Melatih Pengendalian Diri

Umumnya, kita kurang melatih si Kecil untuk belajar mengendalikan diri. Padahal, ini adalah tugas pengasuhan yang paling mendasar. Buktinya, ketika menemukan si Kecil marah, ngambek atau kesal karena berbagai alasan, apa yang biasa kita lakukan?

Yang biasa terjadi, kita memarahi dia karena dia ngambek atau melarang dia marah karena marah itu jelek. Walaupun tujuannya pasti baik, tapi secara proses pendidikan, cara demikian seringkali kurang memfasilitasi anak untuk melatih dirinya.

Ketika kita sedang marah, lalu marahnya itu dilarang, apa iya marahnya lantas hilang? Marahnya mungkin berhenti, tapi untuk bisa hilang, ini susah. Kajian psikologi menyimpulkan bahwa perasaan itu susah dihilangkan. Karena itu, yang diperlukan adalah mengelolanya.
 
Kemudian, bila selama ini kita menyimpulkan bahwa marah itu jelek, apa benar begitu?  Semua yang diciptakan Tuhan untuk ada atau untuk terjadi itu pasti ada gunanya.

Marah tanpa alasan yang jelas, tentu ini jelek. Tapi, marah karena ada perilaku orang lain yang jelas-jelas merugikan, dan marahnya kita dengan cara yang berwibawa, apa bisa dibilang jelek?  Tentu tidak.

Jadi, yang perlu kita lakukan terhadap putra-putri kita adalah melatih dia bagaimana mengontrol diri emosinya, bukan melarangnya atau menyuruh membuangnya, kecuali untuk keadaan yang sangat spesifik dan temporer.

Cara-cara yang bisa kita lakukan antara lain:

  • Kendalikan diri. Ketika anak marah, usahakan jangan juga ikut marah. Kalau pun harus marah, jangan pakai emosi. Lakukan itu hanya sebagai strategi saja.
  • Tunjukkan empati. Bila keadaan masih terkendali, ajak dia di kamar, tanyalah apa sebabnya lalu kita coba dengarkan dan menawarkan  solusi dengan empati
  • Jika permintaannya tidak rasional, tetap kita tawarkan solusi yang rasional. Selama belum bisa menerima kenyataan, perlu juga kita kasih kesempatan untuk “melakoni” proses, misalnya membiarkan dia menangis atau ngambek.
  • Usahakan menghindari banyak menyerang atau memperumit permasalahan. Fokus pada mengomentari tindakannya saja. Menghemat kata akan jauh lebih dibutuhkan.

Ketika situasi sudah mencair, bukalah diskusi ringan dengan dia sampai kita bisa membantunya dengan contoh, pengetahuan, pengalaman, nasehat, dan lain-lain yan intinya adalah mengelola diri.

Akan lebih bagus jika kita menggunakan standar yang terukur. Misalnya, jika selama ini dia marahnya banting pintu dengan sangat kencang, lalu kita sarankan agar dikurangi. Ketika itu berhasil, perlu kita kasih reward atas kompetensinya.

Meski dalam prakteknya pasti tidak selinier yang ada di tulisan ini, tapi tujuan kita untuk melatih pengendalian diri itu haruslah kita capai. Bila belum seluruhnya, ya sebagiannya. Bagi si Kecil, pengendalian diri adalah faktor kunci kesuksesan
 
Semoga bermanfaat.


* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait