Dukungan Bagi Si Kecil Selama Berpuasa

BERPUASA bagi si kecil sebuah pembelajaran. Bukan saja badan dilatih sejak dini untuk berdisipilin dalam hal makan, minum, melainkan dalam hal mengendalikan emosi juga. Sejumlah sisi positif bisa dipetik dari membiasakan anak ikut berpuasa sejak kecil.

Namun yang tidak boleh terjadi, kegiatan berpuasa mengganggu kesehatan jasmani maupun jiwanya. Anak tidak boleh sampai mengalami stres selama berpuasa. Untuk itu perlu dipersiapkan, agar asupan menu harian tidak berkurang, tidak pula sampai berlebihan. Kecukupan porsi gizi anak maupun kelengkapan zat gizi yang harus dipenuhi.

Sebaiknya, anak menjalani kegiatan berpuasa tanpa merasa dipaksa, dan untuk itu anak perlu diajak memahami makna puasa, dan itu dijadikan persiapan awal yang diperlukan. Secara medis pun berpuasa tentu menyehatkan, selama kegiatan itu mengikuti kaidah gizi.

Jadi ketika anak meminta untuk ikut melaksanakan ibadah berpuasa, biarkan anak menempuhnya tanpa perlu adanya hambatan, atau larangan. Tugas ibu untuk selain mempersiapkan, juga menciptakan kondisi agar tidak menganggu kesehatannya.

Soal bangun lebih dini, dan jadwal makan yang berpindah waktu, itu yang menjadi masalah yang bukan saja pada usia kanak-kanak. Namun perlu disadari kalau anak tentu, lebih sulit bradaptasi menghadapi perubahan kondisi seperti itu. Anak butuh waktu tidur lebih panjang dibanding orang dewasa. Maka jangan sampai kecukupan tidur anak berkurang karena harus bangun lebih pagi. Lunasi kekurangan tidurnya dengan menambah tidur siangnya.

Upayakan pula agar menu sahur dan waktu buka sama lengkapnya dengan menu harian, mengingat zat gizi diperlukan untuk mendukung pertumbuhan. Tidak perlu berlebih, namun tetap sesuai dengan kebutuhan fisiknya. Memberi porsi berlebihan selama berpuasa justru menambah persoalan pada berat badan nantinya.

Peran ibu dan ayah juga untuk tetap memberi dukungan sekiranya anak mulai merasakan betapa beratnya melakukan kegiatan berpuasa. Dalam masa berpuasa, mungkin muncul masalah, mulai dari persoalan gampang mengantuk, sampai tak tahan merasakan lapar, terlebih haus.

Selama keluhan yang muncul tidak mengganggu, dukungan untuk tetap melanjutkan berpuasa tidak boleh sampai padam. Tentu ibu perlu jeli melihat kapan berpuasa sudah mulai mengganggu kesehatan anak. Keluhan nyeri lambung yang berlebihan, menjadi petunjuk anak tak tahan lagi menahan rasa laparnya.

Maka ada baiknya memastikan kalau lambung anak tidak bermasalah sejak di awal hari puasa. Demikian pula halnya dengan kecukupan asupan cairan. Tubuh anak berbeda dengan orang dewasa dalam hal kebutuhan cairan. Proporsi kandungan cairan tubuh anak lebih besar dibanding orang dewasa. Maka anak lebih rentan terhadap kekurangan cairan.

Bila asupan cairan selama sahur tidak mencukupi, tubuh anak bisa berisiko terancam kekurangan cairan (dehidrasi). Kondisi begini tentu tidak menyehatkan jika berlangsung setiap hari. Bibir kering, tidak berkeringat, kulit kering, jarang buang air kecil, adalah tanda tubuh anak kekurangan cairan.

Selama hal-hal semacam itu semua tidak ada, dan anak kelihatan segar, tetap beraktivitas, bukan halangan untuk melanjutkan kegiatan berpuasa. Namun bijaknya, jangan paksa anak menunaikan penuh hari puasanya kalau ia sendiri sudah “menyerah”.

Share artikel ini:

Artikel Terkait