Manfaat Penugasan Bagi Anak-anak

Dari Raja Ke Asisten Kecil
Anak kita itu awalnya adalah raja bagi kita. Ini terjadi mungkin dari umur 1 – 7 tahun. Anak kita minta apa saja, asalkan masih bisa kita wujudkan, pasti akan kita penuhi. Secara psikologi, ungkapan itu memang tidak bertentangan. Menurut Erikson (1959), dengan menciptakan rasa aman dan rasa sayang, anak akan mengembangkan kepercayaan pada dirinya dan cinta (self-affection).

Setelah 7 tahun sampai menjelang usia belasan, posisi mereka berubah. Mereka tidak lagi menjadi raja. Kitalah raja bagi mereka. Kita suruh apapun, sejauh itu ringan, mereka akan menjalankannya dengan senang hati. Bahkan terkadang mereka menawarkan diri untuk dikasih pekerjaan atau tugas. Mereka adalah asisten kecil kita.

Secara psikologi, ini pun sudah sesuai. Pada usia ini, anak kita ingin mengembangkan kemandirian dan kebebasan berinisiatif. Jika mereka mendapatkan pola asuh yang memfasilitasi keinginan itu, mereka akan menjadi anak yang terampil.

Manfaat Penugasan
Baik secara teori dan prakteknya, memberikan penugasan atau pekerjaan kepada anak-anak yang usianya sudah sesuai, itu sangat positif. Misalnya saja si kakak kita beri tugas untuk merapikan CD yang sudah ditonton, lalu ke si adik kita beri tugas untuk merapikan mainannya, dan lain-lain.

Beberapa manfaat penugasan bagi anak dan orangtua itu antara lain: mempercepat kedewasaan berpikir, melatih kepatuhan, memperkuat kedekatan, menanamkan rasa tanggung jawab, memperkuat rasa bangga (self-pride) atau kepercayaan-diri dan harga-diri (self-esteem). Dengan kita memberi apresiasi berupa ucapan terima kasih, komentar positif atau hadiah yang spesial? Pasti rasa percaya dirinya akan terbangun.

Dan yang terakhir, penugasan itu, akan lebih baik bila dilakukan bersama orangtua, misalnya pada hari libur. Karena akan mengurangi waktunya di depan layar kaca. Seperti kita tahu, layar kaca itu memiliki peran ganda. Satu sisi mungkin membantu. Tapi, jika berlebihan, itu akan menimbulkan kejelekan. Di antaranya adalah kegemukan, susah tidur, pola pandang yang terlalu fanatik dengan kehidupan di televisi, dan lain-lain.

Tapi tentu saja, tujuan penugasan itu bukan hasilnya, melainkan yang perlu kita hargai adalah prosesnya. Karena itu, kita disarankan untuk menghargai jerih payahnya seberapapun hasilnya. Yang perlu kita hindari adalah memberikan komentar negatif, entah untuk tujuan menghina, meremehkan, atau hanya sekedar berkomentar. Karena komentar negatif bisa membangun konsep diri negatif.

Konsep diri terkait dengan motivasi, kepercayaan diri dan harga diri. Anak yang berlebihan mendapatkan komentar negatif akan kurang motivasinya untuk berinisiatif. Mereka juga akan dibayang-bayangi oleh kesalahan sehingga takut bertindak.

Hindari Bias Jender
Menghindari bias jender bukan berarti kita menyamakan seluruhnya tanpa memandang jenis kelamin (sex). Jika ini kita lakukan, bisa-bisa kita tidak membangun identitas jendernya. Padahal, membangun identitas jender itu sangat penting buat mereka supaya bisa berprilaku dan berkepribadian seperti kodratnya.

Riset di psikologi mengungkap bahwa identitas jender (prilaku dan kepribadian) itu lebih banyak ditentukan oleh pengaruh eksternal (orangtua, keluarga, dan seterusnya).

Jadi bagaimana pengertian menghindari bias jender itu? Pengertiannya adalah menghindari penciptaan stereotype yang menegatifkan, melemahkan, atau merendahkan mereka hanya berdasarkan jenis kelamin.

Intinya adalah menegakkan keadilan dalam penugasan. Adil di sini adalah menyamakan hal-hal yang memang tidak cocok dibedakan dan membedakan hal-hal yang tidak cocok untuk disamakan. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait