Memahami Perilaku Bersaing Pada Anak Balita

“Mengapa anakku suka sekali bersaing?”,
“Bagaimana seharusnya orangtua menghadapinya?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas adalah beberapa contoh pertanyaan yang seringkali dilontarkan orangtua ketika menghadapi anaknya yang suka sekali bersaing dalam berbagai hal, seperti bersaing untuk mengalahkan kepandaian yang dimiliki teman atau saudaranya, bersaing untuk menjadi yang paling cepat, paling cantik, paling berani, paling terampil, dsb. Perilaku bersaing yang ditunjukkan anak-anak seperti di atas, tak jarang akhirnya berujung pada hal-hal negatif seperti timbulnya permusuhan, perkelahian, sikap tidak mau kalah serta sikap iri terhadap kelebihan orang lain.

Adanya hal-hal negatif tersebut, seringkali membuat orangtua mempersepsikan perilaku bersaing sebagai sesuatu yang buruk. Sehingga tak jarang orangtua yang kurang paham terhadap hal ini, akan bersikap kurang bijaksana terhadap anak, seperti melarang atau memarahi anak setiap kali ia menunjukkan sikap bersaing. Padahal sikap orangtua yang seperti ini, akan menimbulkan dampak buruk pada anak seperti membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengenali dirinya sendiri, kehilangan daya juang dan kesempatan berlatih untuk menjadi pribadi yang tangguh, mandiri dan percaya diri.

Untuk menghindarinya sebaiknya orangtua memahami lebih dalam mengenai adanya prilaku bersaing, khususnya yang terjadi pada anak balita dimana prilaku ini mulai terlihat. Sehingga dengan pemahaman ini diharapkan orangtua dapat memperlakukan anaknya dengan lebih bijaksana.

Setiap manusia sebenarnya memiliki naluri untuk bersaing. Namun baru pada usia balita, biasanya naluri bersaing ini mulai terlihat. Hal ini terjadi karena pada masa ini, dalam diri anak mulai tumbuh keinginan untuk mengenali diri, anak melakukan proses membandingkan dengan orang lain. Dalam proses membandingkan inilah, biasanya prilaku bersaing anak akan muncul. Anak akan mencoba untuk menunjukkan kemampuannya dalam situasi persaingan agar ia dapat mengukur seberapa besar kemampuan yang dimilikinya dibandingkan anak-anak lain. Sekalipun aktivitas bersaing yang dilakukan anak masih cenderung mengarah pada aktivitas bermain atau sesuatu yang tidak terlalu serius seperti layaknya orang dewasa bersaing, namun hal ini sangat bermanfaat bagi anak dalam membangun konsep diri yang realistis berupa gambaran apakah dirinya memiliki kemampuan yang sama, di bawah rata-rata ataukah di atas rata-rata kemampuan teman-temannya.

Melalui aktivitas bersaing, anak juga bisa membuktikan bahwa dirinya mampu menentukan sendiri atau berbuat sesuatu agar ia diakui keberadaannya, dimana hal ini sangat penting untuk membangun egonya. Selain itu melalui kesempatan bersaing, anak juga bisa memperoleh pengalaman gagal atau berhasil, yang bisa membuatnya lebih matang dan percaya diri. Untuk dapat memperoleh manfaat yang optimal dari adanya aktivitas bersaing, diperlukan peran orangtua, terutama dalam hal membangun kemampuan anak untuk dapat menerima diri apa adanya, mengakui kelebihan orang lain serta mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang dialaminya agar dapat mendorong peningkatan kemampuannya di kemudian hari.

Beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk memberikan manfaat yang optimal dari adanya aktivitas bersaing anak adalah sbb:

  1. Memberi kesempatan pada anak untuk bersaing dengan menggunakan kemampuannya sendiri. Berikan semangat dan biarkan anak yang berusaha sendiri dan merasakan kemungkinan gagal atau berhasil. Tanamkan pada diri anak pentingnya sikap berani mengakui kekalahan dan rendah hati bila memenangkan persaingan.
  2. Ajari anak untuk memperhatikan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar dalam kegiatan bersaing, seperti tidak boleh menyakiti teman, berbuat curang atau bersifat tidak setiakawan dalam berusaha mencapai kemenangan. Berikan pengertian dan contoh-contoh pada anak bahwa dalam kehidupan nyata, seseorang tidak hanya membutuhkan persaingan tetapi juga butuh kerjasama dan sikap saling menghargai.
  3. Hargai usaha anak sekalipun ia gagal memenangkan persaingan. Tekankan bahwa proses atau usaha maksimal yang telah dilakukan anak lebih penting ketimbang hasil akhir.
  4. Tunjukkan pada anak bahwa orangtua tidak menuntut anak selalu menjadi nomor satu, hal ini dimaksudkan agar anak tidak tumbuh menjadi seorang yang selalu ingin menang sendiri, tidak pernah puas dan menjadi anak yang terlalu terobsesi terhadap keberhasilan yang dapat membuatnya frustrasi bila suatu saat mengalami kegagalan.
  5. Jadikan situasi persaingan sebagai suatu hal yang harus dihadapi, bukan suatu hal yang harus dihindari. Yang penting, bekali anak dengan pengetahuan dan tanamkan kepercayaan dirinya bahwa selama ia mau belajar dan berusaha, ia pasti akan mampu menghadapi kerasnya persaingan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait