Mari Menghormati Kehebatan Anak

Tangga (Eskalator) Sosial
Diakui atau tidak, sekolah sering dipandang sebagai tangga sosial. Seolah-olah sekolah adalah satu-satunya cara yang dapat menaikkan prestasi akademik dan status sosial anak. Pandangan ini tidak seluruhnya salah, tetapi juga tidak seluruhnya benar.

Yang salah adalah, menurut pakar learning, ketika kita meyakini pandangan di atas sebagai kebenaran ”mutlak” atau satu-satunya kebenaran. Kenapa? Ternyata ini berpengaruh pada pandangan, penyikapan dan perilaku orang tua terhadap anak. Si anak akan didefinisikan cerdas atau tidak cerdas, hebat atau terbelakang, berdasarkan standar akademik.

Padahal, standar akademik itu barulah salah satu dari sekian ukuran yang bisa dipakai untuk mendefinisikan seorang anak.

Menurut Habib Chirzin, nara sumber PBB untuk pendidikan di Indonesia, jika orang tua hanya melihat kapasitas anak dari nilai akademiknya, itu artinya telah mengurangi atau ”melecehkan” kehebatan anak. Kemampuan sekolah untuk mengeluarkan kapasitas anak sepenuhnya itu sangat terbatas. Karena itu, orang tua perlu mengambil peranan dalam meneruskan atau mengungkap kapasitas lain yang belum terjamah.

Definisi Kesuksesan
Bentuk lain dari praktek merendahkan kehebatan anak yang dilakukan orang tua adalah sempitnya definisi sukses yang dianut orang tua atau lingkungan sosial. Jika kesuksesan itu dipahami sebatas prestasi material dengan berbagai simbolnya, maka pandangan orang tua terhadap kehebatan anak pun akan semakin menyempit pada simbol yang terkait dengan prestasi material itu. Misalnya, anak yang hebat adalah yang jadi juara kelas.

Hasil riset yang dikutip Teresa Orange dan Louise O’Flynn (2007), menunjukkan bahwa dengan maraknya tayangan televisi yang menampilkan kehebatan anak di tarik suara lalu diangkat sebagai idol oleh orang dewasa di sekitarnya, lebih-lebih keluarga, ternyata membuat si anak tidak bangga dengan prestasinya di bidang lain. Padahal, kebanggaan itu terkait dengan motivasi dan afeksi (kebahagiaan diri).

Untuk itu, orang tua perlu memperluas definisi kesuksesan yang mencerahkan si anak. Seperti apa? Definisi kesuksesan yang pasti diterima oleh nilai kearifan seluruh dunia adalah ketika si anak terus mengembangkan berbagai potensinya, untuk meraih prestasi, sesuai keadaannya, namun dengan cara-cara yang tidak melanggar nilai.

Soal itu nanti dipakai di bidang apa, ini kembali pada proses dan pilihan. Intinya, jangan sampai si anak tidak bahagia dengan dirinya atau rendah motivasi berprestasinya gara-gara definisi kesuksesan yang kita terapkan ke dia sangat sempit dan penuh kepentingan orang dewasa yang subyektif.

Dasar Pengembangan Potensi
Teknik mengembangkan potensi anak itu banyak dan bisa dipilih sesuai keadaan. Tetapi dasar-dasarnya sedikit dan itu bisa dilakukan oleh semua orang. Di antara dasar yang penting itu antara lain:

  1. Peduli. Keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak, misalnya mendampingi anak mengerjakan PR, menanyakan kondisi anak, atau mengajar anak, ternyata sangat bagus bagi kemajuan mentalnya.
  2. Mengubah pandangan. Setiap anak, kata Aristotle, memiliki kelebihan. Tapi, seringkali orangtua hanya mengetahui kekurangannya, sehingga kerap melontarkan pandangan dan komentar negatif yang menjatuhkan. Karena itu, mari kita mulai dari mengubah pandangan, penyikapan, dan perlakuan.
  3. Memunculkan dorongan berbasis keunggulan individu. Perlu mengurangi praktek membandingkan anak dengan anak lain, sekalipun saudara. Perlu juga mengurangi berbagai dorongan karena motif tersembunyi orang tua yang bertentangan dengan potensi anak.
  4. Koreksi yang membangun. Anak yang nilainya turun di bidang tertentu, bisa jadi karena metode guru, pribadi guru, lingkungan, stimuli orang tua, dan lain-lain. Karena itu, perlu menghindari penghakiman yang langsung hitam-putih. Yang diperlukan adalah koreksi dengan cara yang membangun untuk bisa lebih maju.
  5. Pembiasaan hal-hal positif. Kemampuan anak untuk mendisiplinkan dirinya itu belum permanen, karenanya butuh bantuan dan bimbingan orang tua secara friendly, fair, dan terus menerus.
Meski semua orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang terhormat, tapi terkadang masih ada pandangan, penyikapan dan perlakuan yang kurang menghormati mereka. Tentu ini bertentangan dengan logika alam. Karena itu, perlu ada koreksi terus-menerus. Semoga bisa kita jalankan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait