Libatkan Anak Dalam Belanja

Orangtua dapat menambah pengetahuan anak-anaknya dari berbagai aktivitas. Salah satunya dari belanja. Tidak usah buru-buru meragukan kemampuannya atau takut nanti diminta yang macam-macam.

Jika anak punya inisiatif yang kuat untuk dilibatkan dalam aktivitas belanja, itu kesempatan. Tapi kalau pun belum, kita perlu menawarkan. Yang penting, jangan sampai kita selalu melihat posisinya sebagai problem maker saat belanja.

Saatnya kita mulai memposisikan dia sebagai bagian dari solusi. Ini akan mendewasakan dia dan juga meringankan kita. Enak, toh?

Yang bisa kita lakukan antara lain adalah meminta dia untuk mencatat barang-barang yang akan kita beli. Jika cara kita meminta itu bergaya menyuruh, mungkin dia akan malas atau akan menjawab ogah. Tidak menutup kemungkinan akan menolak. Tapi, jika cara kita meminta seperti memberinya tantangan, misalnya, untuk membuktikan bagaimana kemampuan dia menulis, dia akan mudah tertantang.

Bagiamana jika anak minta yang macam-macam? Untuk proses pendidikan, memang selalu butuh pengorbanan. Pendidikan itu mahal. Sekali-dua kali, kita perlu meng-iya-kan. Sisanya, atau jika sudah berlebihan, kita bisa mengajarkan alasan dan tindakan. Ini akan jauh lebih mudah jika dia kita libatkan. Anak kita menjadi semakin dewasa dari proses ini. 

Dari belanja juga dapat kita ajarkan kegunaan barang-barang yang dibeli. Sumber pengetahuan itu tidak harus melulu dari teks (seperti: buku, majalah, TV, dst). Fakta dan kenyataan adalah sumber pengetahuan yang sama pentingnya. 

Bila semua sudah dia ketahui, kita bisa naikkan pengajarannya, misalnya mulai mengajarkan ketelitian, kalkulasi kebutuhan sebulan, dan lain-lain. Naikkan kemampuannya secara bertahap.

Tugas sebagian kita saat ini adalah bagaimana supaya tetap mampu menanamkan mentalitas yang kuat pada anak agar tidak manja dan jauh dari realita, di tengah berlimpahnya kemudahan dan pilihan.

Manja akan membuat anak kita ringkih nantinya saat harus menghadapi kenyataan di dunia dia yang sebenarnya. Menjauhkan anak dari realita pun tidak bagus. Dia telah kehilangan kesempatan untuk dididik oleh realita. 

Meski ini tidak mudah, tapi harus kita lakukan. Semoga bermanfaa

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Share artikel ini:

Artikel Terkait