Ikatan Emosi (Bonding) dengan Bayi Anda

Emosi memainkan peranan penting dalam hidup seseorang. Karena melalui emosilah seorang akan merasakan getaran-getaran perasaan dalam dirinya maupun orang lain. Sejak bayi dilahirkan, emosinya berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan orangtuanya, kemudian juga dengan orang-orang lain di lingkungannya. Bulan-bulan serta tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan masa penting dan rawan dalam perkembangan emosi anak. Bila orangtua kurang menyadari pentingnya arti kualitas hubungan serta sikap penuh kasih sayang pada masa ini, maka anak bisa mengalami berbagai masalah dan gangguan emosional yang serius di kemudian hari.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kurangnya kasih sayang pada masa bayi dan anak-anak, akan dapat membahayakan perkembangan anak. Gangguan-gangguan tersebut bisa berupa perkembangan fisik yang terhambat, keterlambatan dalam perkembangan motorik, gagap atau mengalami gangguan bicara, sulit berkonsentrasi, sulit membina hubungan dengan orang lain, agresif dan nakal, kurangnya minat terhadap orang lain, menarik diri, egois, penuntut, bahkan pada taraf yang berat dapat menyebabkan gangguan jiwa.

Sebaliknya bila kebutuhan emosional anak terpenuhi secara seimbang dalam awal kehidupannya, di kemudian hari iapun akan berkembang menjadi individu yang bahagia dan diharapkan mampu mewujudkan potensi-potensinya secara optimal. Karena dengan terbentuknya ikatan kasih sayang , maka anak akan memiliki cukup rasa aman untuk menjalani masa perkembangan selanjutnya.

Ikatan emosi (bonding) berupa hubungan kasih sayang antara bayi dan kedua orangtuanya akan semakin kuat, bila orangtua ada bersama si bayi selama beberapa jam setelah kelahirannya. Adanya ikatan emosi (bonding) ini merupakan hal penting dalam perkembangan anak karena merupakan dasar pembentukan pola hubungan dengan orang lain. Anak akan menyalurkan lagi pola kasih sayang ini dan belajar membentuk persahabatan dengan orang lain. Bersyukurlah kita sebagai orangtua, terutama ibu yang secara naluriah diberikan oleh Sang Maha Pencipta memiliki sifat-sifat "keibuan" terhadap anak-anaknya. Karena dengan sifat "keibuan" inilah seorang ibu dapat mencurahkan kasih sayangnya yang tulus dalam membantu bayinya, yang dengan banyaknya keterbatasan, sudah tentu sangat membutuhkannya. Untuk dapat menjalin ikatan emosi yang erat dengan bayi kita, berikut ini ada beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman bagi orangtua atau orang yang dekat dengan anak dalam melakukan interaksi dengan bayi :

  1. Berikan rangsangan positif kepada bayi. Misalnya dengan belaian/ sentuhan / pijatan – pijatan lembut , ucapan-ucapan lembut/bisikan-bisikan mesra, kecupan, dan suara-suara yang menenangkan bayi.
  2. Tanggap terhadap kebutuhan bayi. Misalnya bila bayi menangis, segera cari tahu apa yang menyebabkannya untuk kemudian segera mengatasinya.
  3. Ajak anak bermain yang dapat membuatnya gembira atau tertawa. Misalnya dengan main “ciluk ba”, menggelitikinya sesekali, memainkan boneka dengan suara-suara lucu atau menunjukkan wajah-wajah ganjil (memasang ekspresi lucu), membadut (bicara dengan cara yang di lebih-lebihkan), kemudian tertawalah bersama anak. Pada umumnya, kita akan merasa lebih dekat dengan seseorang yang tertawa bersama kita, demikian pula halnya dengan anak.
  4. Sengaja meluangkan waktu bersama anak untuk dapat memberikan kualitas pengasuhan yang baik. Jangan menghadapi anak dengan terpaksa atau hanya hadir secara fisik saja. Usahakan menghadapi anak dengan menghadirkan “hati” juga.
  5. Terima anak apa adanya dengan tulus dan ikhlas, sekalipun ia cacat atau tidak sesuai dengan harapan kita. Sebab penolakan terhadap anak, menyebabkan hubungan orangtua-anak menjadi tegang dan menghalangi orangtua untuk memberikan kasih sayangnya.
  6. Jangan bersikap kasar, kesal dan menunjukkan kemarahan terhadap bayi karena bayi juga bisa merasakan ketidaknyamanan ini dan merekamnya dalam ingatannya sehingga membuat orangtua menjadi “jauh” terhadap anak.

Share artikel ini:

Artikel Terkait