Kecurigaan Anak Hiperaktif

ANAK yang mengidap penyakit hiperaktif (ADHD: attention deficit hyperactive disorder) tidak banyak. Perlu keahlian khusus untuk tidak keliru mendiagnosis anak dengan kelainan perhatian ini. Sering tak cukup hanya pihak medik, melainkan dibutuhkan juga ahli jiwa, pekerja sosial, selain guru, orangtua sendiri, dan sekolah untuk mengidentifikasi kasus demikian.

Tidak bisa diam
Ya, umumnya anak dengan gangguan perhatian cenderung tidak bisa diam. Bukan saja secara fisik, melainkan juga pikiran, dan mentalnya. Ada saja yang dilakukan, yang tidak bisa terhenti sedetik pun. Namun tentu tidak setiap anak dengan kecenderungan terganggu perhatiannya pasti termasuk ADHD. Ada kriteria khusus yang diperlukan untuk mengidentifikasi jika memang betul ADHD.
 
ADHD sendiri tidak hanya satu. Ada jenis yang primer yang gejalanya tidak ada perhatian saja, hiperaktif dan impulsif, atau bisa juga gabungan keduanya, yaitu tidak ada perhatian, juga sangat akif dan impulsif.

Apa pun jenisnya, anak dengan gangguan ADHD tentu memerlukan perhatian dan penanganan khusus. Bila keliru mengarahkan, anak bisa bermasalah di sekolah maupun pergaulan sosialnya. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan tingkat kecerdasan. Namun anak dengan ADHD perlu mendapat perhatian lebih dan pengananan yang sesuai.

Jadi bila seorang anak memperlihatan pola yang mengarah kepada gangguan perhatian, harus dicurigai kalau kemungkinan anak mengidap ADHD. Mungkin gejalanya sudah dapat terlihat sejak usia dini, jika gangguannya tergolong berat dan kelainannya sudah tampak, atau baru setelah duduk di kelas 3 atau kelas 4, gejala gangguan perhatian dan sangat aktifnya anak baru kelihatan karena tergolong lebih ringan.

Pola perilaku sangat aktif dan tidak bisa diam mengundang kita untuk segera perlu memastikan apa betul anak mengidap ADHD. Adapun beberapa kriteria untuk memasukkan anak sebagai betul ADHD, antara lain sebagai berikut.

Anak yang hiperaktif
1. Biasanya anak yang banyak berbicara. Bicaranya spontan, dan sering tidak dipikir dulu. Kalau sejak awal memang berpola menetap sikap bicaranya seperti itu, ini kecurigaan awal kemungkinan anak tergolong yang hiperaktif.

2. Selalu tidak betah duduk tenang dan diam. Ia harus saja bangkit dari posisi duduknya berkali-kali. Ini juga tanda lain untuk membawa orangtua berpikir kemungkinan anak memang suatu ADHD.

3. Anak yang suka dan sering mengganggu teman saat bermain perlu dicurigai juga kalau itu bagian dari kemungkinan ADHD.

4. Anak senantiasa menggerak-gerakkan tangan dan kaki, menggeliat-geliatkan badan, pendek kata selalu bergerak-gerak berulang, kadang dengan bentuk  gerakan yang sama, juga dalam keadaan duduk sekalipun. Waspadai kalau itu  kemungkinan betul ADHD.

5. Anak juga sering tidak berhenti berlari-lari kian kemari, sambil sesekali memanjat-manjat apa saja. Tentu saja sukar dibedakan dengan anak normal yang punya kecenderungan seragam seperti itu. Ini baru kecurigaan yang memerlukan konfirmasi dari ahlinya.

6. Berpindah-pindah posisi dalam hitungan menit dari satu tempat ke tempat lain. Juga selama berada di dalam kelas. Pastikan ini bukan ADHD.

Anak dengan In-attention 

Selain sangat aktif sebagaimana diungkap di atas, ada juga anak yang tanpa perhatian sama sekali. Gejala itu dipastikan bila kita melihat adanya yang seperti di bawah ini.
1. Anak tidak menyimak dan tidak menatap mata saat diajak berbicara. Tidak semua anak seperti itu. Namun jika yang seperti itu menetap, pikirkan kemungkinan ada gangguan perhatian.
2. Tidak patuh pada instruksi yang diberikan kepadanya. Anak menyimpang   melakukan yang lain semaunya sendiri, dan tugas yang diberikan biasanya tidak diselesaikan. Sesekali anak begitu masih tergolong normal, dan tidak normal apabila cenderung menetap.
3. Anak biasanya suka menghindar dan menolak pekerjaan yang membutuhkan kegiatan mental yang berat dan perlu waktu lama. Anak cenderung tidak bisa tekun untuk waktu lama.
4. Tidak bisa kalau tidak mengusik anak lain barang sebentar, dan sering lupa pada aktivitas yang sudah dilakukan.
5. Anak sering kehilangan mainan, alat tulis, dan barang-barang lain di sekolah.
6. Anak tidak telaten melakukan hanya satu tugas saja. Perhatiannya mudah teralihkan untuk hal-hal yang kecil dan sepele.

Anak impulsif
Selain kemungkinan sangat aktif dan tanpa perhatian, ada juga kelompok anak dengan sifat impulsif. Adapun tanda anak yang cenderung impulsif biasanya akan menunjukkan keadaan sebagai berikut.
1. Sering menyelak pembicaraan orang. Dia sudah tidak menyimak sebelum pertanyaan atau perkataan orang selesai didengarnya.
2. Anak umumnya tidak sabar menunggu ketika antri, atau kegiatan bergilir.
3. Selain itu anak dengan impulsif sering melakukan interupsi, kalau bukan mengganggu orang lain di dekatnya.

Demikian beberapa tanda dan gejala anak dengan gangguan ADHD. Sekali lagi tidak setiap gejala sebagaimana sudah diungkap di atas sudah pasti suatu ADHD. Perlu konfirmasi dari gabungan tim ahli untuk memastikan betul suatu ADHD. Yang diungkap di atas hanya petunjuk kasar agar tidak terlambat mencurigai kemungkinan hadirnya suatu ADHD apa anak kita.

Kepada siapa harus berkonsultasi?
Secara singkat, perhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk adanya kecurigaan bila ditemui gejala yang terungkap diatas sejak dini. Curiga boleh namun tidak keburu memvonis anak dengan ADHD atau hiperaktif atau yang sejenis sebelum berkonsultasi dengan tim ahli (bukan perorangan tetapi gabungan berbagai ahli) penanganan ADHD/hiperaktif. Carilah institusi kesehatan yang memiliki tim penanganan ADHD antara lain terdiri dari: dokter ahli anak khusus tumbuh-kembang, dokter ahli anak khusus neurologi, dokter ahli kesehatan jiwa anak, psikolog anak spesialis anak berkebutuhan khusus, pendidik anak yang bersertifikasi pendidikan dengan kebutuhan khusus (child with special need certified). Umumnya rumah sakit pendidikan dan lembaga psikologi memiliki tim pengananan ADHD, seperti rumah sakit di bawah ini:

  •  RS Cipto Mangunkusumo & Universitas Indonesia (UI Jakarta
  •   RS Soetomo & Universitas Airlangga (Unair)Surabaya
  •  RS Sardjito & Universitas Gajahmada (UGM)  – Jogya 
  •  RS Adam Malik & Universitas Sumatra Utara (USU) – Medan
  •  RS Hasan Sadikin & Universitas Padjadjaran (Unpad) – Bandung
  •   RS Karyadi & Universitas Diponegoro (Undip) Semarang
  •   RS Wahidin SH & Universitas Hasanuddin (Unhas) – Makassar ***

Share artikel ini:

Artikel Terkait