Disiplin vs Hukuman

Mengajarkan disiplin pada si kecil bukanlah hal yang mudah bagi orang tua. Orang tua dituntut untuk ekstra sabar dalam menghadapi ulah si kecil yang kian hari kian bertambah “kepandaiannya”. Dan aturan yang sesuai dengan usia si kecillah yang dapat mendukung terbentuknya kedisiplinan tersebut.

“Seorang anak harus dikenalkan dengan kedisiplinan sejak dini, yakni sejak anak sudah dapat memahami sesuatu,” demikian dikatakan oleh Henny Supolo dalam acara talkshow yang diadakan Dancow Parenting Center dan Delta Radio 99.1 FM pada hari Kamis, 13 Maret 2008.

Orang tua mempunyai tugas dan kewajiban untuk memberikan bekal pelajaran yang sangat diperlukan oleh si buah hati dalam menghadapi kehidupannya kelak. Dan mengajarkan kedisiplinan adalah salah satunya. “Dan cara yang termudah adalah dengan mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, karena kebiasaan adalah merupakan bagian dari disiplin,” demikian dijelaskan oleh Henny.

Kebiasaan-kebiasaan ini misalnya antara lain adalah waktu untuk makan, tidur, bermain, belajar, dan lain sebagainya. Dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan selalu konsisten akan membuat si kecil menjadi terbiasa, karena pada dasarnya, si kecil adalah seorang pengamat dan peniru ulung yang handal. Anak akan selalu melakukan eksplorasi di lingkungan sekitarnya, dan reaksi yang diterimanya adalah dari hasil perbuatannya serta pembentukan kebiasaan oleh orang tua. Jadi, kenalkanlah disiplin melalui kebiasan sehari-hari yang biasa dilakukan oleh si buah hati.

Bagaimana Caranya?
Henny Supolo menjelaskan bahwa sebelum mengajarkan disiplin pada anak, hendaknya orang tua sudah disiplin terlebih dahulu. Karena orang tua adalah role model yang tepat bagi anak. Anak akan mengamati dan mempelajari apa yang biasa dilakukan oleh orang tuanya. Selanjutnya adalah beri pemahaman pada anak tentang perlunya dia disiplin dan tetapkan aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Dalam hal ini adanya komunikasi yang baik sangat dituntut, karena dengan komunikasi yang baik akan memudahkan anak untuk memahami tentang pentingnya kedisiplinan tersebut.

Informasikan pula pada anak, bahwa peraturan yang dibuat bersama tersebut akan berguna untuk kenyamanan bersama. Dan bila anak sudah paham, maka anak akan lebih siap untuk menerima peraturan lain yang lebih banyak dan lebih kompleks.

Dan apabila anak sudah paham dengan aturan-aturan yang telah dibuat bersama tersebut, terangkan pada anak mengenai konsekuensinya apabila aturan-aturan tersebut dilanggar. Konsekuensi yang akan ditetapkan pun, hendaknya juga telah diketahui dan disepakati oleh si buah hati.

Aturan-aturan yang telah disepakati bersama, hendaknya harus konsisten, dan bila ada perubahan peraturan (misalnya, adanya orang lain yang membuat peraturan tersebut dilanggar), orang tua harus menjelaskan mengapa peraturan tersebut berubah, sehingga anak akan paham bahwa hal itu hanyalah kondisi “sementara” saja.

Henny Supolo menegaskan bahwa mengajarkan disiplin pada anak hendaklah bukan suatu paksaan, melainkan merupakan suatu penerapan kebiasaan yang positif, dan sangat diperlukan pemahaman yang baik dari kedua belah pihak.

Perlukah Hukuman?
Bagaimanakah apabila si kecil tidak menjalankan aturan-aturan yang sudah kita buat? Bijaksanakah bila kita memberikan hukuman?

Henny Supolo dalam talkshow kali ini sangat tidak setuju akan adanya hukuman yang diberikan pada anak, apalagi bila hukuman tersebut adalah hukuman fisik.

Hukuman, bagi orang tua memang merupakan cara yang efektif untuk menegakkan kedisplinan. Namun, belum tentu bagi si buah hati. Anak yang dihukum tanpa diberi penjelasan akan merasa sangat marah, dan hal ini tidak baik bagi perkembangan psikologisnya. Selain itu anak juga akan merasa diperlakukan tidak adil. Jadi, hukuman hanya positif bila dilihat dari sudut pandang orang tua saja, bukan dari sudut pandang si anak.

