Bolehkah Si Kecil Mengisap Jari?

Kebiasaan anak mengisap ibu jari ataujari tangan lainnya tentu bukan keadaan yang sepenuhnya tergolong normal. Namun ada anak-anak tertentu yang tak bisa lepas dari kebiasaan ini. Bolehkah si kecil tetap mengisap ibu jari?

Normalnya setiap anak selain bertumbuh fisik, berkembang pula jiwanya. Perkembangan jiwa anak ditentukan oleh karakter yang diwarisinya, dan pola asuh anak. Perkembangan anak mencerminkan siapa pengasuhnya.

Sejumlah penyimpangan perkembangan banyak dipengaruhi oleh masa lima tahun pertama kehidupan anak. Bagaimana orang-tua menyikapi, merespons, dan memperlakukannya selama mengasuh, akan seperti itu anak akan menjadi kelak.

Fiksasi pada setiap fase perkembangan anak, akan mempengaruhi kejiwaannya kelak setelah ia dewasa. Termasuk fiksasi selama fase oral (mulut), fase anal (dubur), dan selanjutnya, fase genital (kelamin), demikian Freud, ahli jiwa melihatnya. Demikian pula dengan Erick Fromm. Anak akan menjadi sebagaimana dia diasuh dan dibesarkan.

Gangguan selama fase oral, dapat menyisakan rasa tidak aman anak nantinya. Demikian pula jika hal itu terjadi selama fase anal. Toilet training, misalnya memaksakan anak harus terjadwal persis jam buang air besarnya, kapan dipaksa harus berkemih, juga menyisakan ketegangan anak di hari-hari kemudian.

Diduga fiksasi selama fase oral, yakni ketika anak merasa nyaman dengan mulutnya (oral), jika fase ini dilalui dengan ketegangan, dapat menimbulkan kegelisahan. Pada masa anak selalu memasukkan apa saja ke mulutnya; dan ini adalah bagian dari proses ‘belajar’. Melarang atau mengekang anak ketika fase oralnya belum dilewati dengan mulus tanpa kekangan, bisa mengganggu perkembangannya nantinya. Bahkan perokok dewasa sampai-sampai diduga fase fiksasi oral masa kecilnya belum diselesaikan.

Fase oral yang tidak selesai diduga menjadi penyebab anak yang suka mengisap jari tangannya. Anak merasa terobsesi untuk melakukannya, dan merasa aman, nyaman dan terlindung selama mengisap jarinya. Semacam reaksi pengalihan. Tanpa itu anak merasa gelisah, merasa takut, merasa tidak aman.

Maka mestinya jangan kekang anak yang terobsesi mengisap ibu jari atau jari tangan lainnya, apalagi dengan paksa, dan memberi hukuman, jika anak masih tidak bisa meninggalkan kebiasaan itu. Mengekang atau melarang, berarti anak membawanya jadi gelisah, tegang, dan mungkin menjadi sangat merasa tidak aman (insecure). Kondisi demikian tidaklah menyehatkan.

Sudah barang tentu, sambil membiarkan anak menikmati mengisap jari, sebagai pengasuh yang bijak ketika mengalihkannya, teruslah ciptakan suasana rasa aman dan terlindung bagi anak. Ketika anak berada di antara teman-teman, di tempat orang banyak, mungkin termasuk juga ketika memasuki wilayah publik di tengah orang asing baginya. Membiarkan anak merasa seorang diri, akan menyiksanya, dan menjadikan dia tetap perlu mengandalkan cara mengisap jarinya sebagai cara yang dirasa anak aman untuk pelindung diri. Tentu segala sesuatu ada waktunya. Anak tidak bisa terus menerus membiasakan diri mengisap jarinya sampai dewasa. Terlebih saat mulai masuk sekolah. Berangsur-angsur kebiasaan yang bagi kebanyakan orang dianggap tidak elok, perlu dikendurkan. Caranya bukan dengan paksaan, kekerasan, terlebih mengejeknya. Bagaimana?

Upayakan dengan membuat anak merasa tidak enak lagi dengan kebiasaan mengisap jari tangannya, dengan tidak mengurangi rasa aman anak di manapun sedang berada, ciptakan keadaan agar anak merasa jera dengan kebiasaan mengisap jari tangannya. Misal, dengan mengoleskan zat pahit di jari tangan yang biasa diisapnya. Kebiasaan di Indonesia, dengan memakai brotowali (herbal untuk jamu yang sangat pahit).

Brotowali dapat dibeli di pasar-pasar tradisional, atau tukang jamu gendong. Cara mengolesi botowali dinilai aman dalam mengatasi anak yang mengisap jari tangannya. Karena selain tidak beracun, rasa pahitnya sangat ampuh untuk membuat anak jadi kapok melanjutkan kebiasaan mengisap jempolnya. Oleskan brotowali saat anak tertidur.

Dari pengakuan banyak ibu yang melakukan cara ini, biasanya membuahkan hasil. Dengan bertambahnya usia, anak sudah semakin bertambah matang jiwanya. Dari bersosialisasi di sekolah, anak juga belajar, bahwa teman-temannya tidak mengisap jari tentu saja tidak membuat anak merasa dipermalukan. Dengan cara tersebut perkembangan kejiwaan anak tidak tercederai, namun menemukan solusinya.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait