Dampak Sikap Terlalu Melindungi (Over protective) terhadap Perkembangan Balita"

Sikap melindungi, merupakan suatu naluri alamiah setiap orangtua terhadap anak-anaknya. Terlebih lagi bila sang anak, masih berusia balita atau dianggap masih belum cukup memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk mandiri. Namun demikian, beberapa orang tua terkadang melakukan perlindungan terhadap balitanya secara berlebihan (over protective), contohnya cara melarang anak untuk makan sendiri karena khawatir akan membuat bajunya kotor, melarang anak memanjat atau mengambil mainannya karena takut anak terjatuh, melarang anak memakai pakaiannya sendiri karena khawatir tidak rapih, selalu mendampingi anak di sekolah karena khawatir anak diganggu temannya, dsb. Semua contoh larangan tersebut, pada dasarnya muncul karena orangtua ingin melindungi balitanya. Namun bila hal ini terjadi secara terus menerus, maka anak akan kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri, bereksplorasi serta menambah wawasan pengetahuan dan ketrampilannya. Sikap seperti ini sering disebut sebagai sikap terlalu melindungi (over protective). Adanya kecemasan orangtua terhadap resiko yang akan terjadi bila anak dibiarkan melakukan sesuatu sendiri, sehingga akhirnya orangtua cenderung membatasi, banyak melarang serta terlalu menekan kebutuhan anak.

Segala hal, apabila dilakukan secara berlebihan pasti akan memiliki dampak yang buruk. Demikian pula dengan sikap melindungi. Apabila anak terlalu dilindungi, maka hal ini juga justru akan memberi dampak yang merugikan bagi anak itu sendiri.

Beberapa dampak yang bisa ditimbulkan dari sikap "over protective" orangtua terhadap balitanya, adalah:

  1. Anak tumbuh menjadi seorang yang kurang percaya diri. Dengan selalu dibantu, maka anak akan menganggap bahwa dirinya lemah atau tidak berdaya untuk melakukan sesuatu sendiri.
  2. Anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang mandiri. Orangtua yang over protective biasanya selalu mengambil alih tugas-tugas anak karena khawatir anak akan mengalami kesulitan. Akibatnya anak menjadi kurang terlatih menggunakan ketrampilan dan kemampuannya sendiri, sehingga ia tumbuh menjadi sosok yang selalu tergantung pada orang lain.
  3. Anak tumbuh menjadi pribadi yang rapuh dan mudah menyerah. Orangtua yang over protective biasanya tidak memberi kesempatan pada anak untuk merasakan kegagalan. Padahal dengan adanya kegagalan tersebut, seorang anak bisa belajar menjadi pribadi yang tangguh.
  4. Anak menjadi pribadi yang mudah cemas dan kurang berani menghadapi dunia luar. Kebiasaan terlalu melindungi anak, membuat anak menganggap dunia luar adalah sesuatu yang tidak aman baginya sehingga ia akan merasa cemas setiap kali harus menghadapi dunia luar tanpa kehadiran orangtua atau orang yang melindunginya.
  5. Anak menjadi pribadi yang kurang trampil dalam bersosialisasi. Orangtua yang over protective akan cenderung terlalu membatasi ruang lingkup pergaulan anak, karena mereka khawatir terhadap akibat buruk yang bisa terjadi pada anak. Akibatnya, ketrampilan bersosialisasi anak tidak terasah dengan baik.
  6. Anak akan memiliki wawasan pengetahuan yang sempit, kurang kreatif dan kurang memiliki fleksibilitas berfikir. Hal ini terjadi karena sikap orangtua yang over protective, cenderung tidak memberikan kesempatan untuk bereksplorasi yang sangat diperlukan dalam perkembangan proses berpikirnya.
Melihat berbagai dampak negatif yang bisa timbul dari adanya sikap over protective tersebut, maka hendaknya orangtua dapat bersikap lebih bijak terhadap balitanya. Sikap melindungi anak, sebenarnya sah-sah saja, tetapi hendaknya orangtua mampu mempelajari sampai batas mana seorang anak harus dilindungi. Misalnya saja dengan cara melonggarkan batasan-batasan pada wilayah-wilayah yang sebenarnya masih cukup aman bagi anak serta memberi kesempatan pada anak untuk belajar tidak hanya dari keberhasilan tapi juga dari kegagalan atau kesalahan yang dilakukannya. Sehingga dengan demikian, diharapkan perkembangan anak akan tetap dapat berlangsung optimal.

Share artikel ini:

Artikel Terkait