Jadi, cara yang paling efektif apabila si kecil tidak menjalankan aturan-aturan yang telah dibuat bersama adalah dengan cara memberikan “hukuman” yang mendidik, hukuman yang berdampak positif bagi anak, yang dapat dijadikan media pembelajaran bagi anak. Misalnya, anak diminta menulis tentang perasaannya ketika melakukan kesalahan atau mengapa dia tidak mau melakukan aturan yang telah ditetapkan (apabila anak sudah bisa menulis), atau anak diminta berdiri di suatu pojok ruangan selama waktu tertentu (jangan terlalu lama, misalnya hanya 1 menit), dan hukuman lainnya yang bersifat mendidik bagi anak.

Dan usahakan setelah memberi “pelajaran” bagi si buah hati, ajak mereka untuk berkomunikasi kembali, dan terangkan mengenai pentingnya aturan-aturan tersebut bagi mereka. Buat mereka menjadi lebih mengerti lagi.

 

Kebiasaan Makan Si Kecil…
Salah satu kebiasaan yang cukup memusingkan orang tua, terutama kaum ibu adalah kebiasaan makan. Baik kebiasaan memilih bahan makanan, kebiasaan waktu makan, maupun cara makan si kecil.

Mengajarkan kebiasaan makan bagi si kecil memang susah-susah gampang. Mifta Novikasari, seorang praktisi gizi dari PT. Nestle dalam acara yang sama menjelaskan bagaimana menerapkan kebiasaan makan yang baik, yakni:

  • Latih si kecil untuk menepati jadwal makan. Hal ini dimaksudkan agar anak menjadi disiplin untuk waktu makan, dan agar pencernaan mempunyai pola yang baik dalam mencerna makanan
  • Perhatikan tata cara makan, misalnya latih si kecil untuk selalu makan di meja makan, agar ada komunikasi dengan anggota keluarga yang lain
  • Gunakan alat makan yang sesuai dengan umur, misalnya untuk si kecil yang sudah bisa minum dengan menggunakan gelas, maka latih si kecil agar minum susu dengan menggunakan gelas, bukan dengan botol
  • Latih anak untuk makan sendiri. Hal ini juga akan melatih ketrampilan dan kemandirian anak

Selain kebiasaan-kebiasaan tersebut, yang tidak kalah pentingnya juga adalah latihlah si kecil agar dapat menyukai seluruh makanan. Anak-anak kadangkala identik dengan susah makan. Dan orang tua perlu mensiasati untuk dapat mengenalkan beragam makanan bagi si buah hati.

Salah satu tujuan pemberian beragam makanan adalah untuk memenuhi kebutuhan gizi si kecil. Makanan beragam atau makanan seimbang ini terdiri dari 4 sehat 5 sempurna, yakni makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah, dan susu. Makanan pokok sebagai sumber karbohidrat, lauk-pauk sebagai sumber protein, sayur dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral, dan susu sebagai pelengkap.

Protein, merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan oleh si kecil. Fungsi utama protein adalah pembentukan (sintesis) sel-sel tubuh. Setiap hari selalu ada sel-sel tubuh yang rusak dan perlu diganti. Keseimbangan antara jumlah sel yang rusak dengan sintesis sel dapat tercapai jika jumlah protein yang dikonsumsi sesuai dengan anjuran. Tentunya, protein sangat berguna untuk pertumbuhan si kecil. Kekurangan protein dapat berakibat pergantian sel-sel tubuh yang rusak akan terhambat, dan yang paling membahayakan adalah pertumbuhan si kecil akan terhambat pula.

Protein secara alami bisa ditemukan pada pangan nabati dan juga pangan hewani. Protein pada sumber hewani contohnya: telur, susu, daging dan ikan. Protein dari sumber nabati misalkan: kacang-kacangan seperti kacang hijau, kacang tanah, tahu, dan tempe. Protein juga terkandung pada makanan maupun minuman yang diperkaya.

Protein disusun oleh molekul-molekul pembentuk yang disebut asam amino. Kandungan asam amino pada pangan hewani dan pangan nabati berbeda. Hal inilah yang membedakan kualitas kedua macam protein tersebut. Kualitas protein hewani lebih baik daripada protein nabati, karena asam amino pada protein hewani lebih lengkap daripada pada protein nabati.

Mifta Novikasari menjelaskan bahwa kebutuhan protein bagi si kecil adalah:
- umur 1 – 3 th : 25 gr/hr
- umur 4 – 6 th : 40 gr/hr

Angka tersebut sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang telah dianjurkan oleh DepKes RI.

Sebagai contoh, konsumsi 2 saji DANCOW1+ per hari sudah mencukupi kebutuhan nutrisi protein sekitar 50%, sedangkan 50% lainnya dapat diperoleh dari berbagai ragam makanan seperti yang disebutkan sebelumnya

Share artikel ini:

Artikel Terkait