Haruskah Anakku Selalu Menjadi Juara?

Ada ungkapan mantan petinju legendaris Mohamad Ali, yang pas untuk kita ingat, seperti dikutip di buku-buku motivasi. Menurutnya, kemenangan yang diraihnya di atas ring tinju, yang disiarkan di televisi seluruh dunia, sebetulnya adalah kemenangan kedua. Lalu, apa kemenangan pertamanya?

Kemenangan pertamanya justru tidak diliput dan tidak terjadi di atas ring, melainkan di luar ring. Ketika dia mampu melawan kemalasan untuk latihan, itu kemenangan. Ketika dia berkonsentrasi untuk mengembangkan kelebihan yang dia miliki, itu kemenangan. Ketika dia mampu mengerem hawa nafsunya yang mengajak buang-buang waktu, duit, atau terlena oleh liputan media dan pujian penggemar, itu kemenangan. Ini semua adalah kemenangan pertama.

Menginginkan, mengarahkan, dan mendidik anak untuk menjadi juara (the winner), itu sangat bagus dan sangat dibutuhkan oleh anak. Dengan cara ini, kita telah memberi bekal mental pada anak tentang bagaimana mengatasi tantangan dan bagaimana mengembangkan diri. Menurut para orangtua, warisan mental itu jauh lebih penting ketimbang warisan material atau finansial.

Hanya seperti apa modelnya? Ide yang bagus kita anut adalah kejuaraan itu perlu kita  pahami bukan dengan mengalahkan anak lain dalam sebuah kontes atau pertandingan, melainkan mengalahkan energi negatif yang ada pada dirinya. Misalnya saja malas belajar, selalu bilang tidak bisa, mengambek, selalu ingin menang sendiri tanpa peduli orang lain di rumah, rewelnya sulit terkendalikan, dan seterusnya.

Caranya bagaimana? Selain dibutuhkan pemahaman dan pencegahan, yang harus dilakukan adalah menegakkan disiplin dari yang kecil-kecil. Disiplin akan membuat dia belajar mengontrol-diri atau meraih kemenangan-diri. Jadi, menjadi juara di sini adalah menang atas dirinya. Walaupun dia kemudian meraih juara melalui pertandingan, ini tetap perlu kita pahamkan bahwa bukan itu hakekatnya. Hakekatnya tetap kemenangan-diri.

Soal kejuaraan yang diraihnya itu perlu kita jadikan sebagai power of story: sejarah yang membuktikan bahwa dia bisa! Inilah yang mahal harganya dan asalkan kita teliti dan peduli, momen itu bisa kita temukan dalam keseharian anak. Kata Glenn Doman, penulis Teach Your Baby To Read, setiap anak yang lahir, dia memiliki potensi kecerdasan yang lebih besar dari yang pernah digunakan oleh Leonardo Da Vinci. Buktinya, siapa yang mengajari mereka berbahasa?

Jadi, setiap anak pada dasarnya sudah memiliki mental juara dengan kecerdasannya. Sejauh itu difasilitasi dan diarahkan, dia akan menjadi juara terus, entah juara dalam arti meraih kemenangan pertama atau kemenangan pertama dan kedua. Lebih-lebih jika anak itu melihat bukti dari orangtua / keluarga besarnya. Keturunan memang tidak menjamin, tetapi cukup memberi kontribusi. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait