Melatih Anak Agar Berjiwa Penyayang

Orangtua mana yang tenang bila melihat si kecil kerap menampilkan ucapan, sikap atau perilaku yang kurang penyayang, katakanlah sering agresif (kasar) atau kurang peduli.

Jika ditelusuri, sifat kurang penyayang pada diri anak itu bisa muncul dari dirinya sendiri atau dari pengaruh lingkungan, misalnya tayangan media atau teman. Meski begitu, selama anak itu belum mencapai usia dewasa, maka menjadi tanggung jawab kita untuk melatihnya menjadi penyayang.

Beberapa bentuk latihan itu antara lain:

  • Mencontoh model. Siapa yang harus dicontoh dan siapa yang harus jadi modelnya? Tentu jawabanya adalah kita atau orang dewasa di dalam rumah. Kita perlu menjadi penyayang, misalnya menyayangi bonekanya, adik, kakak, dan seterusnya.
  • Menyayangi dia. Memberikan ucapan yang baik, sikap yang bersahabat atau reaksi yang bijak terhadap apa yang sedang dilakukannya menjadi penting untuk melatih jiwanya. 
  • Mengkomunikasikan pentingnya menjadi orang yang penyayang baik terhadap benda hidup (bergerak) maupun benda mati (tidak bergerak), semisal bonekanya atau mainannya.
  • Mengajak anak untuk memikirkan konsekuensi tindakannya terhadap orang lain atau konsekuensi tindakan orang lain bagi dirinya lalu mendorong dia mengambil pelajaran penting dari tindakan itu. Jika suasana hatinya sedang OK, anak kecil biasanya sangat cerdas untuk diajak diskusi tentang ini
  • Memberi kesempatan untuk mengekspresikan kasih sayangnya kepada orang lain, misalnya menjenguk keluarga yang sedang punya bayi, memberi sesuatu kepada anak tetangga, dan lain-lain.

Yang terkadang lebih sulit dari melatih anak adalah melatih jiwa kita. Kita lebih sering punya harapan yang kurang sehat terhadap dinamika anak. Maunya kita, anak itu begitu kita ajari ini dan itu, dia langsung mengikuti kita. Jika keajaiban itu tidak terjadi secara langsung, kita lantas kehilangan kesabaran.

Agar kesabaran itu tidak cepat hilang, butuh latihan. Caranya adalah dengan tetap mengajarkan anak supaya menjadi penyayang walaupun kita tahu sudah akan pasti ada dinamika  yang di luar planning.

Semoga bisa kita jalankan.

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait