Cegah Infeksi Dengan Zink

Beberapa dekade terakhir ini, zink atau zat seng merebut perhatian. Pasalnya, selain terbukti penting untuk daya tahan, banyak anak ternyata kekurangan mineral ini. Bahkan WHO menyatakan Indonesia berisiko tinggi kekurangan asupan zink karena kebanyakan hanya mengonsumsi 50% dari angka kecukupan gizi.

Menilik peran zink
Zink adalah mineral penting yang turut membentuk lebih dari 300 enzim dan protein. Zink terlibat dalam pembelahan sel, metabolisme asam nukleat, dan pembuatan protein.

Zink juga membantu kerja beberapa hormon termasuk hormon kesuburan, juga hormon yang diproduksi kelenjar di otak, tiroid, adrenal, dan timus. Contohnya, hormon timulin di kelenjar timus untuk membuat sel limfosit T hanya akan aktif bila sudah berikatan dengan zink. Padahal sel-T ini merupakan pasukan sel darah putih yang menunjang daya tahan tubuh. Hormon prolaktin juga membutuhkan zink untuk menstimulasi ASI dan pertumbuhan kelenjar payudara.

Sebagai antioksidan kuat, zink mencegah kerusakan sel dan menstabilkan struktur dinding sel. Zink berperan dalam proses penyembuhan luka dengan cara merangsang pembentukan dan pemindahan sel kulit ke daerah luka.

Bila kekurangan
Kekurangan zink ringan menimbulkan kurang nafsu makan disertai penurunan berat badan, buta senja, dan mudah terinfeksi. Pengecapan dan penciuman juga bisa terganggu karena sel-sel perasa rusak akibat berkurangnya enzim carbonic anhydrase. Enzim ini hanya bisa terbentuk kalau ada zink.

Kekurangan zink sedang menyebabkan hambatan pertumbuhan, kekurangan hormon kesuburan (hipogonadisme), dan melambatnya penyembuhan luka. Yang lebih berat, timbul gejala kerdil, anak sering sakit karena kurang sel darah putih, kelenjar timusnya mengecil, botak, kelainan kulit dan pencernaan, diare, dan juga gangguan emosi. Laporan terakhir menunjukkan kekurangan zink bisa menyumbang Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD). Saat ini, zink juga dihubungkan dengan pengobatan AIDS, kanker mulut rahim dan prostat serta terjadinya atherosklerosis.

Di samping fungsinya, zink juga dapat menimbulkan keracunan. Dengan dosis 150-450 mg/hari, terlihat adanya penurunan status mineral lain seperti tembaga (Cu), perubahan fungsi zat besi, merendahnya fungsi daya tahan tubuh, dan rendahnya kadar kolesterol baik (HDL).

Suplementasi zink untuk cegah diare
Menurut dr. Yati Soenarto, SpA(K) ahli pencernaan anak yang juga staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, zink merupakan mineral yang terbukti bermanfaat dalam perbaikan selaput lendir di saluran cerna. Kekurangan zink dapat terjadi bila kurang mengonsumsi produk hewani, penyerapannya terganggu, selaput lendir rusak, dimakan bersamaan dengan fitat dan kalsium, atau karena pengeluaran bertambah melalui diare dan muntah.

Gangguan penyerapan zink mengakibatkan gangguan pertumbuhan, anak mudah terkena infeksi (antara lain diare), dan gangguan-gangguan lainnya. Penelitian Dr. Bhandari menunjukkan suplementasi zink setiap hari untuk anak-anak usia 6 sampai 30 bulan secara bermakna menurunkan angka diare berat dan persisten serta menurunkan jumlah anak-anak yang mengalami diare berulang.

(PT.Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Anakku)

Share artikel ini:

Artikel Terkait