Kemampuan Bicara Pada Balita

Dari banyak pertanyaan yang sering diungkap ibu-ibu, sering muncul ihwal persoalan berbicara balita. Ibu mencemaskan apakah kemampuan berbicara anaknya masihkah dalam batas normal. Berbicara memang bertalian dengan kecerdasan, selain sebab  kelemahan penunjang dalam  proses berbicara. Bagaimana tahapan berbicara balita, dan kapan perlu diwaspadai, kita membicarakannya di sini.

Tahapan umur kapan anak normal mulai berbicara, serta standar perkembangan berbicaranya, meski bukan batasan yang pasti namun perlu di-acu. Walau tiap anak memiliki laju perkembangan berbicaranya sendiri-sendiri, perlu dipantau kalau anak tidak sebagaimana kemampuan berbicara sebayanya.

Tahapan berbicara
Tahap berbicara anak balita, awalnya baru berceloteh (cooing), kemudian mengucapkan patahan kata-kata yang belum jelas (bubbling). Balita sudah mulai mampu mengucapkan satu patah suku kata setiap berbicara pada umur 18 bulan. Menjadi satu kata tiap berbicara pada umur 20 bulan. Pada umur 22 bulan sudah mampu merangkai 2 kata tiap berbicara. Umur 2 tahun sudah dapat menyusun kalimat dengan sejumlah kata

Umur antara 12 – 17 bulan anak memahami kalimat terdiri dari beberapa kata. Umur 18 -23 bulan anak cepat menangkap kata-kata baru. Rata-rata pada umur ini sudah mencerap sekitar 500 kosakata. Menjadi seribu kosakata pada umur 3 tahun. Dan pada umur 4-6 tahun, anak sudah mampu berbahasa dengan runut dan santun. Maka stimulasi sudah harus dimulai sejak dini, meski anak belum bisa bicara, anak akan menyimpan data-base kosa kata, yang pada saatnya akan diungkapkannya. 

Tidak ada batas umur yang kaku dan pasti ihwal tahapan kemampuan berbicara anak. Itu bahasa statistik belaka. Ada anak yang lebih awal kemampuan berbicaranya. Ada juga yang malah lebih belakang baru bisa berbicara. Jadi kecemasan tak beralasan kalau hanya terpaut beberapa bulan dalam umur saja kemampuan berbicaranya kalah dengan sebayanya.

Kapan mewaspadai?
Umumnya, anak prasekolah sudah menyimpan sekitar seribu kosakata, bahkan bisa lebih dari itu. Kewaspadaan orangtua perlu ada bila sudah berumur lebih dari 4 tahun anak mengalami gangguan dalam berbicara.

Gangguan terlambat berbicara bisa bermusabab dari gangguan pendengaran. Maka paling gampang mendeteksinya dengan melakukan uji pendengaran sendiri. Panggil anak dari satu arah yang agak jauh. Perhatikan reaksinya. Apabila tidak ada respons, kemungkinan ketajaman pendengarannya terganggu sebagai penyebab terlambat berbicara.

Berbicara juga bisa terganggu karena kemampuan kognitif (nalar) anak yang terbatas. Beberapa fakor bekerja di sini. Umumnya anak dengan keterbatasan kognitif begini sukar atau tidak mampu mengerjakan pekerjaan yang sederhana, seperti mengikat tali sepatu, atau mengancing baju.

Tak sedikit gangguan berbicara bila ada gangguan pada otot-otot berbicara, sehingga lafal bicaranya tidak sempurna. Sudah cukup kosakata yang dimilikinya, namun tak sempurna melafalkannya, seolah tidak lengkap bicaranya.

Anak yang kekurangan rangsangan (stimulus) komunikasi dan interaksi dengan orang di sekitarnya akan sama mengalami gangguan berbicara juga. Itu maka betapa pentingnya membangun komunikasi dan interaksi dengan balita. Dan penyebab gangguan berbicara lainnya, dialami anak yang mengalami gangguan pervasif (ADHD) yang terganggu perhatian dan konsentrasinya, selain tergolong anak hiperaktif.

Anak cedal menguasai kosakata normal, namun kemampuan mengucapkan dengan jelas yang memgalami hambatan. Bisa lantaran lidah kelewat pendek, atau tak memiliki tekak lidah, kalau bukan langit-langit rongga mulut yang kelewat cekung, selain kurang koordinasi antara lidah dengan bibir. Sering tak mampu mengucapkan huruf “r”.

Lain dari itu ada juga anak yang gagap. Tidak semua kegagapan bersifat abnormal. Kebanyakan masih normal sampai umur 4 tahun, dan akan menghilang sendirinya. Antara umur 18 bulan sampai 4 tahun anak yang gagap terbilang masih normal. Bila lebih dari umur 4 tahun masih juga gagap, perlu diperiksakan ke dokter.

Stimulus berbicara
Peran stimulus dalam memicu kemampuan anak berbicara dan mencerap kosakata amatlah  besar. Maka kecerdasan berbicara anak dipengaruhi oleh siapa yang berada di dekatnya setiap hari. Makin banyak rangsangan berbicara, yaitu dengan sering mengajaknya berbicara, makin tinggi kecerdasan berbicaranya. Kualitas pengasuh selain bagus rangsangannya mengajak anak mencerap kosakata lebih banyak, susunan kalimat bertutur pengasuh pun harus sesuai dengan kaidah berbahasa yang benar.

Suara manusia bisa terdengar dari radio, televisi, atau teman sebaya dan orang yang berada di dekat anak. Selain banyak mendengar suara manusia, lontarkan pertanyaan untuk memicu kemampuan berkalimat dengan jenis kalimat yang terbuka. Yaitu jenis kalimat yang tidak hanya dijawab dengan “ya” atau “tidak” semata. Biarkan anak dirangsang untuk menjawab dengan lebih banyak kata dan kalimat yang majemuk.

Selain itu tak kecil peran mendongeng buat kemampuan anak berbicara serta mencerap banyak kosakata. Mendongeng juga menjadi lahan menanamkan nilai-nilai. Bukan saja berbahasa, kepribadian anak juga dibentuk di sini.

Share artikel ini:

Artikel Terkait