu yang cenderung tinggi kalori, maka sosok tubuh menjadi kelebihan berat badan.

Kita tahu kelebihan berat badan seperti tengah menyimpan ”bom waktu”. Sewaktu-waktu sekian banyak penyakit bakal meledak, khususnya penyakit yang mengancam nyawa. Sebut saja jantung koroner, darah tinggi, atau kencing manis.

Jadi nasib kesehatan anak akan ditentukan oleh pola asuh orangtua dalam hal makan. Dimulai dengan membentuk pola dan kebiasaan makannya. Jadwal makan yang tertib juga diciptakan. Maka jika anak menjadi gemuk atau kegemukan, tentu ada yang keliru dalam hal makannya.

Merusak selera makan
Mitos juga yang membuat orangtua tersesat dalam memberi makan anak-anaknya. Sementara anak yang sehat itu bukan anak yang gemuk, bukan yang kurus, melainkan yang tidak gemuk, tapi juga tidak kurus.

Namun kecenderungannya sekarang, lebih banyak orangtua yang mendambakan anak yang gembrot karena dianggap lucu. Maka orangtua berlomba menjadikan anak-anaknya kelebihan berat badan. Bukan saja pola dan jadwal makan yang telanjur tidak tertib, tapi juga jenis menu harian sudah tergolong menu yang tidak seimbang.

Menu seimbang itu adalah menu nenek-moyang kita. Nasi sepiring, beberapa potong lauk-pauk, sayur lodeh, dan buah. Bukan sejenis menu steak. Karena dalam menu steak lebih besar porsi lemak dibanding karbohidrat (kentangnya). Padahal menu seimbang itu adalah duapertiga karbohidrat (nasi), seperlima dari lemak, dan sisanya protein. Sehingga menu barat, hampir selalu bukan menu seimbang.

Akibat menu harian lebih banyak mengandung lemak, dan lemak menyumbang kalori dua kali lebih besar dari karbohidrat maupun protein, maka kalori harian dari menu itu selalu melebihi kebutuhan. Kelebihan kalori ini yang tertimbun menghasilkan kegemukan.

Bukan saja itu. Menu berlemak dan tubuh yang selalu kelebihan kalori menekan selera makan. Maka keluhan ibu zaman sekarang adalah mengenai buruknya selera makan anak.

Saat ini, anak yang hidup kecukupan di kota cenderung sulit makan. Sedang anak di pedesaan, yang serba kekurangan, gampang sekali makannya. Buktinya adalah bahwa rata-rata anak perkotaan sudah kelebihan kalori, tinggi menu lemak, yang merusak selera makannya sehingga tak pernah merasa lapar.

Makan dengan kepala bukan dengan hati
Tidak gampang mengubah tubuh anak yang telanjur gemuk. Tidak juga sederhana mengubah perilaku dan tertib makan yang telanjur ”rakus” kalau sejak kecil tidak diajar bagaimana makan yang sehat. Maka pembelajaran makan menjadi penting.

Pertama-tama jadwal makan harus tentu. Pencernaan kita diciptakan untuk makan tiga kali sehari. Susunan gigi-geligi kita pun dibentuk untuk menerima jenis makanan apa saja, tanpa kecuali (omnivora). Enzim dan perangkat pencernaan manusia pun siap setiap saat untuk menerima jenis menu apa saja. Itu sesuai dengan kebutuhan zat gizi tubuh kita yang mencapai sekitar 45 jenis tanpa terkecuali.

Alangkah idealnya kalau sejak kecil anak juga diajarkan untuk mengenal apa sifat gizi yang dimakannya, bukan saja belajar tertib dalam jadwal makan. Jika sejak awal perut anak sudah diajar kapan merasa lapar dan kapan saatnya kenyang, maka mereka akan terbiasa terbiasa meminta makan jika jam makan tiba. Disiplin dalam makan merupakan hal protokol yang pertama-tama harus ditanamkan sejak kecil.

Makan lebih dari sekadar kebutuhan
Untuk itu makan bukan saja untuk memenuhi kebutuhan tubuh, melainkan sebagai penghiburan. Kalau anak merasa lapar, dan suasana makan menunjang, maka anak merasakan makan bukan sebagai kewajiban sebagaimana yang dirasakan oleh kebanyakan anak sekarang.

Jika anak memiliki selera makan yang sudah dilatih sejak kecil, ditambah suasana makan yang menghibur, maka makan bukan lagi masalah. Masalah makan anak timbul karena selera makan anak tidak ada akibat tubuh sudah tidak perlu makan lagi. Oleh karena tubuh sudah kelebihan dan kadar gula dalam darah selalu tinggi.

Hanya jika gula dalam darah sedang menurun, maka selera makan bangkit. Anak yang makan berlebihan, keliru memilih menu, tiada jam tanpa camilan, maka anak tidak mengenal seperti apa rasa lapar itu, karena memang tak merasakan munculnya rasa lapar.

Kekeliruan orangtua menciptakan tubuh anak berarti menjerumuskan anak beresiko penyakit sebelum usia tua. Itu artinya risiko terserang penyakit jantung, darah tinggi, dan kencing manis sudah muncul lebih dini.

Di negara maju, termasuk di Asia pemerintah sudah lama menyadari betapa penting mendidik anak dalam hal makan. Kebiasaan makan sehat dibentuk sejak kecil. Anak tahu mana jenis menu yang bersahabat dan mana menu yang tidak baik (cardiofriendly program). Selanjutnya sampai usia dewasa, kebiasaan memilih menu dengan kepala, bukan dengan hati akan terbawa terus dalam benak anak.

Mendidik anak bahwa menu yang bergizi itu belum tentu harus enak, dan berharga tinggi. Belum tentu yang enak di lidah itu menu bergizi. Kebanyakan menu yang kurang lezat adalah menu bergizi. Sebaliknya, justru menu yang gurih, dan lezat di lidah adalah menu yang tidak sehat, yang membuat badan kelebihan bobot, serta menimbun sejumlah penyakit.

Jika semenjak kecil anak sudah terdidik untuk makan sehat, selanjutnya anak akan selalu menikmati waktu makannya. Anak hanya perlu makan jika sedang merasa lapar, dan tidak makan lagi jika sudah merasa kenyang.

Namun kebanyakan anak, dan orang dewasa yang kelebihan berat badan, masih juga makan walau tidak sedang merasa lapar. Ini bentuk pelanggaran terhadap naluri makan, sehingga tubuh bertumbuh, dan tentu bukan tubuh yang sehat lagi. Dan itulah otobiografi gizi yang tak patut dibaca.

Share artikel ini:

Artikel Terkait