Kapan Anak Boleh Makan Fast Food?

Sekarang orang-orang dengan budaya makan barat, mulai menyadari betapa tidak sehatnya jenis menu mereka. Di negara-negara sedang berkembang yang mulai mengekor budaya makan salah itu, masih melakoninya sehingga gandrung pada menu yang sebetulnya tidak menyehatkan itu. Menu fast food salah satunya.

DUNIA kedokteran sedang belajar dari cara makan orang-orang yang sekarang berumur di atas seratus tahun. Berangkat dari anggapan bahwa tubuh manusia diprogram mampu hidup sampai 120 tahun, tentu ada yang salah dalam mengelola hidup, kalau umur rata-rata orang sekarang masih di bawah umur 80 tahun (life expectancy orang AS). Salah satu kesalahan itu, lantaran budaya makan yang tidak sehat. Fast food salah satu biang keladinya.

Kalau dicermati, lidah anak-anak zaman sekarang sudah telanjur dibentuk salah oleh menu yang tidak menyehatkan (menu kebarat-baratan). Bagaimana tidak kalau menu sejenis burger, hotdog, sudah masuk desa juga.

Butuh makanan segar
Tubuh membutuhkan lebih banyak makanan yang serba segar. Dalam menu yang lebih segar itulah seluruh kandungan alami bahan makanan masih tersimpan utuh. Tidak demikian halnya kalau bahan makanannya sudah tidak segar lagi.

Kalau dperhatikan hampir kebanyakan bahan makanan berasal dari negara maju seperti AS misalnya, masih berada dalam kondisi segar. Sebagian sudah layu kalau bukan kadaluwarsa.

Bayangkan di negara-negara maju, jarak yang jauh antara lahan pertanian dengan kota-kota besar membuat hasil panena menjadi tidak segar lagi bila tanpa diberi zat kimia. Masa penyimpanan bahan yang harus lebih lama, belum kalau harus diekspor, dan negara pengimpor menerima bahan makanan, apakah itu daging, buah, atau sayur mayur impor, menerimanya nyaris sudah layu.

Itu berarti sejak awal, menu yang terbuat dari bahan (impor) yang sudah tidak segar lagi itu, sebagaimana layaknya menu di resotran, yang akan kita konsumsi jika memilih menu sejenis fast food, dan junk food umumnya.

Belum dihitung bagaimana bahan yang nyaris hampir layu itu diolah. Sisa kandungan zat gizi yang masih tertinggal dalam bahan makanan yang sudah banyak kehilangan zat gizinya itu, nyaris hanya tinggal ampas jika cara mengolahnya dengan pemanasan yang tinggi, atau cara menyianginya dengan cara yang keliru. Pada akhirnya yang kita konsumsi hanya tinggal ampas belaka.

Yang lezat itu mungkin tidak menyehatkan
Kalau ditilik jenis menu yang lezat-lezat itu biasanya bukan menu yang menyehatkan. Yang kurang lezat, seperti bekatul, beras merah, menu tanpa minyak tanpa lemak (gajih), menu kurang manis kurang asin, justru yang lebih menyehatkan.

Padahal menu restoran hampir semuanya lezat karena ditambahi aneka bumbu, perasa, dan boros minyak, garam, dan gula. Belum lagi oleh hadirnya pengawet, pewarna, pemanis buatan, yang semuanya sama tidak menyehatkannya.

Jadi kalau memang jenis menu seperti itu tidak menyehatkan, jangan perkenalkan jenis menu tersebut pada lidah bayi dan anak-anak kita. Perkenalan dengan menu yang serba gurih padahal tidak menyehatkan, akan menyesatkan jalan menuju sehat anak kelak.

Kesehatan ada di dapur bukan di restoran
Kalau boleh dibilang, sekali lagi, bahwa kesehatan itu ada di dapur dan bukan di restoran, maka berikan jalan kepada selera makan anak untuk hanya menu tradisional saja, dan tidak pada selera menu restoran.

Kebiasaan makan di luar rumah salah satu penyebab lidah anak menolak menu meja makan ibu. Termasuk jajanan yang tidak jelas sumber bahan makanannya, tak jelas pula cara mengolah, dan masuknya zat tambahan makanan yang tidak menyehatkan itu.

Ibu yang bijak akan mengolah sendiri menu bagi anak dan seluruh anggota keluarga. Bukan lantaran gurih dan lezatnya cita rasa sebuah menu yang menentukan nilai gizinya, melainkan bagaiman kuslitas bahan makanan yang akan dijadikan menunya, serta cara mengolahnya yang menentukan tinggi tidaknya nilai gizi menu harian keluarga.

Bumi kita menyediakan segala jenis bahan makanan yang lebih segar. Daun singkong, bayam, kangkung, sawi, kita malah bisa memperolahnya dengan sangat segar karena baru saja dipetik. Begitu pula buah pepaya, pisang, jambu, bisa memperoleh yang lebih segar ketimbang buah impor. Maka steak impor mungkin belum tentu lebih bergizi ketimbang steak sapi lokal sendiri.

Kalau ditanya kapan anak boleh makan fast food, bijaknya tidak memilih itu sebagai menu harian. Makan bareng di luar rumah seminggu sekali tentu tidak akan membentuk lidah anak jadi ketagihan menu yang tidak menyehatkan itu. Namun seberapa bisa, sebaiknya tidak memilihnya saja.

Share artikel ini:

Artikel Terkait