Latihlah Kerapian Pada Anak

Tentu sangat penting untuk melatih kerapian anak. Misalnya saja mendisiplinkan anak untuk merapikan barang-barang mainannya setelah dipakai. Ini akan melatih sense of responsibility dan sense of belonging. Tanpa latihan, ini sulit terwujud.

Tapi yang harus diperhatikan adalah jangan sampai maksud kita itu disalahpahami karena cara yang kita gunakan untuk menyampaikan maksud itu keliru. Misalnya, dengan cara mengomelinya atau menegurnya kita dengan amarah.

Biasanya, anak akan resistant (ngeyel) atau jika terlau sering maka ada kemungkinan menjadi penghambat bagi proses eksplorasi potensi anak. Anak akan sulit menunjukkan dirinya secara kreatif karena sudah sering kita kalahkan dengan amarah.

Dengan kata lain, melatih anak untuk kerapian pun harus tetap berpedoman pada rumus 2M dalam pengasuhan. M1 adalah mendorong dia untuk mengeksplorasi berbagai kebolehannya.

Sedangkan M2 adalah mengarahkan dia ketika menyimpang atau kebablasan. Mengarahkan anak harus kita bedakan dengan menyerang atau mengalahkan.  Pengarahan itu bisa dilakukan dalam bentuk:

Memberi  penjelasan atau alasan, misalnya “Naaaak, setelah main ayo dirapikan lagi.”

Memberi contoh lalu mendorongnya untuk melakukan. Jika dia masih belum tahu, belum mau atau belum terlatih, kita bisa memberi contoh bagaimana merapikan barang lalu mendorong dia untuk melakukan.

Libatkan anak dalam perencanaan ke depan. Misalnya kita meminta penjelasannya soal apa yang akan dilakukannya nanti jika bermain lagi supaya nalarnya terlatih.

Memberi reward. Ini bisa materi (hadiah) atau non-materi. Intinya adalah kita menghargai prestasi dan perjuangan anak sehingga dia terdorong untuk mengeluarkan potensi positifnya.

Fokus pada solusi, bukan ke masalah. Jik dia lupa atau melanggar, jangan menyerang orangnya atau melarang mainnya. Fokus pada bagaimana merapikan mainan. Kuncinya adalah bagaimana mengontrol amarah.

Apakah semua ini akan berjalan dengan mulus? Boleh dikata pasti tidak akan berjalan mulus. Di praktiknya, pasti ada lika-liku dan dinamika yang sangat variatif. Namanya juga anak-anak.

Yang paling penting sebetulnya bukanlah membuat anak harus rapi hari ini, tetapi kita telah memberikan proses pendidikan untuk menjadi anak yang bertanggung jawab atau punya self-management  yang kokoh

Pendidikan itulah yang mahal. Soal hasilnya belum sempurna atau prosesnya tidak mulus, ini nomer dua. Self-management sangat dibutuhkan untuk kesuksesan anak di kemudian hari di segala bidang.

Di samping itu, latihan self-management dapat juga menghindarkan anak dari perilaku yang bermasalah. Semoga bisa kita jalankan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait