Komunikasi Lewat Origami

Ada banyak cara untuk berkomunikasi dengan si Kecil. Salah satunya melalui seni origami. Kreasikan bentuk katak sederhana lalu bicarakan segala hal tentang si hewan ampibi. Terakhir, melompatlah sambil tertawa riang bersama anak dan sang katak.

Mungkin origami sudah Anda kenal sejak duduk di bangku TK dulu. Bentuk-bentuk origami seperti burung, topi, pesawat terbang, dan katak, tentu sudah tidak asing lagi bagi Anda. Tapi, tahukah Anda bahwa seni origami sudah berkembang begitu pesat? Kini, ada beragam aliran origami, seperti origami matematika, origami arsitektur, dan wetfolding origami (menggunakan teknik basah agar bentukan origami tampak lebih natural). Namun, ini bukan berarti origami menjadi semakin rumit. Bagi anak dari berbagai kelompok usia, membuat origami dengan bentuk-bentuk sederhana selalu bisa dipraktikkan. Kata origami berasal dari bahasa Jepang, yaitu oru yang berarti melipat, dan kami yang berarti kertas. Origami adalah seni melipat kertas yang sudah menjadi bagian dari tradisi Jepang sejak abad ke-6. Origami mengubah selembar kertas menjadi sebuah bentuk yang biasanya merupakan miniatur benda yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan alat –seperti gunting, lem, cutter– hanya bersifat pelengkap, tidak bisa menggantikan tangan sebagai “alat” utama untuk melipat kertas. Origami juga bisa dibuat dari dua lembar kertas atau lebih, yang disebut origami unit.

ALAT KOMUNIKASI
Jika Anda merasa anak Anda tidak berbakat di bidang seni, cobalah origami. Resep keberhasilannya hanya dua: Ketekunan dan imajinasi tanpa batas. Siapapun bisa menghasilkan sebuah karya origami. Apresiasi dan imajinasi anak dibangun melalui kegiatan seni tersebut. “Ketika berhasil melipat kertas berbentuk segiempat satu kali hingga menghasilkan bentuk segitiga, anak sudah bisa mengklaim bahwa dia telah membuat origami gunung. Dengan demikian, dia terbiasa mengapresiasi sebuah karya sekaligus memperluas imajinasi,” kata Fajar Ismayanti, seorang instruktur origami yang mendapatkan sertifikat dari asosiasi origami terbesar di dunia, National Origami Association (NOA) yang berpusat di Jepang. Dari kegiatan melipat selembar kertas menjadi miniatur obyek, anak juga mengasah kemampuan motorik halus.

Origami juga mengajarkan ketekunan dan konsentrasi, terutama origami yang melibatkan banyak lipatan. Obyek yang lebih rumit dengan banyak lipatan serta memerlukan kerapian, sudah bisa diajarkan pada anak usia 5 tahun. Dan, ada satu hal yang menarik dari jenis kesenian ini: Origami bisa menjadi alat komunikasi dua arah. Jika selama ini si kecil kerap melihat berbagai jenis satwa melalui buku dua dimensi, Anda bisa membuat bentukan origami agar anak punya bayangan tiga dimensi terhadap jenis satwa yang dimaksud. Anda juga mengenalkan anggota tubuh binatang, seperti sayap dan paruh burung atau kaki dan ekor kuda kepada anak. Sebuah lukisan Jepang kuno dari abad ke-13 menggambarkan seorang ibu sedang bercakap-cakap dengan sang anak lewat media origami. Mungkin saja fungsi asli kesenian origami memang sebagai alat komunikasi. Yang jelas, proses membuat origami menciptakan sebuah suasana interaksi yang menyenangkan. Apalagi jika kegiatan melipat-lipat kertas itu dilakukan bersama seluruh anggota keluarga atau bersama teman satu kelas di kelompok bermain atau TK.

MEMANFAATKAN KERTAS BEKAS
Bagi pelipat kertas profesional, jenis kertas menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pembuatan origami. Harus diakui, kertas impor, terutama kertas asli Jepang, menghasilkan kualitas origami yang lebih baik. “Kertas impor biasanya lebih tipis tapi kuat sehingga lebih rapi dan tidak mudah sobek ketika ada lipatan bertumpuk. Selain itu, motif kertas impor juga lebih beragam sehingga para pelipat kertas punya banyak pilihan,” kata Maya, panggilan akrab Fajar Ismayanti, yang mendirikan Sanggar Origami Indonesia sejak 2004. Kertas tradisional Jepang yang biasa digunakan adalah kertas irogami, kertas chiyogami, dan kertas washi. Kertas irogami dikenal sebagai kertas standar origami yang memiliki variasi ratusan warna hingga polos atau tanpa corak. Sementara kertas chiyogami juga kerap disebut washi chiyogami dengan tekstur, corak, pola, dan warna yang beragam, indah, serta menarik. Sementara washi adalah jenis yang dibuat dengan metode tradisional Jepang yang bertekstur indah, tipis, tapi lebih kuat. Demi menghasilkan origami sesuai keinginan, tidak jarang pelipat kertas menciptakan karya yang sesuai dengan imajinasinya, misalnya mencetak motif tertentu pada selembar kertas polos.

Bagi anak-anak atau penggemar origami, segala jenis kertas bisa digunakan sebagai media melipat. Kertas putih polos, kertas berwarna, kertas kado, hingga kertas koran yang sudah tidak terpakai, bisa dimanfaatkan untuk membuat origami. Selain berkreasi, Anda bisa mengajarkan prinsip daur ulang kepada si kecil. Banyak manfaat, bukan? Selamat melipat kertas.

Sanggar Origami Indonesia
Jl. Mars Dirgahayu 28
Awiligar, Bandung
Telp: 022-7084 0357
www.sanggar-origami.com

Share artikel ini:

Artikel Terkait