Ketika Sang Ayah Selalu Meng-iya-kan Permintaan Si Kecil

Proses pengasuhan anak memang memiliki banyak pernak-pernik. Meski tujuan orangtua sama, namun gaya mengasuh anak antara ibu dan ayah dapat berbeda. Karakter seorang ibu dan karakter suami sebagai seorang ayah bisa berbeda juga.

Pada beberapa kasus, seorang ayah seringkali mengatakan “Iya” atas permintaan atau usulan si Kecil. Padahal, menurut Anda sebagai ibu, permintaan si Kecil tersebut seharusnya perlu dilarang, misalnya perihal membeli jajanan yang menurut Ibu sembarangan atau keluar rumah dengan jarak agak jauh.

Sikap ayah yang cenderung demikian tidak dapat dilihat hanya sebagai bentuk “kesalahan” atau “kekurangan”. Sebelum Ibu melakukan tindakan, perlu Ibu lihat apakah sikap dan tindakannya itu untuk mengimbangi karakter atau gaya pengasuhan Ibu, atau kasihan, atau karena cuek?

Bila hal tersebut dimaksudkan untuk mengimbangi karakter Ibu, tentunya hal ini bagus. Dalam proses perkembangan anak, ia perlu bersentuhan dengan hal-hal yang kontras dan ini diperoleh dari perbedaan karakter ayah dan ibunya.

Bila sikap dan tindakan ayah tersebut dilakukan karena terlalu memanjakan atau karena tidak mau susah, saatnya Ibu untuk membantu sang ayah. Meski hal ini tidak mudah atau tidak langsung terjadi perubahan, tapi hal ini perlu Ibu lakukan.

Sebab, bila orangtua terlalu memanjakan dan terlalu cuek dapat mengakibatkan bahaya bagi perkembangan anak. Berikut adalah beberapa hal yang dapat Ibu lakukan:

  • Mendengarkan penjelasan. Mintalah penjelasan alasan Ayah melakukan hal tersebut dan dengarkan penjelasannya.
  • Mengangkat kepentingan anak. Jika dari penjelasan itu ada hal-hal yang perlu Ibu luruskan, kedepankan kepentingan anak, yaitu apa yang baik buatnya, bukan opini Ibu. Akan sangat bagus bila Ibu meminjam opini atau temuan para ahli dari buku, majalah, website, atau bacaan.
  • Tidak menyalahkan atau menyerang. Semua orang akan membela dirinya mati-matian apabila diserang atau disalahkan. Karenanya, ini harus Ibu hindari.
  • Menawarkan bantuan. Untuk hal-hal tertentu yang menyebabkan Ayah sulit mengatakan TIDAK, padahal hal tersebut penting untuk dilakukan, Ibu bisa menawarkan bantuan dengan menawarkan cara tertentu, misalnya kalau nanti si Kecil minta sesuatu hal, dapat menelepon Ibu terlebih dulu, atau cara lain.  
  • Menawarkan opsi. Misalnya, daripada membeli jajanan yang Ibu dan Ayah tidak yakin kebersihannya, lebih baik kita menyediakan makanan dalam porsi yang sudah disepakati.

Semua koreksi tersebut hanya akan baik apabila kita melakukannya demi keseimbangan dan mengantisipasi keburukan yang dapat disebabkan oleh sikap berlebihan atau acuh tak acuh.

Jika kita melakukannya atas dasar self-imposing (memaksakan kehendak), lalu menempatkan diri sebagai yang paling benar, biasanya ini akan berakibat buruk. Semoga bermanfaat.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait