Gizi Harian Yang Perlu Ibu Tahu

Gizi menentukan banyak hal seperti tumbuh-kembang optimal anak, kecerdasan, dan kesehatan. Tubuh yang kita miliki merupakan otobiografi gizi harian kita sejak kecil. Kelebihan atau kekurangan gizi adalah cermin apa yang kita makan sejak kecil.

Ibu melakukan peran besar seperti apa otobiografi gizi seseorang. Karena turut menentukan nasib anak sehingga perlu memiliki pengetahuan hidup sehat. Di bawah ini beberapa hal mendasar yang perlu ibu ketahui, agar dapat hidup sehat sekarang dan di kemudian hari.

  1. ”Menu Seimbang” adalah menu yang lebih banyak karbohidrat (nasi, ubi, jagung, ketela, sagu), seperlimanya protein, dan secukupnya saja lemaknya.

    Menu menyehatkan adalah menu model nenek moyang kita. Nasi sepiring, ikan, atau daging, dan tahu tempe sepotong, sayur lodeh, sayur asam, tumis kacang panjang, dan buah. Lebih banyak karbohidrat, cukup serat (fiber), kaya akan vitamin dan mineral. Lebih baik jika semua bahan makanan berasal dari alam.

  2. Putus Asa Menghadapi Anak Tak Suka Sayur. Keluhan ibu karena anak tak suka sayur hampir umum terdengar. Kekurangan sayur berarti usus kekurangan serat. Serat bermanfaat bukan saja membantu kerja usus, tapi juga menyerap kolesterol berlebih. Khususnya serat tak larut dalam air, dan semua serat dalam umbi-umbian, kacang-kacangan, dan biji-bijian atau pepadian berkatul (cereal bran) serta bebuahan. Penduduk yang umurnya panjang banyak mengkonsumsi menu berserat.

    Menu berserat juga mencegah kanker usus, mencegah sembelit, serta terbebas dari risiko kekurangan vitamin dan mineral.

  3. Bukan Manis tapi Zat Pati. Gula pasir tidak lebih menyehatkan dibanding air tebu. Maka pilih gula merah ketimbang gula pasir, dan pilih gandum ketimbang terigu. Hal itu dikarenakan air tebu dan gandum kehilangan zat asli alam yang hilang dalam pengolahan menjadi gula pasir. Maka biarkan tubuh memperoleh gula dari zat pati alami.

    Makan manis lekas menimbulkan rasa lapar. Sebaliknya makan zat pati dari nasi, ubi, ketela, jagung, atau sagu, yang memerlukan waktu untuk memasaknya menjadi gula sehingga selain lebih lama menimbulkan rasa lapar, kandungan seratnya pun lebih banyak.

  4. Bukan Jajanan Tapi Meja Makan Rumah. Lebih arif memilih menu meja makan rumah. Selain bahan makanannya serba segar, berkualitas gizinya, mengolahnya juga terkendali seperti tidak kelewat panas, tidak kelewat lama, tidak dengan membakar, tidak menambahkan zat kimiawi tambahan, dan lebih bersih (safety food).

    Membiarkan jajan tidak menyehatkan. Lidah anak terbentuk salah, karena terpikat oleh penyedap menu bukan buatan rumah. Terbiasa menu restoran, menjauhkan anak dari meja makan rumah. Padahal pengawet, penyedap, pewarna, pasti tidak menyehatkan kalau dikonsumsi untuk waktu lama bertahun-tahun.

  5. Terus Minum Susu Sampai Tua. Sebelum terlambat, anak sebaiknya terus minum susu sampai tua. Karena kalsium dalam susu diserap paling sempurna dibanding sumber kalsium dari makanan lain.
  6. Gaya hidup anak dibiarkan kurang gerak (sedentary life). Kurang gerak dapat disebabkan karena tuntutan kegiatan sekolah maupun jenis permainan yang dipilih. Anak sekarang lebih banyak duduk di depan monitor komputer main games, atau nonton TV, kurang gerak, serba remote control, dan alat elektronik serba otomatis.

    Menu harian yang kelebihan kalori dapat menimbun gajih di kulit dan organ jeroan, kalori berlebih tidak dibakar sehingga jadi lemak. Cukup dengan berlari-lari di luar rumah selama 40 menit sudah bisa membakar secangkir es krim.

    Aktivitas fisik diperlukan untuk melancarkan metabolisme kalsium. Jika kurang bergerak, metabolisme tulang terhambat.

  7. Lemak yang Bersahabat Dengan Jantung. Seluruh anggota keluarga dibiasakan hanya menerima lemak menyehatkan. Yakni lemak tidak jenuh, dan sedikit lemak jenuh. Kelebihan lemak jenuh menambah risiko dinding pembuluh darah berkarat lemak (atherosclerosis) sebagai penyebab jantung koroner, stroke, ginjal, dan bolamata.

    Maka pilihlah lebih banyak lemak tak jenuh seperti minyak zaitun, minyak jagung, minyak bunga matahari, minyak omega-3 dari ikan, dan omega-6, dan omega-9 dari tumbuhan (kacang-kacangan).

    Selain itu tubuh membutuhkan kolesterol. Sedikitnya sekitar 300 miligram sehari. Sebutir telur mengandung 250 miligram kolesterol. Satu butir telur, dengan catatan kendalikan konsumsi sumber kolesterol lainnya (dari jeroan, otak, udang) sudah mencukupi kebutuhan tubuh sehari. Minyak goreng tergolong lemak jenuh. Minyak goreng jajanan (ayam goreng, dan jajanan) tergolong minyak trans yang juga tidak menyehatkan.

Bagaimana ibu menata, dan memilihkan menu bagi setiap anak, di situ nasib kesehatan anak sudah dimulai, dan diawali.

Share artikel ini:

Artikel Terkait