Bersosialisasi Untuk Si Buah Hati

Setiap manusia pasti akan membutuhkan dan bergantung kepada manusia lainnya. Karena kondisi saling membutuhkan inilah mengapa manusia disebut sebagai mahkluk sosial.

Agar seseorang dapat diterima dalam lingkungannya, maka diperlukan ketrampilan bersosialisasi. Ketrampilan atau kemampuan untuk bersosialisasi adalah salah satu hal mutlak yang harus dipelajari oleh setiap orang. Bagi buah hati kita, diperlukan peran dari orang tuanya untuk mendorong dan mengajak anak untuk bersosialisasi.

SEDINI MUNGKIN
Dra. Ratih Ibrahim, Psi dalam acara talkshow yang diadakan oleh Dancow Parenting Center dan Delta Radio 99.1 FM pada hari Kamis, 19 Februari 2009 mengungkapkan, bahwa pendidikan bersosialisasi ini harus dikenalkan pada si kecil sedini mungkin. Bahkan, sejak baru lahirpun seharusnya si kecil sudah harus dikenalkan dengan sekelilingnya, misalnya keluarga. “Kenalkanlah si kecil pada orang tuanya, kakek, nenek, atau anggota keluarga yang lainnya.” Demikian sarannya.

Proses ini akan meningkat seiring dengan pertambahan usia sang buah hati. Misalnya, pada anak yang sudah besar, kita dapat membawa anak untuk bertemu dengan banyak orang dan ajaklah anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya.

”Tanamkanlah pada anak bahwa mereka tidaklah sendiri. Mereka merupakan bagian dari masyarakat, sehingga mereka perlu untuk belajar bersosialisasi dengan orang-orang sekelilingnya,” demikian papar Ratih, yang merupakan seorang psikolog ini.

Apabila kita memberikan kesempatan kepada si kecil untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, maka diharapkan mereka akan banyak mempelajari sesuatu yang akan berguna bagi kehidupannya kelak, seperti belajar mengendalikan diri, belajar berempati pada orang lain, bersikap toleransi, keinginan untuk berbagi, dan lainnya yang akan berhubungan dengan kecerdasan emosi.

Ratih menjelaskan bahwa masa sensitif seorang anak untuk belajar bersosialisasi adalah sampai dengan usia 8 tahun. Apabila kita sebagai orang tua tidak memberikan kesempatan kepada sang buah hati untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, maka akan terbentuk pribadi yang kurang terampil dalam bergaul serta kecerdasan emosinya tidak akan terbentuk dengan optimal.

Begitu pentingnya manfaat bersosialisasi sehingga Ratih menekankan agar anak diberi kesempatan untuk bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Dan, kita sebagai orang tua hanya berperan sebagai pengamat dan pengawas yang baik. Apabila anak melakukan tindakan seperti bertengkar, merebut milik temannya, berlaku kasar, atau sikap lain yang cenderung menyakiti orang lain, maka kita dapat membantunya untuk mengelola emosinya. Misalnya dengan mengajak anak untuk pergi dari tempat itu untuk menenangkan emosinya, ajak mereka bicara, dan lain sebaginya. Dan, proses semacam ini akan membentuk kecakapan emosi yang baik pada sang buah hati.

Pada anak yang cenderung pemalu, Ratih menyarankan agar orang tua tetap mendorong dan mengajak anak untuk bersosialisasi. ” Temanilah dulu sang buah hati sampai mereka mulai mengenal dan merasa aman dan nyaman dengan lingkungan barunya tersebut. Dan apabila mereka sudah merasa aman dan nyaman, barulah mereka akan terdorong untuk mengeksplornya,” demikian ujarnya.

MAKAN DAN SOSIALISASI

Cara lain untuk mengajarkan anak bersosialisasi adalah dengan cara makan bersama dengan teman sebayanya. Melalui cara ini, maka si kecil akan dapat bersosialisasi, sekaligus mengajarkan si kecil sikap ingin berbagi dan mengembangkan sikap toleransi pada orang lain. ” Selain itu, suasana makan sendiri pasti akan berbeda dengan makan bersama,” demikian papar Dra. Rienani Mahadi, seorang praktisi gizi dari PT. Nestle Indonesia dalam acara yang sama.

Rienani menggambarkan bahwa dengan makan bersama biasanya akan mempengaruhi keputusan makan pada si kecil. Contohnya adalah bila si kecil masih minum susu dengan menggunakan botol, kemudian melihat teman seusianya sudah minum susu dengan menggunakan gelas, maka anak juga akan terdorong untuk mencoba minum susu dengan menggunakan gelas pula.

Menurut Rienani, tetap memberikan susu kepada sang buah hati walaupun sudah berusia diatas 1 tahun adalah hal bijaksana yang harus dilakukan oleh orang tua. Hal ini karena banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari segelas susu. Manfaat ini antara lain adalah susu memberikan nutrisi penting yang dibutuhkan oleh si kecil, terutama pada masa pertumbuhannya. Nutrisi penting tersebut antara lain adalah protein, kalsium, karbohidrat, lemak, beberapa vitamin, dan mineral lainnya. Dengan mengkonsumsi susu 2-3 gelas setiap hari akan mendukung pembentukan dan pertumbuhan tulang si kecil menjadi optimal dan sempurna.

Selain menyediakan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, susu juga membentuk dan menciptakan kondisi saluran cerna yang baik bagi si kecil. Hal ini dapat diperoleh pada susu yang sudah diperkaya mikroorganisme atau mahkluk hidup yang menguntungkan seperti Lactobacillus Protectus. Mahkluk hidup menguntungkan ini dapat membuat suasana saluran pencernaan menjadi baik, sehingga penyerapan zat gizi menjadi optimal, serta membantu membentuk daya tahan tubuh yang baik bagi si kecil. Dan dengan daya tahan tubuh yang terbentuk dengan baik, maka diharapkan si kecil akan terlindung dari berbagai penyakit yang dapat menganggu aktivitas belajarnya.

Masalah yang sering timbul pada balita adalah kadangkala mereka tidak menyukai susu. Dalam hal ini, orang tua, khususnya sang bunda sangat dituntut untuk lebih kreatif untuk memberikan susu kepada buah hatinya dalam bentuk lain. Susu dapat diberikan dalam bentuk makanan seperti pudding, es krim, es campur atau makanan yang pengolahannya menggunakan susu, seperti nasi gurih, krim sup,dll. Susu juga tidak selalu harus disajikan hangat. Bila anak lebih menyukai minuman dingin, sajikanlah susu dalam kondisi dingin. Hmm...pasti lebih membuat si kecil bersemangat untuk menghabiskannya...

Namun, jangan pernah menyelesaikan masalah makan dengan susu. Artinya, susu hanya boleh dikonsumsi secukupnya untuk si kecil, yakni sekitar 2-3 gelas perhari. Anak yang minum susu melebihi ukuran tersebut akan cenderung ”malas” makan, karena lambungnya sudah terisi penuh dengan susu.

Ingatlah Bunda bahwa sang buah hati tetap harus diberikan makanan yang bervariasi, beragam dan seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Makanan tersebut terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah dan juga susu. Susunan tersebut dikenal dengan susunan 4 sehat 5 sempurna.

Dengan nutrisi yang sesuai kebutuhannya, diharapkan anak akan tumbuh menjadi anak yang sehat, sehingga mereka tidak kehilangan waktu untuk bersosialisasi dan melakukan kegiatannya bersama teman-temannya.


Share artikel ini:

Artikel Terkait