Beranilah Membuat Keputusan, Nak!

Dalam kehidupan sehari-hari kita memang selalu dihadapkan pada berbagai pilihan. Hal yang sama juga dihadapi oleh anak-anak. Bedanya, sebagai orang dewasa kita sudah mampu berpikir panjang dan memilah mana keputusan yang harus diambil beserta konsekuensinya.

Sebaliknya bagi anak-anak, banyaknya pilihan justru kerap membuat mereka bingung sehingga sulit mengambil keputusan. Tak heran jika Anda kerap geleng-geleng kepala karena si kecil seolah mau melakukan berbagai hal sekaligus dalam waktu yang sama. Rengekkan mau membeli ini itu saat jalan ke mall misalnya, adalah salah satu contohnya. Inilah mengapa kita perlu mengajarkan pada anak-anak untuk tidak hanya berani membuat pilihan, namun yang lebih penting, membuat pilihan yang baik.

Individu yang mampu membuat keputusan dengan baik biasanya memiliki kehidupan yang lebih memuaskan. Namun, meskipun kemampuan membuat pilihan sangat penting, kemampuan ini tak diperoleh begitu saja namun perlu dipelajari sejalan waktu. Mengajarkan anak agar mampu membuat keputusan yang bertanggung amatlah penting sebab tak selamanya kita bisa mempersiapkan anak dalam menghadapi suatu situasi tertentu. Lebih sering, mereka menghadapi situasi tak terduga sebelumnya, sehingga Anak juga akan belajar tentang konsekuensi suatu pilihan dan membangun kemampuan dirinya.

Mungkin Anda akan bertanya bagaimana cara mengajarkan anak membuat pilihan. Apakah dengan memberinya kebebasan sebesar-besarnya atau justru “mengontrol” seketat mungkin pilihan yang ada? Para ahli menyebutkan dua hal penting yang harus ada, yaitu:

  • Menginformasikan dan memberikan konsekuensi yang sepadan untuk setiap pilihan yang dibuat oleh anak.
    Seperti menembakkan anak panah dalam gelap, tidak mengetahui apa yang menjadi konsekuensi suatu pilihan tidak akan membantu meningkatkan kemampuan anak untuk melakukan pilihan. Seorang anak perlu tahu apa konsekuensi positif dan negatif dari pilihannya, agar kemampuannya memilih makin terasah.
  • Memberi batasan perilaku yang masih dapat diterima.
    Karena kemampuannya yang masih terbatas, bayangkan kebingungan seorang anak untuk membuat keputusan bila ia menghadapi pilihan tak terbatas. Di sinilah pentingnya peran orang tua untuk memberikan batasan yang sesuai dengan usia anak dengan mempertimbangkan kepentingannya. Anak-anak yang tumbuh dengan batasan jelas tentang perilaku apa yang dapat diterima biasanya lebih memahami apa yang harus dilakukan, tidak cemas dalam mengambil keputusan, dan lebih percaya diri.

Mulai usia 5-6 tahun, anak lebih sadar akan pentingnya membuat keputusan. Bahkan mereka kerap membuat orang lain menunggu karena mereka sibuk berpikir mana keputusan yang terbaik. Salah satu alasannya adalah karena pada usia ini anak memiliki lebih banyak kebebasan untuk melakukan pilihan. Semakin bertambah usia anak, orang tua biasanya makin mempercayai kemampuan mereka membuat keputusan, hingga memberi mereka peluang lebih banyak untuk menunjukkan kemampuannya memilih.

Pada usia ini pula anak mulai memahami dan memikirkan perasaan serta kebutuhan orang lain selain dirinya sendiri. Meskipun tak selalu menjadikan kepentingan orang lain sebagai pertimbangan utama, namun mereka sudah mulai menyadarinya dan pada kasus tertentu mungkin mulai mempertimbangkannya dalam pengambilan keputusan. Namun begitu, mereka masih memerlukan bantuan orang dewasa untuk keputusan yang terkait dengan masalah keselamatan dan kesehatan seperti makanan mana yang boleh dimakan, bagaimana cara menyeberang jalan yang aman, pakaian yang sesuai untuk kondisi tertentu, dan lain-lain.

Pada usia ini, anak sudah dapat diajak berdiskusi tentang hal-hal mana yang bisa mereka putuskan sendiri dan mana yang belum siap dilakukan sehingga memerlukan bantuan Anda. Untuk mendorong rasa percaya dirinya tanpa terlalu membatasi, triknya adalah memberikannya pilihan yang sudah Anda sortir sebelumnya, misalnya: “Mau pakai sepatu yang merah atau sandal biru?”, “Mau minum jus atau susu dulu?”. Dengan cara ini anak terlatih membuat keputusan dalam batasan yang aman, dan ia pun lebih responsif terhadap perintah Anda karena merasa memiliki kebebasan memilih.

Share artikel ini:

Artikel Terkait