Kenali Tahapan Perkembangan Psikososial Anak

Dalam mendidik si kecil, Ibu perlu memahami setiap aspek psikologi perkembangan anak, yakni perkembangan fisik, kognitif, bahasa, dan sosio-emosional atau yang lebih dikenal dengan psikososial. Dari keempat aspek tersebut, perkembangan fisik paling mudah diamati dari seluruh aspek perkembangan lain. Namun, Ibu harus memberi perhatian khusus juga kepada aspek perkembangan psikososial. Sebab perkembangan psikososial anak sangat penting dalam psikologi perkembangan anak untuk membentuk rasa percaya diri dan perkembangan kemandirian dalam dirinya.

Perkembangan psikososial adalah perkembangan yang berkaitan dengan emosi, motivasi dan perkembangan pribadi manusia serta perubahan dalam bagaimana individu berhubungan dengan orang lain. Saat si kecil mulai menginjak bangku sekolah, pada masa inilah pola perilaku sosial si kecil akan terlihat. Berbeda ketika si kecil masih bayi atau batita, misalnya, yang hanya mengenal keluarga dan orang–orang terdekatnya. Saat memasuki usia sekolah, si kecil sudah mampu bersosialisasi lebih luas, yakni dengan teman sebaya, guru, adik dan kaka kelas, dan lainnya.

Berikut ini empat tahap perkembangan psikosial anak Menurut Erik Erikson, seorang ahli psikologi, dalam bukunya “Childhood and Society”.


 

TRUST vs MISTRUST
Tahap pertama perkembangan psikososial anak ini terjadi sejak bayi baru lahir hingga usia 2 tahun. Menurut Erikson, tahap ini merupakan konflik dasar masa bayi, karena mereka dapat mempercayai lingkungannya. Si kecil akan mengembangkan kepercayaan dalam dirinya, jika kebutuhan dan perawatan dirinya dipenuhi secara rutin dan berkesinambungan, ditambah dengan kasih sayang yang membuatnya nyaman. Hal tersebut akan menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi si kecil, sehingga akan tumbuh rasa percaya diri. Namun jika terjadi sebaliknya, maka hal tersebut akan menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan, sehingga akan menimbulkan rasa curiga pada diri si kecil.

 

AUTONOMY vs SHAME and DOUBT

Tahap perkembangan psikososial pada masa ini terjadi ketika si kecil berusia 2 – 3 tahun, dimana si kecil mulai mencapai tingkat kemandirian tertentu. Selama periode ini, orang tua harus membuat sebuah keputusan yang tegas, yakni mereka harus “protektif namun tetap tidak overprotektif.” Sulit memang rasanya, namun hal ini akan sangat memengaruhi perkembangan si kecil.

Si kecil akan mengembangkan kesadaran pengendalian diri mereka, jika ia merasa dirinya mendapat kesempatan dan support untuk melakukan apa yang ia inginkan. Namun ingat, hal tersebut tetap dalam pengawasan orang tua. Jika seperti ini, maka si kecil akan tumbuh dengan sifat percaya diri dan selalu yakin akan kemampuan dan keputusannya. Sebaliknya jika Ibu terlalu banyak melarang si kecil dan tidak sabar saat menghadapinya, maka akan timbul perasaan ragu terhadap kemampuan diri sendiri si kecil.
 

INISIATIVE vs GUILT (antara 4-5 tahun)

Tahap perkembangan psikosisal anak yang selanjutnya ini terjadi ketika si kecil berusia 4 – 5 tahun. Pada tahap ini si kecil sudah mampu melakukan berbagai kegiatan secara mandiri, namun ia akan menghadapi tantangan tersendiri bahwa tidak setiap keinginan bisa diwujudkan. Apabila si kecil diberi kebebasan untuk bereksplorasi dalam lingkungannya, dan juga Ibu sebagai orang tua selalu menjawab pertanyaan anak, maka si kecil akan cenderung  memiliki inisiatif lebih banyak dalam menghadapi masalah yang ada di sekitarnya. Sebaliknya apabila si kecil selalu dilarang atau dihalangi keinginannya, dan Ibu selalu menganggap sepele pertanyaan si kecil, maka ia akan selalu merasa bersalah.
 

INDUSTRY vs INFERIORITY

Tahap terakhir perkembangan psikososial anak ini terjadi ketika si kecil berumur 6 tahun hingga usia praremaja. Pada tahap ini si kecil mulai melihat hubungan antara ketekunan dan perasaan senang bila sebuah sebuah pekerjaan selesai. Si kecil mulai menyadari bahwa ia harus berjuang untuk mencapai suatu hal. Sehingga ia harus menguasai menguasai suatu keterampilan tertentu, sehingga timbul rasa puas dan berhasil pada dirinya. Namun jika Ibu terus menganggap anak sebagai anak kecil, maka yang timbul adalah rasa rendah diri sehingga ia malas untuk belajar atau melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual. Yang lebih parah lagi, si kecil tidak akan percaya bahwa ia akan mampu mengatasi masalah yang dihadapinya.

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait