Kesulitan Belajar vs Keberbakatan

Learning Disability
Kesulitan belajar (Learning Disability) adalah cacat syaraf (neurological handicap) yang mempengaruhi kemampuan otak anak untuk mengerti, mengingat, dan mengkomunikasikan informasi. Kerusakan syaraf yang terjadi ini dapat berakibat menganggu pada fungsi otak lainnya, yang menyebabkan masalah akademik anak dalam bidang seperti:

  • persepsi visual (misalnya anak tidak bisa membedakan huruf b dan d, huruf w dan m, huruf p dan q)
  • pemprosesan bahasa (misal salah dalam menangkap dan memahami instruksi)
  • kemampuan motorik halus (misal: tulisannya susah dibaca, belum bisa menggunting)
  • kemampuan memusatkan perhatian (misalnya tugas-tugas tidak pernah selesai tetapi ingin mengerjakan tugas lainnya)

Anak yang mengalami LD (Learning Disability) nyaris tidak terlihat, karena anak-anak LD memiliki taraf kecerdasan yang normal, bahkan jauh melampaui diatas rata-rata. Mereka biasanya tampak tertinggal dalam beberapa area kemampuan tetapi masih normal dalam area kemampuan yang lain. Sebenarnya yang dialami anak-anak LD ini adalah mendapatkan prestasi yang tidak sesuai dengan harapan (unexpected underachievement), yaitu adanya kesenjangan antara yang seharusnya mampu mereka lakukan dengan apa yang sebenarnya dapat mereka lakukan.

Kondisi yang dialami mereka menyebabkan mereka dicap dengan kesan yang salah seperti “anak dungu, anak kurang ajar, atau anak malas”. Dan pernyataan ini membuat anak semakin depresi.

Masalah Perilaku LD
Beberapa masalah perilaku yang biasanya muncul pada anak LD adalah :

  • Jangka perhatian yang pendek: sangat mudah terganggu, cepat bosan dengan aktivitas baru, pindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain dan sering meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai.
  • Kesulitan mengikuti arah: seringkali bertanya berulang kali, minta petunjuk untuk hal-hal yang mudah sekalipun, karena intruksi yang diberikan tidak sepenuhnya dipahami.
  • Ketidak matangan sosial: berperilaku seperti anak dengan usia dibawahnya, bersifat kekanak-kanakan.
  • Kesulitan dalam melakukan percakapan: seringkali kesulitan menemukan kata yang tepat dalam melakukan percakapannya.
  • Tidak Fleksibel: keras kepala dalam hal mempertahankan caranya mengerjakan sesuatu, ia menolak untuk menerima saran ataupun mau menerima pertolongan orang.
  • Perencanaan dan keterampilan organisasi buruk: seringkali terlambat dan jika diberikan beberapa tugas sekaligus, ia tidak memiliki gagasan harus memulainya dari mana.
  • Absentmindedness: seringkali lupa membuat PR, kehilangan baju dan miliknya yang lain, bermasalah dengan janji yang dibuatnya.
  • Ceroboh: tampak kikuk dan kurang terkoordinasi; sering terbentur, dan menjatuhkan barang, menumpahkan sesuatu, tulisan tangan buruk.
  • Pengendalian diri buruk: Anak LD akan menyentuh apapun yang menarik minatnya, mengomentari apa yang ia lihat tanpa berpikir panjang sebab akibatnya, memotong pembicaraan, dan menerobos antrian.

Pedoman Tanda adanya LD (Learning Disability)
Masalah-masalah yang dihadapi anak LD adalah masalah yang menyangkut kemampuan akademik dasar seperti calistung (membaca, menulis dan berhitung). Hal ini menyebabkan anak-anak LD sulit diidentifikasi. Apalagi untuk mengidentifikasi anak LD diperlukan waktu yang cukup untuk observasi, wawancara dan penilaian satu persatu. Disarankan agar orangtua tidak menunggu waktu lama untuk memutuskan anaknya mengidap LD, dengan mengenal 6 tanda dibawah ini:

  1. Perkembangan yang terlambat.
    LD baru dapat diketahui pada saat anak memasuki masa sekolah. Performance anak yang jauh berbeda atau tertinggal dengan teman-teman seusianya menjadi salah satu indikator bahwa ada sesuatu yang salah pada diri anak. Jadi bandingkanlah perilaku anak anda dengan perilaku anak seharusnya pada usia kalendernya.
  2. Penampilan yang tidak konsisten.
    Anak LD menampilkan perilaku yang tidak konsisten. Ia bisa saja mampu melakukan soal matematika yang diberikan guru saat ini tetapi kemudian jika diminta lagi melakukan soal tersebut pada pekan depan, maka ia tidak mampu melakukannya. Ada juga anak yang tulisannya jelek tetapi hasil lukisannya baik.
  3. Kehilangan minat belajar
    Sebenarnya anak-anak ini suka belajar, namun antusiasme mereka semakin berkurang begitu masuk sekolah karena mereka mengalami gangguan dalam pemprosesan informasi, dimana dibutuhkan daya ingat dan pengorganisasian informasi dalam jumlah besar. Biasanya tanda yang amat jelas adalah:
    • suka menunda pekerjaan (prokastinator),
    • anak sering mengeluh pusing, sakit perut, dan ijin untuk tidak masuk sekolah.
    • Anak sering mengeluh hal-hal yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar
    • Anak mengeluh pelajarannya terlalu susah.
    • Anak mengeluh pelajarannya membosankan
    • Jika ditanya tentang sekolah, anak hanya menjawab tidak ada apa-apa, baik.
    • Anak tidak menunjukkan hasil pekerjaan sekolahnya pada orangtua.

  • Tidak dapat mencapai prestasi seperti yang diharapkan
    Adanya kesenjangan antara potensi dan prestasi yang ditunjukkan anak dapat menjadi tanda utama bagi orangtua. Meskipun nilai anak sudah mencapai tingkat rata-rata, orangtua harus tetap memantau perkembangan anak, karena bagi anak-anak dengan IQ tinggi, prestasi yang dihasilkannya dapat mencapai jauh diatas rata-rata.
  • Masalah tingkah laku yang menetap
    Anak LD umumnya bermasalah dalam berperilaku. Dan hal ini sudah terlihat sejak bayi. Bagi anak yang mengalami kesulitan dalam persepsi visual dan bahasa, mereka mengalami kesulitan dan memahami dan mengingat informasi, sehingga sering terkesan anak sukar diatur dan kasar. Ada perubahan mood yang menyolok. Anak LD kemudian dianggap sebagai anak yang keras kepala, malas, tidak peka, tidak bertanggung jawab, dan tidak mau bekerja sama. Beberapa tanda yang mudah dikenali yaitu:
    • Kemarahan besar yang diekspresikan secara verbal
    • Kecemasan yang berlebihan
    • Depresi, memisahkan diri dari orang lain, sedih dan pesimis tentang masa depan, kehilangan minat pada aktivitas yang dulu digemari, merasa bersalah dan tidak berharga dan tidak mampu membuat keputusan.
    • Perilaku melarikan diri
    • Perilaku menantang bahaya
    • Perilaku antisosial
  • Kurangnya kepercayaan dan harga diri
    Anak sering menganggap dirinya bodoh yang akan menurunkan motivasi akademis mereka. Anak LD rentan terhadap situasi yang disebut learned helplessness, kondisi dimana mereka sudah putus asa dan berhenti mencoba.
      Anak berbakat dan LD
      Memiliki anak berbakat sudah berat, apalagi ditambah dengan gejala LD. Anak LD dengan kecerdasan tinggi tidak menjadikan dia sebagai seorang yang disebut gifted karena dengan konsep diri yang buruk dan motivasi yang rendah membuat potensi anak tidak teraktualisasi.

      Seseorang dikatakan berbakat dalam bidang tertentu jika dia mampu menunjukkan hasil karyanya dalam bidang tertentu yang hasilnya jauh diatas rata-rata orang lain dengan karya yang sama dalam bidang tersebut.

      Keberbakatan selalu menunjuk pada keunggulan dalam area tertentu. Suatu hal yang kontradiktif jika kita mengatakan seorang berbakat namun berkesulitan belajar. Keberbakatan yang dimaksud adalah suatu potensi kecerdasan yang ia miliki dalam katagori taraf kecerdasan very superior.

      Tentu saja ada hal-hal yang harus dikejar oleh anak LD agar ia dikatakan gifted, yaitu dari sisi komitmen terhadap tugas, mengacu pada ciri-ciri kepribadian seperti ulet, tekun, persistensi, disiplin, bersemangat, kerja keras dan tidak mudah menyerah.

      Seandainya anda memiliki anak dengan taraf kecerdasan 130 keatas, namun memiliki tanda-tanda atau karakteristik LD seperti itu maka sebaiknya segera ke dokter spesialis neurologi anak untuk memperoleh cara penanganan yang tepat.

      (PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Inspired Kids)

    Share artikel ini:

    Artikel Terkait