Jangan tularkan stres pada anak

Perasaan cemas, lelah, dan stres yang Anda alami akibat urusan rumah dan kantor, jangan menjadi “virus” yang bisa Anda tularkan ke anak-anak. ”Jangan dikira, buah hati Anda tidak bisa “menangkap” sinyal stres, terutama yang Anda bawa sepulang kerja,” kata Ruth Schmidt Neven, psikolog anak dari Centre for Child and Family di Melbourne.

Anak-anak pun bisa mengalami stres. Mencari perhatian secara berlebihan, rewel, sulit makan atau tidur, dan sering melamun, bisa menjadi petunjuk si kecil terserang stres. Parahnya, stres pada anak yang tidak segera ditangani bisa berdampak munculnya berbagai gangguan, mulai dari masalah tidur, penggunaan narkoba, hingga depresi dan penyakit jantung. Maka itu, stop tularkan stres pada anak, dan simak tips di bawah ini:

  • · Hindari berteriak di depan anak
    Jika Anda dan suami mengalami stres, tentunya gangguan ini akan berdampak buruk terhadap si kecil. Orangtua yang sering bertengkar, apalagi saling berteriak, dapat menyebabkan anak merasa bersalah, tidak nyaman, dan tertekan. Jadi, jika Anda berdua sedang memiliki masalah, jangan diperlihatkan di depan anak. ·
  • Jangan membawa tugas kantor ke rumah
    Selesaikan tugas kantor sebelum pulang ke rumah. Jangan biarkan beban dan tekanan yang Anda dapatkan dari bos atau rekan kerja lainnya ‘mengikuti’ Anda ke rumah. Ketika menemani anak belajar, namun pikiran Anda ke tugas kantor, bisa membuat perasaan Anda tidak tenang. Nah, ketika si kecil melakukan kesalahan, amarah Anda pun memuncak. Bayangkan jika anak melihat Anda sering marah-marah tak keruan dan tanpa sebab, tentu hilanglah kesempatan baginya untuk mendapat kehangatan pelukan, ciuman, dan belaian Anda. ·
  • Jangan pasang wajah cemberut
    Meski Anda mengalami hari yang buruk di kantor atau pusing menghadapi tagihan yang menggunung, sebaiknya jangan memperlihatkan wajah cemberut didepan anak-anak. Jika si kecil melihat ibunya tampak frustasi, kondisi ini akan mempengaruhi jiwanya. Jadi, buat hatinya tenang, dengan senyuman Anda. ·
  • Kunjungi “dunia” si kecil
    Sediakan waktu untuk memperhatikan kebutuhan anak bermain, berkreasi, dan berkhayal. Jangan hanya memikirkan kerja, kerja dan kerja. Anak amat membutuhkan kasih sayang ayah dan ibunya. Karena itu, sering-seringlah berkunjung ke "dunia"-nya. Pahami kemauannya. Langkah ini akan membantu Anda mengendus adanya gejala stres pada buah hati Anda. ·
  • Jadilah teladan
    Lihat bagaimana Anda biasanya mengatasi stres yang Anda alami. Apakah Anda tak mampu mengatasinya dan lebih bersikap menyerah, atau apakah Anda berusaha keras mencari penyebab stres dan mengatasinya? Cara Anda mengatasi stres pun rupanya akan sangat berpengaruh terhadap cara anak mengatasi stresnya. Jika Anda piawai mengatasi stres, anak pun kemungkinan besar akan mengikuti langkah Anda. Jadikan diri Anda dan suami sebagai model yang baik. Yakni, mengatasi stres dengan cara yang sehat. ·
  • Bersikaplah lebih santai
    Tenang menghadapi dan menjalani kehidupan ini. Entah itu persoalan kemacetan, beban pekerjaan atau lainnya, bila dijalani dengan niat dan hati yang relaks tentu masalah stres takkan dialami. Saat Anda merasa stres, Anda bisa meredamnya dengan melakukan hal-hal, seperti berendam di air hangat, atau tidur sejenak. ·
  • Ajarkan mereka untuk relaks
    Setelah Anda bisa relaks, bantu anak menemukan cara yang menyenangkan untuk bersantai. Misalnya, olah raga, permainan kreatif, musik, bahkan menyendiri. Tuntun mereka melakukan pernapasan relaksasi. Caranya, tarik napas dari hidung secara perlahan, dan mengeluarkan napas lewat mulut untuk melepaskan ketegangan. Lakukan hal ini 2-4 kali saat Anda merasa si kecil merasa tegang, atau menampakkan gejala stres. Ajak mereka untuk melakuan peregangan tubuh, seperti mulailah perlahan dengan meningkatkan otot-otot tubuh. Relakskan otot leher, tangan, pinggang, dan kaki dengan cara menggerakkan ke kiri dan ke kanan, atau ke atas dan ke bawah secara perlahan. ·
  • Berkonsultasi dengan ahli
    Jika merasa tak mampu mengatasi stres sendiri, sebaiknya berkonsultasi dengan ahlinya, baik itu psikolog maupun ahli kejiwaan, sebelum menular pada anak Anda.


(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan HERS Magazine)

Share artikel ini:

Artikel Terkait