Hukuman Fisik? No, Way! Smart Discipline? Yes!

Pengasuh rubrik yang terhormat,

Anak saya kini berusia lima tahun. Sore hari saya mengijinkan ia main sekitar pukul 16.00 WIB hingga menjelang maghrib, kecuali hari Sabtu ia bisa bermain lebih lama. Namun belakangan ia mulai melanggar kesepakatan alias tidak disiplin. Pulang lebih malam, dan kadang tidak mau diajak pulang. Terhadap pelanggaran itu kami menghukum dengan cara tidak boleh main untuk sekian lama. Benarkah cara kami, atau ada cara hukuman lain yang lebih tepat? Bagaimana dengan hukuman fisik? Terimakasih atas penjelasannya.
Ny. Rina – Jakarta

Ny. Rina yang terhormat,
Punya anak disiplin, pastilah menyenangkan. Hukuman yang Anda terapkan pada si kecil dengan membatasi sesuatu yang ia sukai dalam hal ini bermain sudah tepat, karena pada dasarnya sejak kecil anak harus diajarkan disiplin. Membiarkan anak bebas melakukan apa maunya, justru akan memunculkan risiko tinggi terhadap munculnya tingkah laku antisosial dan kelak berpotensi menjadi orang yang senang menganiaya.

Dengan mengajarkan disiplin, secara tidak langsung orangtua membantu mengubah tingkah laku anak ke arah yang lebih baik. Tidak ada aturan yang baku dalam menerapkan disiplin pada anak, karena sifatnya sangat individual. Namun, pada prinsipnya orangtua harus mampu mengendalikan marah ketika mendapati anak melanggar disiplin, serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi.

Hukuman
Hukuman yang bisa Anda berikan padanya ada bermacam-macam, termasuk seperti melarangnya bermain untuk sekian lama. Mengenai hukuman fisik, sebagian pakar psikologi tidak membolehkan. Alasannya, anak yang terbiasa mendapat hukuman fisik, ia cenderung melakukan kekerasan ketika dewasa. Sementara, sebagian lain memperbolehkan. Bahkan hukuman sebagai shock teraphy (hukuman yang berat) asalkan tidak disertai emosi boleh diberikan. Ada baiknya Anda melakukan hal-hal berikut:

  • Ajak ia berkomunikasi, lalu koreksi langsung atas kesalahannya, beri konsekuensi jika ia melanggar sekian kali. Cara ini penting untuk pembelajaran si kecil.
  • Jika cara ini belum juga dipatuhi, cobalah bersikap tegas, misalnya dengan menggunakan bahasa tubuh (melalui tatapan mata, menunjukkan ketidaksenangan Anda dan sebagainya).
  • Memberi hukuman dengan berdiri di pojok ruangan dengan kaki atau tangan diangkat untuk sekian waktu. Yang penting anak harus tahu alasan kenapa ia dihukum. Hukuman seperti ini akan membuat situasi yang tidak menyenangkan pada anak.
  • Hindari memberi label negatif, seperti “anak bandel”. Cara ini dapat merusak harga diri anak secara permanen.
Smart Discipline
Di beberapa negara maju, saat ini para profesional maupun orangtua tengah antusias mengembangkan sistem pengajaran baru untuk menanamkan disiplin pada anak-anak mereka. Sistem yang diberi nama Smart Discipline. Ini konon dapat memotivasi anak untuk mematuhi aturan yang telah disepakati bersama dengan menyenangkan dan tanpa paksaan.

Smart discipline dapat berisi peraturan-peraturan yang ingin Anda sepakati bersama si kecil, misalnya: tidur tepat waktu, bangun pagi dan siap ke sekolah tepat waktu tanpa omelan orangtua, mematuhi peraturan tanpa diingatkan berkali-kali, dan banyak hal lainnya.

Jika cara ini lebih baik, tak ada salahnya Anda dapat menerapkannya pada si kecil. (advertorial)

Bunda, jagalah ucapan Anda karena sebagian anak akan membangun identitas diri dari komentar yang negatif, walaupun Bunda mengucapkannya secara spontan dan tidak bermaksud merendahkan diri si kecil.

Share artikel ini:

Artikel Terkait