Mari mengarahkan kebiasaan Si Kecil

Anak-anak kita kini tumbuh-berkembang dengan dikelilingi perubahan yang katanya lebih dari empat kali lipat dibanding kita dulu. Hadirnya berbagai supermarket, mall, dan berbagai pusat mau tak mau akan mempengaruhi gaya hidup kita.

Kalau kita amati, berbagai pusat perbelanjaan itu kini tidak saja didesain sebagai tempat orang berbelanja kebutuhan rumah tangganya, tetapi juga didesain sebagai tempat hiburan, tempat pertemuan, dan lain-lain, sehingga sering disebut sebagai icon gaya hidup.

Bagi anak-anak yang proses pertumbuhan dan perkembangannya masih dini, hal ini bisa berdampak bagus atau sebaliknya, tergantung pada bagaimana kita mengarahkan kebiasaan mereka. Kenapa harus diarahkan?

Kita mungkin akan kesulitan menghentikan atau melarang kebiasaannya. Apa mungkin kita mengelakkan anak-anak kita dari gaya hidup mall, dari berbagai tayangan televisi yang kurang sesuai dengan umurnya?

Secara kenyataan, ini tidak mungkin. Karena itu, yang disarankan adalah mengarahkan kebiasaan yang ada supaya tetap dalam jalurnya atau berdasarkan tujuan positif yang ada. Misalnya saja ke mall. Kita bisa mengarahkan mereka untuk membangkitkan minat baca dengan mengunjungi toko buku atau sumber ilmu pengetahuan lain.

Dengan cara itu, kita tidak dipersepsikan sebagai orangtua yang mengekang anak secara tidak rasional dan, yang lebih penting lagi, visi dan misi kita untuk membangkitkan potensi positifnya tercapai dengan mulus. Ini bisa kita kembangkan ke hal-hal lain, misalnya mendidik mereka untuk mencintai makanan atau produk kesenian lokal yang ada di sana.

Intinya, kita perlu menjelaskan padanya melalui cara yang adaptatif, bukan konfrontatif. Sebab, secara psikologi, budaya itu nantinya akan ikut melemahkan kemampuan dalam menciptakan kebahagian-diri, dengan melemahnya proses berpikir kreatif, produktif dan peduli sesama.

Share artikel ini:

Artikel Terkait