Melatih Anak Agar Lebih Ekspresif

Siapa yang tidak ingin punya anak yang ekspresif? Pada umumnya kita menginginkan itu. Ekspresif di sini dalam arti anak memiliki kelihaian mengungkapkan perasaan, pikiran, dan isi hatinya.

Di luar faktor keturunan, karakteristik personal atau pengaruh lingkungan, yang sangat perlu kita lakukan untuk membuat anak menjadi ekspresif adalah melatihnya dan memfasilitasi perkembangannya.

Ada banyak hal positif dari anak yang dilatih ke-ekspresif-annya. Antara lain, komunikasinya menjadi bagus. Untuk jangka panjang, menurut riset di SDM, kemampuan komunikasi ini punya kontribusi besar dalam kesuksesan karier atau profesi.

Anak juga relatif terhindar dari frustrasi yang disebabkan oleh ketidakmampuan dalam mengungkapkan keinginan. Banyak anak yang ngambeknya berlebihan karena tidak terampil untuk mengungkapkan perasaannya.

Di samping itu, untuk kita sebagai orangtua, kita menjadi lebih cepat tahu persoalan yang dihadapi si anak. Misalnya, dia menjadi korban bullying atau diperlakukan secara tidak fair oleh orang.

Bagaimana cara melatih dan memfasilitasinya? Latihan yang diperlukan antara lain:

  • Memberi kebebasan untuk mengekspresikan dirinya (dalam berbagai bentuk dan cara), namun tetap memberi pengarahan yang mendorong dia menjadi lebih baik.
  • Ketika dia ngambek atau marah, usahakan jangan menyerangnya untuk mengalahkan, tapi fasilitasi dia untuk mengungkapkan isi pikiran, perasaan, atau hatinya.
  • Menciptakan suasana yang mendorong semangatnya untuk mengekspresikan dirinya, misalnya menjawab pertanyaan, dialog, mendengarkan curhat-nya, dan lain-lain.
  • Menghindari ucapan, sikap, dan tindakan yang memotong kreatifitasnya atau yang tidak mendukung, misalnya sikap kita yang acuh tak acuh atau dingin-dingin saja terhadap ungkapan isi hatinya.
  • Mengindari kritik atau serangan yang membuat anak tidak pede untuk menjadi dirinya sendiri, misalnya kita koreksi habis cara dia berpakaian atau lainnya.
  • Memfasilitasi berbagai rangsangan atau dukungan, misalnya bacaan yang bagus, latihan menulis, gizi dan nutrisi yang bagus, atau tayangan yang mendidik.

Semua latihan di atas itu baru akan jalan dengan baik apabila pola asuh yang kita terapkan lebih sering ke yang otoritatif. Maksudnya, kita tetap memberi dia kebebasan untuk mengekspresikan diri dan tetap memberi dia pengarahan, alias tidak terlalu dikekang tapi juga tidak terlalu dibebaskan.

Meski semua ini sangat mudah untuk kita ketahui, tapi dipastikan tidak mudah untuk kita jalani. Karenanya, kita pun butuh latihan yang serius.

Semoga bisa kita jalankan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait