Kehidupan Sosial Setelah Berkeluarga, Masih Perlukah?

Kapasitas apa yang menjadi ciri khas paling menonjol untuk orang dewasa?menurut Sigmund Freud, kapasitas itu adalah to love and to work. Begitu kita mulai membangun keluarga, seolah-olah kita tengah memasuki babak kehidupan baru yang terputus dari mata rantai kehidupan lama. Yang dulunya punya teman, punya geng, punya komunitas, punya klub, dan lain-lain, sekarang ini semuanya ditinggalkan. “Yang penting adalah mengurus pekerjaan dan keluarga.”

Bahkan beberapa puluh tahun lalu, kehidupan keluarga di masyarakat kita kerap dipahami sebagai tahap akhir dari proses pengembaraan (eksplorasi) seseorang. Kalau sudah berkeluarga, sudah tidak bisa lagi melanjutkan sekolah, kumpul sama teman atau sahabat, tidak bisa lagi menghadiri diskusi kecil-kecilan, dan seterusnya. Dengan bahasa yang pragmatis, pokoknya kalau sudah keluarga, yang penting hanya dua: mencari duit dan mencintai keluarga, seperti kata Freud itu.

Sehatkah prinsip hidup demikian? Teorinya, berkeluarga itu bukan pembatas proses perkembangan seseorang. Justru kalau melihat bukti-buktinya, berkeluarga itu merupakan lanjutan dari upaya kita dalam mengembangkan diri dengan paradigma atau cara yang lebih bagus. Sudah banyak yang sanggup membuktikan bahwa dengan berkeluarga itu telah membuat hidup mereka menjadi semakin berkualitas di beberapa segi: emosional, finansial, spiritual, sosial, dan lain-lain.

Jadi, akar persoalan yang sebenarnya ada di pilihan hidup, bukan pada kenyataan hidup. Kenyataan hidup mengikuti pilihan kita. Hanya caranya perlu dibedakan antara ketika sebelum dan sesudah berkeluarga. Jalan itu adalah dengan membuat semacam pembatas model interaksi sosial menjadi dua.

Yang pertama, hubungan inti (primary relationship). Hubungan ini ditandai dengan adanya komitmen dan investasi kita bagi dan terhadap seseorang. Misalnya terhadap suami, istri, anak atau keluarga. Merekalah yang menjadi tumpuan hidup kita saat ini. Yang kedua, hubungan pendukung (secondary relationship). Hubungan ini didasarkan pada kepentingan tertentu (mitra bisnis, pelanggan, dst) atau sebagai pendukung pengembangan-diri (teman lama, sahabat, keluarga jauh, tetangga dekat, dst).

Jadi, hubungan pertama bersifat tempat pelabuhan, atau tujuan. Sedangkan hubungan kedua bersifat sebagai alat pendukung. Jika keduanya ini bisa dimainkan dengan bagus, hasilnya akan bagus, terutama pada perkembangan mental. Kalau kita hanya berkonsentrasi untuk mengurus keluarga dan pekerjaan, memang ini sudah benar, tetapi dinamika batin kita lamban gerakannya. Masalah psikologis yang kerap berpotensi muncul adalah kebosanan, menurunnya intimasi-emosional, menurunnya dorongan untuk berubah ke arah yang lebih bagus, dan sedikitnya jumlah jaringan sosial yang kita miliki.

Tapi kalau berlebihan mengurusi hubungan yang sifatnya pendukung itu, ini juga dapat menimbulkan masalah baru. Apa artinya kita punya teman banyak, punya sahabat akrab, punya jaringan luas, tetapi terhadap keluarga inti, hubungannya malah menjauh? Semua orang sudah tahu, namun hanya sedikit orang yang sadar (sensitive) dan mampu membedakannya dalam praktek.

Beberapa kiat yang bisa dipraktekkan untuk tetap menjalin interaksi sosial ketika kita sudah berkeluarga adalah:

  1. Berusaha jangan sampai menganggu komitmen dan kedekatan dengan orang-orang inti. Proporsional dan seimbang.
  2. Niatkan untuk pengembangan-diri (bertukar pengetahuan, pengalaman, informasi, dst) atau minimalnya untuk menjaga hubungan (silaturrahmi)
  3. Hindari menceritakan masalah personal dalam keluarga kepada teman, rekan atau sahabat, meskipun untuk tujuan baik. Kalau harus bercerita, ceritakan masalahnya dan solusinya, bukan tentang orangnya (si istri, si suami, si mertua, dst). Usahakan juga jangan ke lawan jenis. Untuk menemukan perspektif yang lebih obyektif, lebih baik kita masuk ke forum diskusi atau konsultasi.

Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait