Mempersiapkan Bayi Pada Makanan Padat Pertamanya

Selalu akan tiba saatnya setiap bayi memulai makanan padat pertamanya, untuk dua alasan. Untuk itu perlu mempersiapkannya, karena inilah masa kritis yang akan ikut menentukan akan seperti apa pola, selera, serta kebiasaan makan anak nantinya. Terciptanya sikap anak terhadap makan sepenuhnya ada di tangan ibu. Bagaimana eloknya?

BAYI, sebagaimana halnya anak, bukanlah orang dewasa yang mini. Kebutuhan nutrisi bayi bersifat unik. Hubungan kita dengan makanan sejak dulu tidak pernah berubah. Maka memahami apa yang dimakan, salah satu cara bijak memberikan peluang bayi bertumbuh-kembang optimal. 

ASI Eksklusif diberikan sampai bayi berumur enam bulan. Setelah itu bayi mulai diperkenalkan makanan padat pertamanya. Tidak selamanya proses beralihnya dari minum ASI ke makanan padat berjalan mulus. Ada bayi yang langsung siap menelan apa saja yang disodorkan ke mulutnya. Bukan sedikit yang selalu menolak, dan hanya memilih puting susu ibu. Untuk itu jangan pernah ibu menyerah.

Kekeliruan yang acap terjadi, ibu putus asa ketika anak selalu menolak makanan padat pertamanya, lalu membiarkan anak hanya menerima ASI lebih banyak. Tanpa disadari keadaan ini merugikan anak karena dua hal. Pertama, tumbuh-kembang anak tak bakal optimal, karena untuk menjadi begitu, ASI saja tak cukup.

Kedua, anak tak kunjung belajar untuk memanfaatkan penjelajahan mulutnya memenuhi kodrat makannya. Bisa jadi berat badan idealnya tidak tercapai, dan sejumlah nutrien atau zat gizinya tidak sepenuhnya terpenuhi. Kekurangan zat besi (Fe), dan seng (Zn) lazim dialami bayi yang terlambat diberikan makanan padat.

Makanan padat bersifat lebih kompleks. Perlu proses pelatihan menelan, dari hanya menghisap menuju kemampuan mengunyah, memamah, dan kemudian menelan. Untuk itu koordinasi otot-otot rongga mulut perlu dibangun, termasuk otot lidah dan kerongkongan.

Kesulitan yang lazim timbul, karena tidak setiap anak siap untuk memulai makanan padat pertamanya. Maka bentuk menu perlu masih lembut pada awalnya, yakni bubur lembut, yang berangsur-angsur beralih ke nasi tim ketika umurnya sudah mencapai delapan bulan, untuk selanjutnya menu meja makan ayahbundanya setelah anak merayakan ulang tahun pertama.

Jangan pernah ada paksaan. Selalu ada kesabaran dan cinta ketika memperkenalkan anak pada makanan padat pertamanya. Ada suasana sejuk ketika perlu membujuk. Mungkin tidak cukup sekali, belum tentu selesai dalam seminggu. Tapi itulah proses yang harus dilalui.

Kalau proses awal itu sudah terlampaui, kini saatnya untuk membangun cita rasa baru, dan selalu baru dari hari ke sehari. Selalu perlu ada satu jenis menu baru pada suatu waktu. Kalau di awalnya hanya bubur lembut, harus tiba juga waktunya untuk biskuit, buah, dan telur. Variasi itu bisa menjadi lebih beragam setelah anak diperkenalkan pada nasi tim.

Dalam menu nasi tim, segala jenis ikan, daging, telur, tahu, tempe, serta sayur-mayur dapat ditambahkan. Semakin beragam, dan lengkap isi nasi timnya, semakin berkualitas menu yang akan memenuhi seluruh kebutuhan tubuh bayi. Sebut saja, sekurang-kurangnya lima-enam jenis sayur, ditambah dua-tiga jenis kacang-kacangan, satu-dua jenis umbi-umbian, selain sereal lainnya.

Hanya dengan begitu, kebutuhan nutrisi bayi akan terpenuhi setiap hari. Dengan demikian tidak ada bahan baku yang kekurangan pada masa bayi harus bertambah berat badannya menjadi tiga kali pada ulang tahun pertamanya.

Tak cukup berat badan yang memadai saja yang berarti kecukupan kalorinya terpenuhi. Terlebih perlu lengkap pula zat gizinya. Gemuk saja tapi kekurangan satu atau lebih zat gizi, sama tidak menyehatkan.

Tentu saja pemberian ASI perlu terus berlanjut. Bahkan kalau bisa selama ASI masih keluar, tak salah untuk terus diberikan. ASI pada masa ini bukan sebagai makanan utama, melainkan tambahan belaka. 

Tidak sedikit bayi yang memperoleh menu yang tidak seimbang sejak mendapatkan makanan padat pertamanya. Yang tubuh bayi butuhkan, sebagaimana halnya tubuh orang dewasa tentu jenis menu seimbang. Menu yang selain lengkap, sesuai pula proporsinya. Porsi terbesar diduduki karbohidrat, menyusul protein, dan terkecil lemak, selain vitamin dan mineral.

Jika menu bayi ditata dengan baik, kecukupan nutrisinya tentu terpenuhi. Bahaya timbul, apabila menu yang diberikan serba kurang lengkap. Kekurangan porsi, hanya menjadikan berat badan bayi yang di bawah rata-rata. Namun jika kekurangan zat gizi, mesin tubuhnya tidak lancar berputar. Pencernaannya tak sempurna bekerja. Ada yang pincang dalam kerja tubuhnya. Tumbuh-kembangnya tidak optimal. Pada kasus demikian suplemen dibutuhkan, khususnya mineral zat besi dan seng. ASI saja rendah kandungan zat besi dan sengnya. Demikian pula keperluan ekstra vitamin D-nya.

Tidak kurang pentingnya untuk mendisiplin anak dalam hal makan yang berjadwal. Maka biasakan makan pada waktunya. Dengan cara demikian selera makan anak akan terbentuk, dan mesin pencernaan sendiri terkondisikan untuk bekerja pada jam-jam yang sudah terjadwalkan. Alhasil, buah pencernaannya membangun tubuh lebih optimal. Bersamaan dengan itu, selalu ada jenis menu baru tiba di lidah anak.

Kekeliruan acap timbul, karena ibu terlampau cemas kalau anak tidak makan cukup banyak. Sesunguhnya tubuh anak diperlengkapi oleh sinyal kapan tubuh sudah merasa cukup makannya. Rasa kenyangnya biarkan terbentuk, agar kelak tidak menjadi rakus makan.

Maka jangan pernah memaksa anak untuk makan lebih banyak kalau tiba saatnya sudah mulai menolak. Anak akan menagih makan pada saatnya merasa lapar. Rasa lapar dan rasa kenyang yang secara alami mengatur pola makan anak. Dan itu terbentuk dari kedisiplinan makan yang selalu terjadwalkan.

Tahu bahwa bayi kita sudah mendapatkan kecukupan makan, dengan terus menyimak kenaikan berat badannya. Namun seperti sudah disebut, berat badan bertambah saja belum jaminan seluruh kebutuhan gizi tubuh anak terpenuhi. Maka perhatikan juga apakah tidak pucat (anemia), tidak ada gangguan pergerakan, atau muncul tanda kekurangan vitamin, seperti seriawan (kekurangan vitamin C dan B), rabun senja (kekurangan vitamin A), atau terhambat pertumbuhannya (kekurangan seng dan zat besi).

Sekali lagi, proses persiapan memasuki makanan padat memerlukan kesabaran dan kasih sayang. Bekal yang diperlukan setiap ibu agar anak mulus melalui masa kritis belajar makannya. Kegagalan anak dalam belajar makan, ikut menentukan kegiatan dan tabiat makannya di kemudian hari.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait